Ahmad Abdul Haq


Portofolio

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Selasa, 21 September 2010 13:46 WIBPortofolio

Portofolio Suatu ketika Edu diminta untuk mengisi program pengkayaan metodologi mengajar bagi guru-guru pada salah satu SD di Bekasi. Dalam sesi dialog, seorang guru bercerita tentang program sertifikasi yang diikutinya, di mana salah satu yang dia banggakan adalah kemampuannya dalam membuat portfolio. Dalam pemahamannya, portfolio adalah kumpulan sertifikat dari program training, seminar, workshop tentang pendidikan yang pernah diikutinya selama menjadi guru dan akan dijadikan sebagai alat validasi bahwa dirinya layak menerima dana sertifikasi guru.

Namun ketika Edu balik bertanya, “pernahkah Ibu membuat portfolio yang menggambarkan proses perkambangan belajar siswa-siswi?” Dengan enteng guru tersebut menjawab tidak pernah. Bagi para guru, portfolio bukan bagian dari cara penilaian yang diberikan guru kepada para siswa mereka. Penilaian hanya diberikan setiap semester sekali, dan semua bentuk laporan penilaian tersebut tertulis dalam buku rapor. Fakta ini jelas sekali menunjukkan ketimpangan luar biasa terhadap kemampuan guru dalam merekam perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.

Mengapa portfolio penting? Kesadaran tentang pentingnya penilaian secara komprehensif terhadap perkembangan siswa dimulai oleh Howard Gardner (1983) yang menulis buku Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Dalam buku ini kemampuan siswa diakui sangat beragam dan oleh karena itu harus dinilai secara berkesinambungan sesuai dengan tingkat pencapaian kognitif, afektif dan psikomotorik yang dialaminya. Dan guru memiliki tanggungjawab untuk melakukan revisi terhadap kurikulum yang dikembangkan dalam proses belajar-mengajar, atau semacam curriculum revision check list.

Selain itu dalam Portfolios Assessment Resources Kit, Forster Margaret & Masters Geoff (1996) memberikan pengertian Portfolio sebagai kumpulan hasil kerja siswa yang sering disebut sebagai artefak. Artefak-artefak tersebut dihasilkan dari pengalaman belajar atau proses pembelajaran siswa dalam periode tertentu, untuk kemudian diseleksi dan disusun menjadi satu portfolio.

Dengan kata lain, portfolio merupakan koleksi pribadi hasil pekerjaan seorang siswa (bersifat individual) yang menggambarkan sekaligus merefleksikan taraf pencapaian, kegiatan belajar, kekuatan, dan pekerjaan terbaik siswa tersebut. Karena itu sifat dari kumpulan koleksi artefak ini memiliki cirri yang dinamis dan berubah sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.

Berdasarkan jenisnya, portfolio biasanya dibagi atas portfolio perkembangan, pamer dan komprehensif. Dalam portfolio perkembangan biasanya lazim ditemukan beragam koleksi artefak siswa yang menunjukkan pertumbuhan afektif dan psikomotorik seorang siswa. Dalam portfolio pamer (showcase) biasanya berisi koleksi artefak siswa yang menunjukkan hasil karya terbaik siswa selama mengikuti pelajaran, sedangkan portfolio komprehensif  berisi koleksi artefak seluruh hasil karya siswa yang menunjukkan adanya perkembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.

Dari aspek tujuan, portfolio akan sangat bermanfaat bagi seorang guru untuk bahan penilaian formatif dan diagnostik, terutama untuk memonitor perkembangan siswa dari hari ke hari yang berfokus pada proses perkembangan siswa. Portfolio juga akan memberikan bukti (evident) bagi seorang guru untuk melakukan penilaian formal maupun penilaian sumatif.

Teknik organisasi dan penyusunan portfolio juga menuntut guru untuk melakukan analisis dengan baik. Karena itu portfolio yang tersusun secara sistematis akan bermanfaat bagi guru berikutnya, baik di kelas maupun sekolah yang berbeda. Kesuluruhan artefak yang menggambarkan profil kemampuan siswa yang digabungkan dengan refleksi guru jelas akan membantu kita mengarahkan kecenderungan bakat dan minat siswa yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki siswa.

Ringkasnya portfolio mencerminkan apa yang pihak sekolah tuntut dan keunikan pribadi masing-masing siswa. Selain bermanfaat bagi siswa, portfolio juga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan bahan ajar dan metologi pengajaran. Sebagai alat penilaian, portfolio pantas untuk diwajibkan kepada seluruh guru kita di sekolah, karena di dalamnya terdapat aktivitas yang menggambarkan seberapa sering diskusi dilakukan antara siswa dengan siswa (portfolio conference), guru dengan siswa, guru dengan guru atau antara siswa, orangtua dan guru.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy