Ahmad Abdul Haq


Antara Universitas Pecel Dan Pizza

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 09 April 2012 10:45 WIBAntara Universitas Pecel Dan Pizza

Antara Universitas Pecel Dan Pizza Dengan angka partisipasi kasar (APK) sekitar 18%, jelas perguruan tinggi di masih merupakan barang mewah bagi sebagian besar remaja Indonesia. Ini artinya kesempatan anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi masih terbilang rendah, apalagi jika kondisi tersebut dibarengi dengan kondisi sosial-ekonomi garis kemiskinan masyarakat sejak tahun 2002-2008 ada di kisaran 19%. Dengan gambaran situasi seperti ini, jelas posisi perguruan tinggi kita seperti berada di ujung jurang yang mungkin tak memiliki tepi, karena biasanya tuntutan terhadap kualitas dan rendahnya biaya pendidikan merupakan persoalan teramat penting bagi posisi perguruan tinggi.

Dari sisi kualitas, posisi dan status perguruan tinggi kita sangat amat beragam. Beberapa perguruan tinggi dapat "berbicara" di tingkat global, namun, secara jujur harus diakui, sebagian besarnya sulit bersuara bahkan untuk tingkat regional sekalipun. Keadaan ini diperparah oleh respons yang salah dari perguruan tinggi, terutama dalam mensikapi problem "survival". Perguruan Tinggi kini sedang menghadapi situasi yang sangat tidak mudah, di satu sisi tuntutan stake holders terhadap kualitas perguruan tinggi sangat tinggi, pada sisi lain kekuatan pembiayaan pengelolaan perguruan merosot tajam. Terdapat semacam dilema, apakah perguruan tinggi harus memenuhi tuntutan kualitas dengan biaya tinggi, atau mengikuti kekuatan ekonomi pasar yang sedang tidak menggembirakan.

Sebagai akibatnya, tidak sedikit perguruan tinggi yang cenderung mengambil  jalan pintas dalam merespon tantangan yang demikian rumit itu. Ada asumsi pragmatis, kalau konsumen kuatnya hanya membeli "pecel", jangan sediakan "pizza". Mereka kemudian beramai-ramai membuat perguran tinggi “ecek-ecek” alias murahan. Dalam jangka panjang, pemilihan strategi pragmatis sebenarnya dapat berarti menggali lubang kuburnya sendiri, meski dalam jangka pendek nampak seolah dapat menyelesaikan masalah. Dengan "mengabaikan" kualitas, disadari atau tidak, terjadi pembusukan di tubuh perguran tinggi bersangkutan.

Salah satu penyebab munculnya universitas `pecel` sesungguhnya merupakan tamparan bagi daya saing yang menjadi ruh bagi perkembangan sebuah perguruan tinggi. Salah satu inti dari daya saing adalah keinginan universitas untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sumberdaya keuangannya dengan prinsip yang transparan dan akuntabel. Dalam pengelolaan keuangan dan pengembangan SDM, Michael Shattock (2003) dalam bukunya Managing Successful Universities menyarankan agar pimpinan universitas benar-benar harus memperhatikan 7 prinsip dasar, yaitu: (1) the need to monitor earned income streams closely and individually; (2) the need for investment and reinvestment; (3)the need to develop pricing policies as part of an institutional `business` strategy; (4) the need to consider a vertical integration of `commercial` activities rather than outsourcing them; (5) the need to share earned income and surpluses between the university and its departments; (6) the need to maintain academic trust in the prosess;dan (7) the need to develop professionalism and managerial capability

Kemampuan universitas dalam mensikapi tantangan dan trend yang dibawa oleh jaman akan sangat menentukan apakah sebuah universitas dapat tetap kompetitif atau kehilangan pasar. Tantangan dan trend inilah yang memaksa dan mengharuskan universitas untuk menerapkan logika korporasi, dengan mengedepankan prinsip-prinsip efisiensi pembiayaan, memperhitngkan setiap resiko (calculability), dan kemampuan untuk memprediksi tantangan dan trend ke depan (predictability).  Dalam bahasa Kezar (2000), peran seorang rektor akan semakin menyerupai manajer perusahaan, dan manajemen universitas makin menitikberatkan pada akuntabilitas. Salah satu dampak dari perubahan ini adalah bergesernya fokus pendidikan dari sasaran utamanya, yaitu mahasiswa. Tuntutan masyarakat akan kualitas pendidikan tinggi yang bermutu dan murah pasti akan menyulitkan universitas dalam mendesain, baik program maupun kepastian lulusannya agar dapat diterima pasar kerja (Kovel-Jarboe, 2000).

Setiap universitas dapat dipastikan memiliki problem sosialnya sendiri. Pada saat bersamaan, dalam setiap masyarakat juga memiliki masalah dan isu-isu yang berkaitan dengan dunia universitas. Strategi yang mungkin akurat untuk mengatasi masalah-masalah tersebut sangat bergantung dengan kondisi struktur dan kepemimpinan pada tingkat lokal dan latar belakang kesejarahan masyarakat itu sendiri. Segenap potensi sumberdaya universitas seyogyanya digunakan untuk memperbaharui, memvalidasi dan memperluas wilayah keilmuan yang bersifat humanis dengan menggunakan metode-metode pengetahuan standar. Metode pengetahuan tentu saja hanya dapat ditransmisi dalam suatu tatanan masyarakat yang demokratis dan terbuka sebagai bentuk way of life. Pentingnya budaya demokratis yang bertanggungjawab di universitas adalah tuntutan lain dari kebutuhan dan perkembangan psiko-sosial mahasiswa kita yang semakin sensitif terhadap semua jenis isu sosial dan politik (Dickinson, 1991).

Terserah para pengelola perguruan tinggi, ingin meningkatkan kapasitas daya saing dengan tetap menggunakan logika berdagang `pecel`, atau berkomporomi dengan pola pengelolaan pembiayaan ala korporasi `pizza` agar memiliki daya saing global. Atau, ada alternatif lain selain pecel dan pizza?


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy