Ahmad Abdul Haq


GUPPI

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Rabu, 04 Agustus 2010 08:47 WIBGUPPI

GUPPI Dalam ingatan Edu, kenangan soal GUPPI selalu asosiatif dengan Ayah dan Pak Marwan Saridjo. Ketika kecil di sekitar tahun 1975-an, setiap hari Jum’at, Edu selalu menunggu ayahnya yang pegawai kecilan di Kandepag pulang dan membawa majalah Media Pembinaan terbitan Kantor Departemen Agama Jawa Barat. Di salah satu kolom majalah tersebut, selalu ada cerita tentang ragam dan ranah lembaga pendidikan Islam yang bernaung di bawah organisasi GUPPI. Karena buku bacaan dan majalah waktu itu masih terbilang langka dan mahal, maka membaca Majalah Media Pembinaan adalah upaya Ayahnya agar Edu punya ikatan kuat dengan tradisi pendidikan Islam, selain tentu saja bersekolah di madrasah.

Setelah lama tak lagi mendengar istilah GUPPI, kurang lebih 2 tahun lalu tiba-tiba Edu mendapat undangan dari Pak Marwan Saridjo, mantan Sekjen Departemen Agama, untuk menghadiri diskusi buku biografi beliau. Penggagas acara tersebut adalah GUPPI, yang kebetulan Ketua Umumnya saat ini dijabat oleh Pak Marwan Saridjo. Sejak itulah keterlibatan dengan GUPPI seakan kembali, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Jika dulu mengenal GUPPI melalui bacaan, maka sekarang –- karena diajak Pak Marwan -– keterlibatan dengan GUPPI dilakukan melalui kegiatan dan pemikiran.

Bagi tradisi pendidikan Islam, nama organisasi GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam) yang didirikan Tahun 1952 adalah identik dengan kumpulan ulama dan tokoh Islam yang peduli dengan usaha perbaikan pendidikan Islam. Identifikasi terhadap usaha perbaikan sejalan dengan kondisi pendidikan Islam yang saat itu pertumbuhannya sangatmenyedihkan; rendah secara kualitas maupun kuantitas. Namun sayangnya tak ada rekaman atau data yang secara sahih menggambarkan ragam usaha perbaikan yang telah dilakukan oleh GUPPI.

Di awal tahun 1970-an GUPPI digunakan oleh GOLKAR sebagai organisasi sayap untuk menjaring suara pemilih. Dalam kenangan Pak Marwan, GUPPI bukan sekadar menjadi organisasi sayap, tetapi menjadi garda terdepan dalam menjaring suara melalui para kiai dari pesantren dan madrasah binaan GUPPI.

Sebagai kompensasi atas keterlibatannya dalam politik praktis itu, banyak kiai dan tokoh Islam yang menjadi fungsionaris GUPPI menjadi anggota DPR dan DPRD. "Bukan itu saja, pada waktu itu dana pun mengalir untuk membangun dan merehab gedung-gedung madrasah dan pesantren yang menjadi binaan GUPPI." (Marwan Saridjo: 2009).

Namun, setelah era reformasi, sejalan dengan perkembangan situasi politik, hasil Muktamar Vll memutuskan GUPPI kembali ke khitahnya semula; memusatkan perhatian di bidang pendidikan dan tidak lagi aktif dalam politik praktis. Karena itulah kemudian GUPPI berganti julukan menjadi Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam, sebagai salah satu cara untuk mendewasakan organisasi ini agar diminati dan diakui kembali eksistensinya, terutama di dalam mewacanakan upaya-upaya pembaruan pendidikan Islam ke arah yang lebih baik.

Jika di masa lalu GUPPI selalu memiliki kemeriahan seremonial setiap kali memperingati peristiwa penting yang berkaitan dengan pendidikan Islam, maka GUPPI yang sekarang terlihat lebih sederhana karena banyak agenda yang sering dilaksanakannya adalah berupa seminar dan diskusi di sekitar isu-isu pendidikan Islam. Baru-baru ini GUPPI bekerjasama dengan salah satu penerbit berinisiatif menerbitkan buku Mereka Bicara Pendidikan Islam: Sebuah Bunga Rampai. Terlihat ada energi positif dan baharu dari para penulis yang concern terhadap situasi dan kondisi pendidikan Islam dewasa ini. Tokoh-tokoh ternama seperti Prof. Malik Fadjar, Prof. Komaruddin Hidayat dan Prof. Azyumardi Azra ikut menyumbangkan pikirannya dalam buku tersebut.

GUPPI nampaknya ingin menghidupkan kembali wisdom yang telah diwariskan para ulama terdahulu berupa tradisi yang baik (al-muhafazah ’ala al-qadim al-salih), dengan upayanya untuk mempertahankan tradisi (pendidikan) Islam yang baik. Tetapi menurut hemat Edu mempertahankan tradisi yang baik saja belumlah cukup tanpa ada kemampuan menganalisis kondisi aktual saat ini. Tradisi yang baik tetapi beku tentu bukan merupakan solusi yang menjanjikan bagi masa depan pendidikan islam. Diperlukan keberanian dan terobosan yang inovatif GUPPI, semacam keberanian untuk keluar dari ”tradisi” yang seolah-olah tak bisa ditafsirkan kembali ke dalam konteks kekinian. Itulah sebabnya mengapa penerjemahan tradisi (pendidikan) Islam ke arah dan agar menjadi sesuatu yang baharu dan memberi harapan (al-akhdz bi al-jadid al-aslah) sangat diperlukan, termasuk dari para tokoh GUPPI.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy