Ahmad Abdul Haq


Thingking Skills

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Selasa, 10 Agustus 2010 08:48 WIBThingking Skills

Thingking Skills Seorang teman guru di Kupang mengeluh tentang kemampuan teman-temannya dalam membuat lesson design. Dari 16 orang guru, hanya 3 orang yang memiliki kemampuan standar membuat lesson design, sedangkan 13 lainnya tak pernah membuat. Teman guru lainnya di Calang, Aceh Jaya, juga mengeluhkan hal yang sama, yaitu betapa sulitnya guru dalam merancang lesson design, hingga beberapa kepala sekolah di sana hanya meng-copy paste lesson design sejak jaman orde baru hingga sekarang hanya dengan mengubah nama guru dan sekolahnya saja.

Di awal berdirinya sekolah sukma bangsa, kesulitan yang sama juga dirasakan oleh hampir semua guru baru. Namun secara perlahan dan pasti, kemampuan guru dalam membuat lesson design yang efektif dan mengenai target sasaran pembelajaran mulai terlihat. Dari format lesson design yang sederhana hingga yang rumit sekalipun para guru sudah terbiasa untuk melakoninya. Keterampilan dan kemampuan mereka dalam menyusun rencana pembelajaran terus berkembang seiring dengan meningkatkan thinking skills yang ditempa oleh pelatihan dan best-practice yang terus disupervisi secara ketat.

Jika ditanya kesulitan apa yang dialami guru ketika menyusun sebuah lesson design/plan? Dari perspektif parameter pengajaran, studi Saphier dalam the parameters of teaching (1980) menunjukkan bahwa sekitar 80% guru mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan pembelajaran (learning objectives). Ada banyak cara untuk menentukan tujuan pembelajaran, tetapi karena tradisi copy paste di lingkungan pendidikan kita begitu tinggi, maka keterampilan guru tak berkembang kecuali hanya sekedar mencoba memahami tujuan pembelajaran dari buku-buku teks yang tersedia. Hal semacam ini tampaknya kurang mendapat perhatian dari para pengawas pendidikan kita.

Dalam pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas guru, selalu diterangkan tentang paradigma pendidikan baru yang berorientasi kepada siswa (student center). Tujuan pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan siswa, tetapi dalam realisasinya kebanyakan guru malah terjebak pada orientasi tujuan pembelajaran sesaat karena tak didukung oleh thinking skills yang memadai. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Banyak sekali, ketika menentukan tujuan pembelajaran, guru terjebak pada katagori dan orientasi yang salah dalam menuliskan dan mengimplementasikan tujuan pembelajaran. Sebagian guru terobsesi untuk selalu mencoba mengatasi dan menyampaikan semua gagasan dan pengetahuan yang mereka miliki. Tipologi ini disebut sebagai coverage thinkers; bertumpu pada materi, mengutamakan ceramah, dan sangat kurang peduli dengan pemahaman siswa. Rumusan pertanyaan guru tipe ini biasanya adalah ”what knowledge, skill, or concept am I teaching?

Tipe kedua adalah activity thinkers, yaitu guru yang cenderung mengandalkan serangkaian aktivitas sehingga membuat siswa mereka terlihat sibuk dan kebanyakan bekerja secara berkelompok. Tidak ada yang salah dengan katagori ini, hanya saja fokus guru terlalu terpusat pada assigment dan penyelesaian masalah yang bersifat sementara tanpa mengikuti prosedur yang sistematik dan menuntun logika siswa bekerja. Proses belajar bermula dari asumsi tentang ”what activities could students do to gain understanding or to develop these skills?”

Guru dengan tipologi involvement thinkers biasanya lebih banyak menghabiskan energi dari dua tipologi guru di atas, karena aktivitas dan ceramah menjadi lebih banyak, kelas menjadi bertambah ramai dan lebih fun, tetapi asepek tujuan atau objectives guru tipe ini selalu berorientasi pada”how can I get students really engaged?” Di atas ketiga tipologi tadi adalah guru yang secara substantif dan metodologis jaug lebih baik karena berusaha menggabungkan ketiga pendekatan di atas dan memiliki orientasi untuk belajar tuntas (mastery learning objectives). Biasanya rumusan standar asumsi tipologi guru keempat ini adalah “what do I want students ti know or be able to do when lesson is over?” dan “how will I know if they know it or can do it?

Salah satu kelemahan dari tipologi guru yang berorientasi pada mastery learning objectives adalah kurangnya memberi ruang kepada daya jelajah pikir siswa untuk tumbuh menjadi lebih kritis dan lebih sistematik. Tetapi jika pendekatan ini juga digunakan, maka thinking skills siswa maupun guru akan tumbuh secara kritis dan menjadi lebih sistematis. Diperlukan guru dengan model generic thinkers yang mampu membimbing dan mengembangkan daya kritis siswa, sekaligus merumuskan tujuan pembelajaran berkualitas yang bertumpu pada apa yang dapat dilihat dan tak dapat dilihat di ruang kelas.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy