Ahmad Abdul Haq


Koridor Pendidikan

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 07 Juni 2012 09:00 WIBKoridor Pendidikan

Koridor Pendidikan Paula Allman dalam Critical Education Against Global Capitalism: Karl Marx and Revolutionary Critical Education (2010), dengan gamblang menjelaskan kegagalan sistem pendidikan yang terlalu berorientasi kepada pasar dan dunia industri. Ada dua alasan mengapa Allman sangat pesimis, yaitu (1) dunia saat ini tidak bisa menghindari kapitalisme dalam segala bentuknya; (2) hampir dapat dipastikan bahwa seluruh proses belajar yang berlangsung di ruang-ruang kelas saat ini justru cenderung anti-realitas, sehingga antara das sein dan das solen dalam dunia pendidikan tak pernah nyambung.

Karena tak bisa menghindar dari arus kuat kapitalisme, perencanaan pembangunan juga mengikuti logika kapitalisme. Kebijakan pemerintah untuk membuat koridor pembangunan ekonomi di enam wilayah juga tak terlepas dari arus kuat kapitalisme. Jika koridor Sumatera fokus pada sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional, maka Jawa fokus pada pendorong industri dan jasa nasional. Kalimantan fokus untuk pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional, Sulawesi sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas dan pertambangan nasional, Bali-Nusa Tenggara fokusk sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional, serta koridor Papua-Kepulauan Maluku sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energi dan pertambangan nasional.

Pertanyaan sederhanya adalah, bagaimana dengan koridor pendidikan kita, apakah harus menyesuaikan diri dengan koridor ekonomi atau berseberangan jalan? Dalam logika pedagogis yang sederhana, tentu tak mudah untuk menjawabnya, apakah arah dan pembangunan pendidikan harus sejalan dengan arus ekonomi pasar atau pasar ekonomi yang menentukan arah pendidikan hendak di bawa kemana. Sekolah dan atau sistem pendidikan kita perlu mengkajinya secara komprehensif dan bertanggungjawab, sambil tak lupa membuat inovasi pedagogis untuk menjawab tantangan di atas.

Bagi saya, para pengambil kebijakan di bidang pendidikan harus secara sungguh-sungguh memiliki keinginan untuk membebaskan anak didik dari keterasingan realitas sosial yang berlangsung di sekitar mereka. Belajar dari warisan Paulo Freire, seyogyanyalah jika pendidikan harus dibebaskan dari penindasan dan kesewenang-wenangan birokrasi, guru dan pendidik yang selalu mencoba membuat siswa/mahasiswa terperangkap, tak berdaya dan terbenam ke dalam “kebudayaan bisu” (submerged in the culture of silence).

Proses pendidikan yang benar, di sekolah maupun di kampus, seharusnya dipenuhi oleh sikap kritis dan daya-cipta guru dan dosen yang berorientasi pada pengembangan bahasa pikiran (thought of language) siswa sehingga memiliki kemampuan untuk mengasah daya jelajah imajinasinya sesuai dengan lingkungan di mana mereka bertempat tinggal. Karena itu sangat penting dalam proses belajar-mengajar guru dan dosen harus lebih banyak memerhatikan aspek kesadaran (consciousness) siswa mereka yang terpusat pada aspek afektif dan psikomotorik.

Dalam bahasa yang gamblang bahkan Fraire membuat ilustrasi dialektika yang ajeg dalam komponen pendidikan, yaitu pengajar (guru/dosen), pelajar (siswa/mahasiswa) dan realitas dunia. Pengajar dan pelajar adalah subyek yang sadar (cognitive), sementara realitas dunia adalah obyek yang harus disadari (cognizable). Pertanyaannya adalah, apakah skema pengajaran dalam sistem pendidikan kita selama ini menggunakan jenis dialektika ini? Kita berani mengatakan tidak. Karena hampir semua bahan ajar yang diajarkan di ruang-ruang kelas terasa jauh dari realitas dunia mereka. Pengulangan demi pengulangan seringkali terjadi sehingga guru menjadi mati rasa karena tak memiliki kemampuan membaca pesan realitas sosial dalam subjek yang mereka ajarkan.

Kritik Fraire jelas sekali dalam hal ini, yaitu bahwa sistem pendidikan yang mapan di mana pun itu selalu menggunakan banking concept of education, yang titik egonya adalah siswa/mahasiswa diberikan ilmu pengetahuan agar kelak mendatangkan hasil yang berlipat ganda. Siswa/mahasiswa adalah obyek investasi dan sumber deposito potensial para guru dan birokrat yang harus terus menerus dieksploitasi laksana komoditas ekonomi. Dengan pendekatan inilah sekolah dan kampus dibangun, sehingga daftar antagonisme pendidikan gaya bank ini terus berkembang dan berlanjut, seperti guru mengajar- murid belajar, guru tahu segalanya-murid tidak tahu apa–apa, guru mengatur-murid diatur dan sejenisnya.

Dalam konteks ini, meskipun telah banyak diperkenalkan wacana dan paradigma tentang gaya belajar-mengajar yang harus berpusat kepada kebutuhan siswa (student center), tetapi prakteknya tetap saja gaya bank yang lebih banyak berlaku. Karena itu tak heran, jika banyak siswa/mahasiswa menjadi sesak nafas dan terbiasa mengambil jalan pintas ketika tak memiliki kemampuan dalam menghadang realitas dunia yang semakin konsumtif dan hedonis. Padahal pendidikan seharusnya menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakkan sosial budaya (social and cultural domestication).

Koridor pendidikan kita harus dibangun di atas kesadaran kritis yang secara terus menerus harus didengungkan para guru dan dosen dalam sebuah proses belajar mengajar yang benar, bukan kesadaran semu yang dibangun di atas dokumen kurikulum yang rigid dan serba membingungkan. Hanya dengan inilah immune system dunia pendidikan kita yang berlandaskan ideologi Pancasila dapat bertahan dalam gelombang global kapitalisme yang tak bisa dibendung dan dihindari.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy