Ahmad Abdul Haq


Dari Menteng Bawah ke Gedung Putih

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 26 Januari 2009 23:01 WIBDari Menteng Bawah ke Gedung Putih

Dari Menteng Bawah ke Gedung Putih Mungkin sudah banyak tulisan soal Barack Obama. Namun sayang rasanya kalau saya tidak menulis hal ini. Soalnya saya sendiri sempat merasa Obama hidup mewah di Menteng semasa kecilnya dan itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Coba baca kutipan yang diambil dari buku keduanya yang berjudul Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Obama mengisahkan masa kecilnya yang tidak gemerlap. Berikut kutipannya:

“Keluarga kami belum berkecukupan pada tahun-tahun awal itu, angkatan bersenjata Indonesia tidak membayar para letnannya dengan gaji besar. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana di pinggiran kota, tanpa pendingin udara, kulkas, atau toilet siram. Kami tidak mempunyai mobil – ayah tiri saya mengendarai sebuah sepeda motor, sementara ibu saya naik bus umum lokal setiap hari ke kedutaan AS, tempatnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Tak punya uang untuk bersekolah di sekolah internasional yang biasa dimasuki oleh anak-anak ekspatriat, saya bersekolah di sekolah Indonesia lokal dan bergaul dengan anak-anak petani, pelayan, penjahit dan juru tulis.”

Mungkin kita sering kecewa dengan keadaan. Mungkin kita sering kecewa dengan keterbatasan yang ada. Obama menambah lagi contoh mereka yang sukses dengan berbagai keterbatasan yang ada. Malah mungkin berbagai pengalamannya tersebut yang membuat dirinya lebih punya jiwa survive yang kuat. Tahun 2000, ia bahkan tidak bisa masuk ke dalam convention partai Demokrat sehingga hanya menonton dari tv di luar gedung tempat acara berlangsung. Empat tahun kemudian Obama berhasil dipilih untuk memberi keynote speech di convention saat pencalonan John Kerry dan empat tahun berikutnya malah Obama yang terpilih menjadi Calon Presiden dari partai Demokrat. Obama bahkan akhirnya bisa menjadi Presiden Amerika pertama yang keturunan Afrika.

Saya masih ingat dengan keynote speech Mochtar Riady, salah satu bankir kenamaan Indonesia yang berasal dari keluarga miskin. Orang tuanya tidak ingin anaknya bermimpi, “Kamu ini orang miskin, bagaimana kamu mau jadi bankir? Bankir itu pekerjaan orang kaya untuk mengurus uang orang kaya lainnya” begitulah kurang lebih statementnya. Mochtar Riady akhirnya berhasil menunjukkan bahwa bisnis perbankan bukan masalah kaya miskin tapi masalah trust. Yup, perbankan adalah bisnis kepercayaan.

Masih banyak kisah perjuangan orang sukses yang berasal dari keluarga menengah ataupun miskin. Jadi jangan pernah menyerah pada keadaan, apalagi menyalahkan keadaan. Saya sendiri tidak diterima Universitas Indonesia untuk jurusan Komunikasi Massa, ingin kuliah Mass Communication di luar negri juga gagal karena tidak ada biaya. Namun belum tentu saya bisa seperti sekarang kalau saya hanya marah-marah pada keadaan atau pada orang tua. Jalani hidup secara maksimal. Be creative.

Kalau kita pelajari sejarah hidup para tokoh sukses, rata-rata mereka kreatif dalam menjalankan hidup. Orang kreatif selalu melihat kesulitan sebagai opportunity. So, jangan pernah menyerah dengan keadaan.

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy