Ahmad Abdul Haq


Kemerdekaan adalah Menembus Batas Ketakutan

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 12 Agustus 2011 13:32 WIBKemerdekaan adalah Menembus Batas Ketakutan

Kemerdekaan adalah Menembus Batas Ketakutan Masa kecil saya penuh dengan ketakutan. Ketika memasuki taman kanak-kanak, saya selalu meminta Ibu menemani saya. Bukan seminggu atau dua minggu, tapi berbulan-bulan. Saya baru merasa terlindungi ketika melihat mata segar Ibu di balik jendela sekolah. Demikian pula ketika memasuki sekolah dasar, saya semakin merasa takut, saya merasa berbeda. Entah mengapa. Mungkin setelah melihat sepatu yang saya pakai tidak sebagus sepatu teman-teman yang lain atau pensil saya tidak sepanjang pensil mereka. Saya merasa kecil.

Ketakutan saya tidak berhenti di sini. Ketakutan ini semakin bertambah ketika saya memasuki SMP dan SMA. Saya mulai mencari jati diri, mulai melihat dan bertanya-tanya tentang realitas di sekitar saya dengan tajam. Saya semakin takut bahwa hidup saya akan terus di bawah. Saya takut akan menjadi sopir angkot seperti bapak saya. Sebagai anak laki satu-satunya, saya juga takut tidak bisa membahagiakan orangtua dan empat saudara perempuan saya.

Saya kemudian mulai mencoba memberanikan diri ketika lulus SMA. Dengan prestasi yang bagus selama SMA, saya diterima dalam program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di IPB Bogor. Saya merantau untuk pertama kalinya, jauh dari keluarga untuk pertama kalinya. Setelah seminggu di Bogor, saya hampir menyerah. Hidup di perantauan dan persaingan yang luar bisa di Jurusan Statistika waktu itu, terlalu berat buat saya. Ketika saya mempertimbangkan diri untuk pulang, Ibu dengan bahasanya yang sederhana kemudian bilang, “Coba dulu, belajar yang rajin, jangan takut!”. Yah, Ibu saya bilang, “Jangan takut!”. Sebuah nasihat sederhana dan bijaksana yang meyakinkan bahwa menjalani proses adalah menjalankannya sekarang, saat ini, dengan kerja keras dan melepaskan ketakutan akan hasil yang didapat. Kegagalan atau pun keberhasilan dari sebuah proses adalah dimensi lain yang akan melahirkan pelajaran baru untuk proses selanjutnya. Ibarat seorang pelaut yang mengarungi samudera, akhirnya saya terus berlayar, menghadapi semua tantangan dan berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik di IPB.

Benih keberanian, api kecil yang dinyalakan Ibu saya pun mulai menyala. Ketika mendapatkan pekerjaan di Jakarta, saya mulai berani berjuang melawan rasa minder. Berat memang, tapi saya berlatih dari hari ke hari. Membiarkan rasa minder itu seperti membangun tembok di sekitar hidup kita. Bagaimana kita bisa melihat ke depan ketika kita dikelilingi tembok. Saya coba untuk breaking the wall. Keberanian memecahkan tembok ini tidak sia-sia. Saya mulai membangun karier, mulai membangun hidup. Hingga akhirnya, saya mendapatkan kesempatan kerja di New York, USA.

Sebenarnya saya sempat meragukan keputusan untuk pergi ke New York. Bukan hanya saya tidak mempunyai cukup tabungan untuk biaya hidup di bulan-bulan pertama di sana, saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan di New York itu. Selama di Indonesia, saya tidak pernah bermimpi tentang New York. Mimpi itu menurut saya terlalu besar dan hanya membentur atap rumah kecil saya di Batu, Malang. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk merantau ke New York. Saya harus berangkat! Di sinilah kesempatan untuk mengubah hidup, tidak hanya untuk saya, tapi juga untuk keluarga saya. Saya memberanikan diri!

Belum genap setahun di New York, saya mengalami peristiwa perampokan di sebuah stasiun kereta api di daerah Westchester. Ketika pisau dari dua perampok itu menyentuh perut saya dan tangan besar mereka menghantam muka, saya sempat berpikir kalau hidup saya akan berakhir di sini. Peristiwa ini tidak menghentikan saya. Saya mencoba bangkit. Saya tidak akan pulang dengan tangan hampa, tanpa buah yang bisa saya bagikan dengan keluarga saya. Akhirnya, saya bertahan di New York selama 10 tahun dan menjadi salah satu direktur di Nielsen Consumer Research, USA. Berkat sebuah keberanian.

Demikian pula kemerdekaan bangsa kita. Kemerdekaan Indonesia yang dideklarasikan 66 tahun yang lalu oleh Bung Karno dan Bung Hatta adalah buah dari perjuangan yang panjang, buah dari keberanian yang gagah. Ratusan kegagalan melawan penjajah di ribuan kota dari Sabang sampai Merauke, ribuan bahkan jutaan nyawa yang melayang tidak menghentikan bangsa kita untuk melahirkan sebuah Indonesia. Bambu runcing, yang kalau dipikir tidak akan mampu melawan tank-tank besar penjajah, telah melahirkan sebuah bangsa. Jiwa yang besar dan berani, telah membawa bangsa kita menjadi bangsa yang “merdeka”. Bangsa kita merdeka karena semangat, keberanian menembus batas ketakutan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berani. Sejarah sebagai bangsa maritim mengingatkan bahwa nenek moyang kita adalah orang-orang yang berani, pelayar tangguh yang berani mengarungi samudera luas, berlayar sampai ke negeri seberang, melawan badai dan gelombang untuk berdagang.

Dari perjalanan hidup saya, dari sejarah panjang bangsa Indonesia, saya belajar untuk menembus batas ketakutan. Saya mulai memberanikan diri untuk maju dan mengambil risiko. Saya akhirnya yakin, bahwa ketika terjatuh pun kita akan belajar untuk mengenal rasa sakit, kita akan mengenal bagaimana rasa perih dan mencoba untuk berdiri. Kita akan semakin kaya dan kuat.

Kebahagiaan akan terasa lebih manis, jika kita meraihnya dengan sepenuh hati, lewat sebuah perjuangan. Jangan pernah menyerah ketika di bawah. Tembus batas ketakutan karena kita adalah generasi dari sebuah bangsa yang berani.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy