Ahmad Abdul Haq


Media Education 2012

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 27 Februari 2012 09:40 WIBMedia Education 2012

Media Education 2012 Mengapa media education 2012? Sangat boleh jadi itulah tema paling krusial yang harus dipikirkan oleh para praktisi dan pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini pada tahun 2012 ini. Di tengah cepatnya perubahan dunia, isu soal media education pasti akan sangat terkait dengan kebijakan soal penggunaan media dalam pembelajaran, pilihan teknologi media yang akan digunakan, crytical analysis yang harus disertakan, serta antisipasi pengaruh media cetak dan tayangan yang semakin menggila.

Karena pilihan soal kebijakan pendidikan kita kebanyakan mengkuti framework Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, maka pertimbangan penggunan media lebih banyak mengadaptasi apa yang berkembang di Barat, dan jarang mempertimbangkan unsur lokalitas. Lihatlah bagaimana secara permanen sekolah-sekolah berlomba memamerkan alat laboratorium, dari mulai fisika, kimia, biologi, komputer hingga bahasa, semua memajang benda dan media belajar produk Barat. Memang tak ada yang salah, tetapi bisakah ada unsur lokal yang berusaha menggenapi pilihan teknologi canggih tersebut agar tidak kehilangan identitas dan budaya bangsa?

Chi-Kim Cheung (Media Education in Asia: 2009), dengan gamblang mencermati masalah media education ini di negara-negara Asia. Beberapa masalah yang cukup krusial dibahas secara cermat dan hati-hati, dan sayangnya tak ada kontribusi dari peneliti dan atau penulis yang bergiat di bidang pendidikan terhadap masalah media ini. Hampir semua penulis dari China, Singapore, India, Korea dan sebagainya adalah kalangan akademisi di bidang pendidikan, berusaha memetakan apa dan bagaimana tantangan media education.

Beberapa tema yang menjadi concern mereka diantaranya adalah pengaruh media tayangan terhadap gaya belajar siswa dan bagaimana cara mensikapinya. Pengaruh media terhadap siswa bisa dan akan sangat membahayakan, terutama untuk anak-anak di bawah usia 8 tahun. Laporan American Academy of Paediatrics (AAP) tahun 1999 sudah menyebutkan, bahwa bahaya pengaruh tayangan kekerasan di media televisi, film dan sebagainya terhadap anak di bawah usia 8 tahun karena mereka belum bisa membedakan mana kehidupan yang nyata (real life) dan khayalan (fantasy life).

Dalam konteks ini, diperlukan kajian seksama tentang betapa kita terus-menerus membutuhkan media literacy sebagai antidote terhadap kekerasan media. Karena itu kebijakan tentang peningkatan kapasitas guru dalam mengajar merupakan kata kunci untuk menghindari anak-anak dari pengaruh buruk media. Guru diharapkan mampu memberikan pemahaman yang baik tentang semua aspek media dari perspektif yang lebih cerdas, yaitu mengajarkan siswa mereka kemampuan untuk berpikir kritis, analitis dan decode. Dalam bahasa Brown (1998), penting bagi para guru untuk “...avoid indoctrinating with their own opinions and conclusions, but rather, train students in the process of selective discrimination, analytical observation and reasoned assessment based on factual data judged according to meaningful criteria.”

Selain tema pengaruh media terhadap siswa, dalam media education juga penting untuk melihat konsistensi dan kesinambungan program dalam skema proses politik dan kebijakan (politic and policy) di bidang pendidikan. Jika konsentrasi kebijakan di bidang pendidikan tak didominasi oleh kepentingan politik golongan tertentu, maka pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang cukup signifikan untuk melihat fenomena media education beserta implikasinya. Ini artinya penting untuk memerhatikan proses pedagogis yang berlangsung di ruang-ruang kelas, dan melihat sejauh mana kurikulum kita hirau terhadap aspek media education ini.

Jika pendidikan diyakini merupakan sebuah cara paling kuat untuk mengubah struktur budaya masyarakat, maka pendidikan massal melalui media massa seperti TV, internet, dan surat kabar/majalah merupakan bentuk lain dari transplantasi budaya, di mana proses inflitrasi budaya satu ke budaya lainnya berlangsung secara intensif dan dapat menyebabkan terjadinya penghapusan budaya (cultural genocide) secara perlahan-lahan (Nandy: 2000). Paradigma dalam perkembangan teknologi informasi dan kapitalisasi ekonomi dalam kebijakan tayangan televisi jelas harus dicermati secara seksama oleh para pengambil kebijakan bidang pendidikan di Indonesia.

Sebagai basis pendidikan massal paling efektif, tayangan televisi memiliki peluang untuk mengubah tatanan budaya lokal karena baik konten maupun rancangan program tayangan televisi bisa jadi merupakan manifestasi dan justifikasi superioritas budaya barat yang belum tentu semuanya baik (Dighe: 2000). Hasil riset menunjukkan bahwa dampak tayangan televisi yang banyak menampilkan kekerasan, mistisisme, hura-hura ala sinetron dapat menyebabkan anak-anak muda usia sekolah mengalami depresi dan sakit jiwa. Bahkan dalam bahasa seorang sutradara Peter Weir, sebagai “toxic culture,” sebuah tayangan yang terlalu memamerkan kekerasan sangat tidak mendidik dan dapat menyebabkan kriminalitas di usia muda meningkat, egoisme tambah menjadi-jadi, bahkan juga dapat merusak lingkungan dan budaya sekolah yang tidak sehat (Bennet: 2000).

Karena itu kita memerlukan kecerdasan kebijakan dan politik, disertai dengan program yang benar tentang pentingnya media literacy dalam kurikulum pendidikan kita agar memiliki daya tahan dalam meredam efek negatif dari media. Jika hal ini dilakukan, tentu saja akan tersedia peluang sekaligus tantangan bagi masa depan dunia pendidikan kita, baik berupa pengaruh terhadap proses belajar mengajar di kelas maupun pola asuh orangtua di rumah. Suka maupun tidak, dampak dari globalisasi melalui tuntutan gaya hidup dan budaya popular ini juga telah merambah kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan hukum dan kesehatan masyarakat.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy