Ahmad Abdul Haq


Semua Karena Cinta

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 12 Agustus 2010 15:08 WIBSemua Karena Cinta

Semua Karena Cinta "Ada berita buruk". Begitu isi teks BBM yang saya terima ketika mendarat di Los Angeles. Hati saya berdebar-debar.  Teks selanjutnya berbunyi, "Telpon saya segera."
"Waduh....ada apa nih?" saya membatin dalam kekuatiran.
Segera setelah melalui meja imigrasi, tanpa berpikir panjang lagi saya menelpon ke rumah. Di Jakarta saat itu kira-kira menjelang subuh, dan terdengar suara suami saya yang masih terjaga.  Hati saya seakan terhempas ludes ke dalam kesedihan dan kebingungan. Bahkan syok, ketika mendengar apa yang terjadi pada keponakan saya Ben.

"Ben stroke!!" Antara tidak percaya dan panik, hati saya berdebar keras. Kekuatiran muncul. Tiba-tiba kepala saya sakit dan mual rasanya. Sepanjang perjalanan menuju gedung parkir, tidak habis-habisnya bertanya dalam hati "Mana mungkin anak empat tahun kena stroke? Apa salah diagnosa? Why bad things happens to good people?" Ahhhhh.....sulit rasanya mengatasi ribuan pertanyaan yang timbul. Belum lagi terjawab pertanyaan sendiri, hujan pertanyaan anak-anak saya yang ikut panik seakan sayup-sayup terdengar. Saya sibuk dengan berbagai skenario, dari salah diagnosa sampai yang terburuk, the what ifs....

Terbayang Ben dua hari yang lalu. Tepat sehari sebelum keberangkatan saya, ia masih hadir di acara ulangtahun anak saya, tampak lincah dan ceria. Aktif dan selalu ingin terlihat paling depan dalam upacara tiup lilin. Seakan bersaing dengan yang berulangtahun, Ben tidak pernah mau ketinggalan meniup lilin. Tingkah lakunya selalu saja memicu tawa dan kegemasan yang hadir. Membayangkan Ben yang sekarang dalam kondisi kritis sungguh tidak mengenakkan. Di foto yang dikirm ke saya, terlihat ventilator, infus dan berbagai selang melintas di atas tubuh mungilnya. Kondisi Ben yang lemas terkulai dalam keadaan koma membuat dada saya sesak.

Apa yang terjadi? Menurut orangtuanya, kejadian ini dimulai dengan jeritan Ben yang mengeluh sakit kepala ketika dia sedang menonton acara TV kesukaannya. Jeritan keras ini membuat ibunya bergegas keluar dari kamar dan lari menuju jeritan tersebut. Saat itu Ben berteriak sambil nangis, "Sakit, Ma.....sakiiiit!" Sambil berlari ke kamar mandi, detik itupun Ben spontan muntah. Sebagai seorang dokter, hal pertama yang muncul di benak ibuny adalah, "Wah....Ben kena stroke!"

Dengan sigap ibunya menggendong Ben, menyambar hape dan kunci mobil. Dalam perjalanan dia menelpon rekan sejawat di rumah sakit untuk mempersiapkan CT scan. Ia tahu bahwa Ben hanya punya waktu 6 jam waktu emas sebelum terlambat. Enam jam untuk segera menerima tindakan, dalam hal ini bedah otak untuk menyedot pembuluh darah yang pecah. Masuk dalam tabung CT Scan, Ben sudah terbaring kaku. Hilang sudah kesadarannya sejak dalam perjalanan. Semua terjadi begitu cepat. Keputusan harus segera dibuat. Empat jam lagi masa emas Ben segera akan berlalu.

Saya mengagumi orangtua Ben. Mereka begitu tenang dan sigap dalam mengambil keputusan. Menjelang tengah malam, dilakukan operasi di otak Ben, darah yang pecah dari pembuluh di sekitar frontal cortex (otak bagian atas depan) cepat dibersihkan. Operasi yang rumit ini memakan waktu lebih dari lima jam.

Penasaran akan penyebab stroke, berbagai scan lanjutan dilakukan. Dua hari kemudian, dokter ahli dan keluarga memutuskan untuk kembali mengoperasi Ben setelah mereka menemui masalah sesungguhnya. Bukan tumor, bukan pula kondisi penyebab stroke biassa, ternyata Ben menderita kondisi bawaan. Kondisi itu disebut AVM (arteri vena malformation). Kelainan bawaan yang terjadi sejak dalam kandungan.  Hanya mungkin satu di antara jutaan bayi yang lahir. Kondisi yang sangat langka. Anugrah Tuhan saja yang memberikan hikmat pada kedua orangtua Ben untuk cepat berespon terhadap kejadian mendadak ini.

Setelah 25 hari dirawat di RS, kini Ben sudah pulang ke rumah. Di situlah perjuangan sesungguhnya dimulai. Hanya cinta orangtua, dukungan dari seluruh keluarga dan jadwal fisioterapi yang padat yang akan memulihkan Ben. Sungguh adalah mujizat Tuhan bahwa Ben selamat. Namun, usaha keras tanpa pamrih orang-orang yang mencintainyalah yang memulihkan Ben. Kini, Ben seperti layaknya anak balita lainnya, sudah kembali lincah dalam segala aktifitas dan kemampuan berkomunikasinyapun membaik secara luar biasa. Hanya ada satu hal yang masih terus dipantau, yaitu kondisi emosi dan perasaannya. Walaupun tampak Ben jadi lebih sensitif, di luar itu, so far so good!

Jika saya merenungkan kejadian ini, dan mengaitkan dengan pengalaman saya selama ini bergelut di bidang pencegahan narkoba, ternyata banyak hal yang bisa dipelajari, walaupun dengan kondisi yang berbeda. Pertama adalah kepekaan orangtua terhadap anaknya. Saya membayangkan bahwa jeritan Ben pastilah bukan jeritan yang biasa dilakukan, sehingga hanya orangtua yang memiliki kepekaan sajalah bisa tahu jika ada perbedaan. Orangtua perlu memiliki kepekaan guna mengetahui kondisi berbeda yang dialami anaknya jika dia terkena narkoba. Mungkin ada perubahan tingkah laku (yang bisa sangat tidak kelihatan secara kasat mata dan membutuhkan kepekaan yang luar biasa), perubahan sikap, dsb pada anak kita.

Yang kedua adalah pengetahuan. Pengetahuan tentang stroke, masa kritis dan tindakan apa yang harus segera dilakukan terbukti sangat membantu upaya penyelamatan Ben. Orangtua yang memiliki pengetahuan tentang narkoba dan tahu apa yang harus segera dilakukan bila anaknya terkena narkoba, akan memilki peluang lebih besar untuk menyelamatkan anaknya daripada yang buta sama sekali. Di sini orang tua perlu merelakan dirinya untuk belajar tentang narkoba dan bahayanya, untuk bisa memilih respon yang tepat.

Ketiga, segera menemukan penyebab utamanya untuk mencegah hal yang sama terjadi di masa mendatang. Jika kita bisa menemukan faktor resiko dan faktor protektif yang membuat anak kita terkena narkoba, maka kita bisa melakukan manipulasi pada faktor-faktor tersebut untuk membuat anak kita tidak terkena narkoba lagi. Banyak kasus membuktikan hal ini sangat menantang karena kebanyakan pecandu jatuh dan jatuh lagi dalam jeratan narkoba.

Ke empat dan sangat penting adalah kekuatan adalah cinta keluarga yang memenangkan! Itu adalah modal utama untuk pemulihan seseorang. Baik AVM maupun kecanduan narkoba, tidak ada obat yang lebih manjur daripada  kasih sayang keluarga. (VC/08/2010).


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy