Ahmad Abdul Haq


Ever Green

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Minggu, 26 Desember 2010 06:56 WIBEver Green

Ever Green Natal memang merupakan momen yang spesial. Sama seperti Lebaran untuk umat Muslim, Natal menjadi sentral dan sakral bagi kaum Kristiani. Kesan tradisional pada umumnya mengidentifikasikan Natal dengan tokoh Sinterklas dan pohon Natal.

Pemilihan pohon cemara sebagai lambang ever-green memang dipopularkan oleh Kaisar Konstantin yang Agung dari Kerajaan Romawi yang notabene adalah negara empat musim. Melalui dua milenia, tradisi Natal seperti ini tertancap dan menjadi identik dengan kekristenan itu sendiri. Padahal, sekali lagi ini adalah tradisi. Sebuah ritual yang menjadi bagian dari Natal itu sendiri karena peran pohon cemara tidak pernah diceritakan dalam Injil.

Bagaimana dengan Sinterklas? Kita semua tahu Sinterklas identik dengan hadiah. Hadiah sebagai upah untuk anak-anak yang berkelakuan baik. Simbol ini bicara tentang upah hidup yang kekal sebagai "ultimate gift" hadiah utama bagi mereka yang berkelakuan baik. "Baik" karena percaya.

Untuk Indonesia, saya mencoba renungkan apa yang menjadi lebih cocok untuk melambangkan ever-green ini. Sebab tentunya semua pepohonan memang selalu ever-green di tanah air kita ini. Ketika saya masih mencari-cari simbol apa yang mengena, tiba-tiba masuk sebuah cerita sederhana ke BBM saya. Tulisan pendek yang menggugah saya. Sebuah cerita tentang esensi Natal dakam sebuah kesederhaan.

Alkisah ada seorang pemuda berangkat kerja di pagi hari. Dia memanggi taxi dan menyapa supir taxi, "Selamat pagi, Pak."

"Pagi yang cerah bukan?" sambungnya sambil tersenyum. Lalu sang pemuda bersenandung kecil sepanjang perjalanan. Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dengan senang hati ia melajukan taxinya.

Sesampainya di tempat tujuan pemuda itu membayar dengan selembar Rp.20.000 untuk argo yang hampir Rp. 15.000.- "Kembaliannya buat bapak saja. Selamat bekerja Pak." Kata pemuda itu dengan senyum.

"Terima kasih!" jawab sang sopir taxi dengan penuh syukur.

"Wah.. aku bisa sarapan dulu nih..." pikir sopir taxi itu. Dan ia pun menuju ke sebuah warung langganan.

"Biasa Pak?" tanya si mbok warung.

"Iya biasa.. Nasi dan sayur....tapi pagi ini tambahkan sepotong ayam" jawab pak sopir dengan tersenyum.

Saat membayar ditambahkan seribu Rupiah dari bon makannya seraya berkata, "Ini untuk jajan anakmu, mbok..."

Dengan tambahan uang jajan seribu rupiah, pagi itu anak si mbok berangkat ke sekolah dengan senyum lebih lebar. Ia bisa membeli 2 buah roti pagi ini. Satu untuknya, satu lagi diberikannya pada temannya yang tidak punya bekal.

Si temannya pun tersenyum karena tidak jadi lapar di sekolah. Berlari pulang ke rumahnya, iapun menceritakan berkat yang diperolehnya kepada ibunya. Sepotong roti dari seorang teman yang peduli membuat ibunya memanjatkan doa syukur kepada Tuhan. Sambil mendekap anaknya, sang ibu berkata, "Tuhan itu memang baik......"

Begitulah cerita bisa berlanjut. Bergulir seperti bola salju. Kebahagian kecil sang pemuda ditularkan ke seorang sopir taxi. Pak sopir menjadi lebih bahagia hari itu dan memberikan tip lebih ke mbok warung. Keluarga si mbok pun kecipratan berkat. Berkat menyebrang dari pak sopir ke teman anak si mbok. Lalu ke keluarga si anak. Semua tertular kebahagiaan.

Berkat yang bergulir membawa kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan, seperti juga kesusahan, bisa menular kepada siapa saja di sekitar kita. Kebahagian adalah sebuah momen dalam kehidupan yang tersebar dalam sebuah spektrum kehendak. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan.

Pohon natal perlambang ever-green bicara tentang kehidupan yang tetap hijau di tengah musim dingin. Sebuah simbol akan kehidupan kekal yang disediakan oleh bayi Natal pertama, Yesus Kristus, yang diutus Allah Bapa untuk menjadi juruselamat dunia bagi mereka yang percaya. Itu "ever-green" yang sesungguhnya. Itu berkat pertama dan terutama bagi umat manusia. Itulah kehangatan di tengah dunia yang kejam dan dingin.

Bisa menerima itu adalah berkat. Tapi, bisa memberi adalah anugrah. Itulah kesederhanaan natal yang universal. Tanpa pohon natal sekalipun, siapapun di Indonesia sebenarnya merayakan natal setiap kali kita memberi, setiap kali kita memercik kebahagiaan di hidup sesama.

Siapkah kita menularkan kebahagian hari ini?


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy