Ahmad Abdul Haq


Oleh-oleh dari Wina

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Minggu, 18 April 2010 15:06 WIBOleh-oleh dari Wina

Oleh-oleh dari Wina Setelah ketinggalan pesawat, cerita saya ke Wina belum selesai. Sidang-sidang yang kita hadiri selalu memberikan insights tersendiri. Dari pandangan dan pernyataan berbagai negara, ada hal-hal yang selalu disebut dan muncul ke permukaan. Hampir semua negara anggota PBB menyetujui tentang perlunya “pendekatan yang seimbang” antara demand reduction dan supply reduction. Upaya mereduksi demand dan supply harus mencakup 2 aktivitas di bidang keamanan masyarakat (public security), kesehatan masyarakat (public health). Hal baru yang mulai hangat diangkat adalah bidang pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Di sini dibicarakan aktivitas-aktivitas mulai dari membangun pengertian dan kepedulian (awareness) sampai kepada pembangunan ekonomi. Kemiskinan memang masih menjadi momok yang menyebabkan berbagai kegiatan ilegal terjadi, termasuk perdagangan narkoba.

Tapi yang lebih menarik dari persidangan-persidangan tersebut sebenarnya adalah pesan kental yang disampaikan oleh Dr. Gilberto Gerra (Chief of Health and Human Development Section UNODC). Beliau pernah datang ke Indonesia tahun lalu dan memaparkan risetnya. Riset tersebut baru diterbitkan di sebuah jurnal Neuroscience and Biobehavioral Reviews di Eropa (2007). Saya masih ingat begitu menggebu-gebunya beliau ketika berbicara soal pencegahan narkoba. “Tidak ada yang dapat menandingi kontribusi orangtua dalam mencegah anak-anaknya dari narkoba, ” lebih jauh Gerra berkomentar, “…jika ada anak yang jatuh ke dalam jerat narkoba, sudah pasti kontribusi terbesar adalah kelalaian orangtua dalam mengasuh anak”.

Dalam bab pembukaan, Gerra menggarisbawahi buruknya hubungan dan komunikasi orangtua-anak serta kurangnya perhatian orangtua sebagai faktor terbesar yang meningkatkan kerentanan dan risiko anak bereksperimen dengan narkoba. Pola asuh demikian ditambah dengan stres dari lingkungan dan faktor kepribadian anak (yang cenderung anti sosial dan depresif) memperburuk situasi. Kepribadian demikian mencetuskan ketidakseimbangan pada kesehatan mental anak, sehingga anak rentan terhadap keinginan untuk mencoba-coba bahan adiktif, termasuk rokok dan alkohol. Dan mulai dari dua hal tersebut, “karier” anakpun biasanya meningkat ke coba-coba narkoba.

Saya rasa kita semua sering mendengar pernyataan bahwa “hampir semua pecandu narkoba adalah juga perokok”. Dalam studi ini Gerra menemukan bahwa hampir semua pecandu memang orang yang depresif, anti-sosial, mudah cemas dan hiperaktif. Banyak ahli neurobiologi setuju dengan hasil riset Gerra. Lebih jauh dalam studi ini ditemukan bahwa respon anak terhadap stres yang dialaminya sejak bayi berdampak pada kesehatan mental anak tersebut.

Stres yang dimaksud adalah kurang perhatian atau pengabaian (neglect) orangtua. Semakin sering anak diabaikan, semakin tinggi kadar hormon (ACTH dan kortisol) yang akan dikeluarkan ke dalam sistem tubuhnya. Kadar hormon yang tinggi ini akan terus menerus membentuk “profil hormon” anak tersebut. Pada anak, persistensi seperti ini dapat mengubah atau menghambat pertumbuhan otaknya sejak dini.

Otak yang tidak berkembang optimal menyebabkan kecenderungan depresi pada anak. Hal ini yang membuat anak memiliki kerentanan tinggi ketika terpapar bahan adiktif. Seakan-akan dia langsung “menyukai” bahan adiktif tersebut. Inilah yang menjawab pertanyaan mengapa ada orang yang sekali mencoba narkoba langsung terjerat, sementara ada pula yang masih dapat mengelak. Pola asuh masa kecilnyalah yang diuji ketika bahan adiktif masuk ke dalam tubuh anak!

Ada satu kalimat Gerra yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya. Katanya, “The act of taking the drugs is voluntarily, it is one’s free choice. But the effect of drugs to our body is involuntarily.” Tindakan mengkonsumi narkoba adalah pilihan bebas seseorang, namun ketika narkoba itu masuk ke dalam sistem tubuh, pilihan itu menjadi “tidak bebas”. Ini artinya kita semua tidak tahu apa dan bagaimana tubuh kita akan berespon terhadap zat tersebut. Kitapun tidak punya kuasa untuk menentukan efek baik/buruk yang dibawanya. Ini yang membuat kita terpaksa harus tunduk pada hukum alam.

Pilihan bebas menghasilkan dampak yang tidak bebas, tidak bisa kita kendalikan. Menurut saya, disinilah batas dari pilihan yang bertanggung jawab, yang perlu untuk selalu ditanamkan pada anak-anak kita.

Sebagai orangtua, saya yakin kita dapat mengendalikan pola asuh yang kondusif untuk mencegah anak jatuh ke dalam narkoba. Hal-hal sederhana seperti makan malam bersama lima kali dalam seminggu, menurut penelitian National Institute of Drug Abuse Amerika (NIDA, 2002) dapat menurunkan risiko anak bereksperimen dengan narkoba sampai dengan 50%.

Intinya, perhatian sejak dini, komunikasi yang baik dan kepedulian terhadap perkembangan dan hidup anak adalah kunci untuk membuat anak kita tumbuh sehat, jasmani dan rohani. Bukan saja mereka akan sanggup melawan godaan narkoba, saya yakin merekapun akan mampu mengatasi godaan yang lain termasuk rokok, alkohol dan seks bebas. Kata orang : kalau sayang anak, buktikan! (VC/0410)


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy