Ahmad Abdul Haq


Di Luar Kendali

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 11 Agustus 2011 10:00 WIBDi Luar Kendali

Di Luar Kendali Pernah ada pendapat yang mengatakan bahwa hidup ini adalah masalah pilihan dan putusan. Setiap saat kita dihadapkan dengan berbagai pilihan dan kita harus memutuskan pilihan mana yang kita anggap paling baik untuk kita. Dalam hal ini seolah-olah kita memiliki kendali sepenuhnya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri kita. Namun belakangan ini saya menemukan ada situasi-situasi dimana kita bahkan tidak memiliki kendali sama sekali. Bahkan saya merasa bahwa hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan dalam hidup ini, terutama terkait dengan hal-hal yang esensial. Kita tidak bisa memilih siapa orangtua kita, di mana kita dilahirkan dan bagaimana kita mati (kecuali yang suicidal!). Ketidakberdayaan kita untuk menentukan atau memilih hal-hal esensial seperti ini membuat kita sadar betapa kecilnya kendali yang kita miliki dalam hidup.

Perenungan saya kemudian sampai pada pertanyaan apakah kita masih memiliki kendali terhadap hal-hal esensial lain seperti harga diri, kebaikan, kejujuran dan kesetiaan?

Mari kita bicarakan sedikit tentang harga diri.

Orang sering menganggap bahwa harga diri adalah suatu hal yg inheren - yang memang ada di dalam kendali diri seseorang. Namun setelah bergaul dengan kaum di dasar piramida penduduk, saya cenderung berpendapat bahwa tingkat ekonomi memengaruhi tingkat harga diri seseorang. Semakin terpuruk kondisi ekonomi seseorang, semakin sulit baginya untuk bisa memiliki kepercayaan diri (kerap diistilahkan saat ini dengan pe-de). Hal ini sering saya dapati pada kalangan remaja putus sekolah. Saya kerap memperhatikan mata mereka ketika mereka berinteraksi dengan lawan bicara. Keberanian untuk melakukan kontak mata menjadi hal yang langka karena jiwa mereka tertindas oleh rasa tidak cukup.

Harga-diri, menurut Melinda Gates adalah satu hal yang sangat penting untuk dibangun sebelum manusianya disejahterakan - dignity comes before development. Sifat inheren harga-diri tidak selalu ditemui pada diri seseorang. Pembentukan dignity ternyata juga dipengaruhi oleh kondisi, lingkungan dan dalam hal ini, tingkat pendidikan seseorang.

Kami mengamati anak-anak putus yang kemudian sambung sekolah di Rumah Belajar. Saya sendiri kagum betapa hebatnya efek pendidikan pada peningkatan harga-diri remaja kurang mampu. Apalagi kelas komputer yang membuat mereka merasa cool. Akses FB atau aktif di Twitter membuat mereka merasa menjadi bagian dari generasi modern. Ini adalah kebanggaan tersendiri.

Kita ternyata bisa berperan dalam mengembangkan harga diri seseorang dengan memfasilitasi hal-hal tertentu yang membuat mereka menjadi lebih percaya diri dan pendidikan adalah salah satunya.

Bagaimana dengan kejujuran dan kebaikan?

Kita pasti beranggapan bahwa kejujuran dan kebaikan adalah dua hal yang ada dalam kendali kita. Setiap orang bisa memilih untuk jujur. Setiap orang bisa memilih untuk berbuat baik.

Walaupun demikian, "bisa" bukan berarti "dilakukan". Artinya kita mudah berdalih ketika ternyata kita (terpaksa) tidak jujur. Ambil contoh mengenai white lies yang sering dilakukan demi kesantunan atau untuk melindungi seseorang/sesuatu.Melakukan kebaikanpun sering tertunda karena sikon. Tahu dan mau, tidak selalu diakhiri dengan perbuatan.

Bagaimana dengan kebaikan yang datang dalam hidup kita? Hal ini malah lebih sulit untuk dijelaskan. Buat sebagian orang hal ini adalah "keberuntungan", sekedar lucky.Untuk sebagian yang lain, hal ini merupakan anugrah Tuhan karena mereka percaya tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua bertujuan dan bermakna.

Contohnya peristiwa yang baru terjadi kemarin. Yayasan kami (YCAB) kedatangan tiga menteri negara dalam acara berbuka puasa bersama anak putus sekolah yang kami bina  di Rumah Belajar beserta ibu-ibu mereka yang juga adalah klien pinjaman mikro Koperasi YCAB. Menko Kesra, Mensos dan Meneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berkenan hadir di acara ini yang diadakan cukup mendadak. Intinya kami hanya diminta untuk membuka pintu, ketiga kantor kementrian bahu membahu mengambil peran untuk menyediakan makanan, tenda dan keperluan lain termasuk goodie bag berisi souvenir untuk semua yang hadir. Termasuk memberikan santunan pendidikan ke anak-anak pra sejahtera.

Dalam kamus saya hal ini adalah murni anugrah Tuhan. YCAB tidak mungkin sanggup -dan yang pasti tidak cukup pe-de untuk mencoba - mendatangkan tiga mentri sekaligus dalam sebuah acara sederhana di salah satu dari 13 Rumah Belajar kami. Bukan pula karena YCAB begitu luar biasa sampai layak dikunjungi.

Kekaguman saya terutama pada sinkronisasi alam yang terjadi sehingga ketiga pejabat negara serentak "mau" dan "bisa" datang walau harus menembus kemacetan Jakarta. Pasti ada energi atau kuasa tertentu yang menarik mereka masuk ke dalam sebuah orkestra cantik sampai semua terjadi. Mulai dari ide salah satu pejabat di Kemensos yang mengusulkan, sampai ke timing yang pas, kondisi yang memungkinkan dilengkapi dengan keikhlasan ketiga pejabat negara untuk hadir.

Sungguh tidak pernah terbayang apalagi terpikirkan. Anugrah ya, anugrah. Diberikan kepada yang tidak layak menerima. Peran kita untuk menerima anugrah hampir tidak ada. Anugrah bukan punya kita, namun milik si Pemberi. Kita tidak bisa mengendalikan kapan anugrah datang atau pergi.

Apalagi masalah kesetiaan.
Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membuat seseorang setia betul kepada kita. Bisa saja kita berbuat segala hal untuk mencegah seseorang (atau pasangan kita) untuk berkhianat, namun kita tidak dapat mengendalikan kesetiaan mereka.Pilihan untuk setia atau tidak ada pada diri masing-masing orang. Kita tidak dapat mengendalikan kesetiaan orang lain kepada kita.

Beberapa waktu yang lalu, orang kepercayaan saya, yang jatuh bangun bersama membangun yayasan dan beberapa unit bisnis sebagai profit center yayasan, memilih untuk membuka perusahaan sendiri menyaingi unit usaha yayasan. Dia jelas tahu bahwa menyaingi unit usaha yayasan sama dengan merampas hak anak kurang mampu yang dijangkau oleh yayasan karena setiap keuntungan dari unit usaha ini dipakai untuk mengedukasi anak putus sekolah.

Alasannya sekedar bentrok dengan gaya manajemen di perusahaan yang membuat dia memutuskan untuk bersaing dan memperkaya diri sendiri. Bukan masalah takut bersaing, tapi saya tidak habis pikir kenapa seseorang yang tampaknya selama ini begitu welas asih dan peduli akan kesejahteraan anak bangsa ternyata bisa begitu kelam dan jahat bak serigala berbulu domba.

Apakah bentrok manajemen yang menyebabkan dia melakukan hal-hal seperti itu? Rasanya tidak. Kondisi apapun harusnya tidak membuat kita jadi jahat. Kondisi seburuk apapun tidak bisa membenarkan hal buruk yang kita lakukan.

Saya berkesimpulan orang memilih untuk menjadi jahat atau berkhianat karena mereka keputusan mereka sendiri untuk membiarkan diri hanyut dalam kegelapan hatinya, menyerah pada panggilan setan. Dalam kasus saya, setannya adalah ketamakan. Bukan uang yang menjadi masalah, tapi cinta pada uanglah yang berbahaya.

Demikianlah kejujuran, kebaikan dan kesetiaan. Saya menyadari bahwa meskipun kita tahu dan mau berbuat baik, berlaku jujur dan setia, tidak menjamin bahwa hal-hal tersebut akan dilakukan. Dan karena itulah hampir tidak mungkin kita mengendalikan hal-hal tersebut pada diri orang lain. Kebaikan, kejujuran dan kesetiaan orang lain berada di luar kendali kita.

Maka yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Anugrah serta kebaikan yang diberikan orang lain, mungkin hal di luar kendali kita yang perlu disikapi dengan penuh rasa syukur. Namun apa yang bisa kita lakukan jika ada orang yang ternyata tidak jujur dan tidak setia kepada kita ? Kata kuncinya menurut saya adalah memaafkan. Ini hal yang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Dalam sebuah pertunjukan Oprah, pernah dikatakan bahwa memaafkan bukan menerima kembali atau melupakan. Memaafkan adalah melepaskan harapan bahwa masa lalu bisa dibuat berbeda, lalu memahami situasi yang ada dan meneruskan hidup ke arah yang lebih baik. Selain itu, saya masih yakin Tuhan itu Maha Adil. Dia sendirilah yang akan membasuh luka di hati kita.

Pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa menahan kita untuk tidak melanggar kesetiaan dan kejujuran ? Kenapa kita bisa begitu lemah dan lepas kendali pada saat-saat tertentu. Mungkin anda punya jawaban lain. Namun bagi saya kejadian-kejadian dalam hidup saya membawa saya pada sebuah perenungan spiritual. Manusia tidak berdaya untuk memilih kebaikan di saat-saat sulit karena hakekat kedosaan manusia. Dan jawaban untuk mengobati keberdosaan manusia hanyalah anugrah. Hanya anugrah Tuhan yang sanggup memberikan kita keselamatan yang sebenarnya tidak layak kita terima. Untuk itu membangun sikap senantiasa mensyukuri segala sesuatu merupakan hal yang sangat penting.

Saya akan menutup tulisan ini dengan mengatakan bahwa ternyata dalam hidup ini ada hal-hal esensial yang berada di luar kendali kita. Hal tersebut bisa menjadi anugrah atau bencana. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi hal-hal tersebut. Jika hal tersebut adalah bencana, maka memaafkan dan mendoakan adalah tindakan yang paling mungkin dilakukan. Sementara jika hal tersebut adalah anugrah, maka mensyukuri adalah sikap yang harus kita ambil, sekaligus akan menguatkan diri kita untuk tidak tergoda.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy