Ahmad Abdul Haq


Pengusaha Berdampak Ganda

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 24 Mei 2012 10:37 WIBPengusaha Berdampak Ganda

Pengusaha Berdampak Ganda Menyoroti situasi bangsa dan negara saat ini, banyak pihak yang tergelitik untuk melakukan sesuatu untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang ada. Menyadari bahwa tidak semua persoalan bisa ditangani oleh pemerintah, lalu belakangan ini mulai muncul berbagai gerakan sosial dengan agenda masing-masing. Bidang yang ditangani sangat variatif, namun ada dua faktor yang sangat berperan untuk keberhasilan sebuah gerakan sosial yaitu model perubahan yang handal dan dukungan finansial yang kuat.

Banyak gerakan-gerakan sosial yang lalu berusaha menggandeng para pengusaha untuk mengusung agendanya. Dalam beberapa kasus lalu terjadi semacam ketergantungan antara gerakan sosial dengan pengusaha. Pada situasi ini, situasi tarik ulur untuk saling mengendalikan menjadi hal yang kerap ditemui.

Jika kita tanya pada para pengusaha, tentu ada dari mereka yang rela memberikan sumbangan tapi bosan menyumbang ke yayasan yang sama. Ada juga yang mempertanyakan bagaimana exit strategy dari sebuah inovasi sosial supaya tidak semata-mata tergantung dari donasi mereka. Sementara jika kita tanya pada para pekerja sosial, mereka juga menginginkan adanya kemandirian dalam mewujudkan agenda yang mereka cita-citakan, sehingga perjuangannya bisa menjadi lebih murni dan fokus. Mereka menginginkan adanya sebuah dukungan yang kesinambungan (sustainability support), tanpa harus tergantung dari pihak lain.

Dari sisi manusianya, kita tahu siapa itu pengusaha, dan kita pun tahu siapa pekerja sosial. Namun jika karakter wiraswasta dari seorang pengusaha digabung dengan kemurnian dari seorang pekerja sosial akan muncul kombinasi unik yang berbeda. Istilah ini mungkin baru muncul sepuluh tahun terakhir dan dikenal dengan istilah social entrepreneur atau wiraswasta sosial. Pekerja sosial tidak otomatis menjadi wiraswasta sosial jika tidak menggunakan ketangkasan berbisnis dalam menjalankan misi sosialnya, Demikian pula seorang pengusaha tidak serta merta menjadi wiraswasta sosial hanya dengan melakukan CSR (corporate social responsibility) lewat perusahaannya. Kitapun tahu CSR sering kali  terbatas pada seremonial yang lebih bersifat ad hoc sehingga dampaknya terhadap pembangunan sangat terbatas.

Jadi apa yang membuat seseorang layak disebut wiraswasta sosial? Definisi yang mungkin paling sederhana adalah mereka yang mengusahakan perubahan sosial di lingkungannya melalui sebuah pengelolaan usaha, dengan menerapkan prinsip-prinsip bisnis, yang berkesinambungan dan tidak tergantung dari donasi. Dalam hal ini seorang wiraswasta sosial perlu memiliki ketangkasan berbisnis mampu memiliki pendapatan tetap yang dapat menutupi biaya program sosialnya.

Ada beberapa contoh wiraswasta sosial kelas dunia yang saya kenal yang memiliki program yang cukup inspiratif dan berkesinambungan. Salah satu contohnya Jack Sim. Jack dikenal sebagai bapak toilet sedunia. Jack mendirikan World Toilet Organization (WTO) karena dipicu oleh kenyataan bahwa ada 2.7 milyar orang di dunia yang tidak memiliki toilet atau akses ke toilet. Hal ini membawa Jack untuk membangun sistem sanitasi dan toilet di berbagai negara di dunia dan berdampak pada jutaan orang.

Dalam menjalankan misinya ini, Jack menggunakan cara-cara bisnis yang menghasilkan dana yang cukup untuk ekspansi ke seluruh dunia. Caranya adalah dengan mendirikan sekolah World Toilet College serta menjual franchise dan pelatihan sanitasi dan toliet ke seluruh dunia.

Runa Khan dari Bangladesh dikenal sebagai inovator sosial yang cukup impresif. Bangladesh adalah negara yang memiliki infrastruktur yang terbatas. Selain sering kebanjiran, sebagian besar rakyat tinggal di pedesaan yang tidak dapat diakses lewat jalan darat. Saking gemasnya dengan sistem pelayanan kesehatan di negaranya, Runa mendirikan rumah sakit apung yang melayani desa-desa yang terpencil. Melalui kehadiran kapal kesehatannya, ratusan desa telah menerima pelayanan kesehatan. Bukan hanya itu, tenaga ahli kesehatan dan para relawan yang bertugas di atas rumah sakit apungnya juga mendirikan semacam puskesmas sekaligus memberikan pelatihan kepada warga desa sehingga mereka bisa memiliki pusat kesehatan desa yang memadai.

Biaya operasional dari rumah sakit terapung ini didanai Runa melalui beberapa usaha terkait dengan perkapalan. Runa membangun dan menjual kapal tradisional selain itu Auna mendirikan museum kapal Bangladesh. Dari kedua usaha ini biaya rumah sakit apung tercukupi. Bahkan tahun lalu, Green Peace memberikan Runa sebuah kapal second hand untuk dipakai melayani ke desa-desa di Bangladesh.

Di Indonesia pun ada banyak wiraswasta sosial yang bermunculan. Misalnya kawan saya Silverius Unggul, atau yang akrab dipanggil Onte. Mulai dari memerangi ilegal logging dan menanam kembali hutan yang gundul, Onte kemudian mendidik dan memberdayakan ratusan pengrajin kayu supaya memiliki kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Perkumpulan usaha sosial ini terdiri dari beberapa perusahaan termasuk sebuah stasiun radio dan TV di Kendari dan koperasi yang beroperasi di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini membuat organisasi yang Onte pimpin, Yacita dan Talapak, menjadi  sebuah social enterprise, atau perusahaan dengan misi sosial.

Sama juga dengan pejuang kemanusiaan lain seperti salah satu Kick Andy Hero 2012, Irma Suryati. Irma adalah penderita polio yang membangun industri keset dari kain perca di Kebumen, Jawa Tengah. Lewat industri kecilnya ini, Irma bukan hanya mendaur ulang sisa-sisa kain dari industri garmen, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang sedesanya. Tipe bisnis Irma tergolong bisnis hijau dengan triple bottomline yaitu: profit, people, planet.

Berbuat baik itu adalah hal yang luar biasa - dan, memang tidak ada salahnya berbuat baik dengan berharap pada sumbangan atau kemurahan hati pendonor. Namun ini adalah model tradisional yang akan mulai sulit untuk terus dapat memikat hati para pendonor di masa mendatang. Bukan saja pendonor di tingkat individu, namun juga di tingkat lembaga dan perusahaan.

Sudah saatnya Indonesia bangkit dan menelorkan wiraswasta sosial handal yang bukan saja peduli tapi juga inovatif. Dibutuhkan inovator sosial yang menciptakan program-program perubahan sosial di masyarakat dengan menghasilkan dana yang tetap bergulir. Waktunya akan segera tiba di mana pendonor akan lebih selektif dalam memberikan bantuannya. Memberi, melihat kesinambungan serta keberhasilan dari sebuah proyek sosial yang didukung jelas merupakan insentif tersendiri buat para dermawan.

Suasana sama-sama menang (win-win solution) dan sama-sama maju harus diciptakan. Ketika donasi berubah menjadi modal inovasi sosial dan pendonor bisa lanjut memberkati pekerjaan sosial lain, maka dampak bergulir ini akan terus tercipta bak gelombang laut yang memecah di pantai gerakan kemanusiaan.

Jika Anda adalah pekerja sosial, mari kita mulai bergerak untuk memurnikan agenda dengan menciptakan kemandirian dan kesinambungan. Dan jika Anda adalah pengusaha, mulailah untuk memikirkan inovasi sosial apa yang baik dan perlu dilakukan untuk masyarakat kita. Jangan jadi pengusaha yang biasa-biasa saja, jadinya pengusaha berdampak ganda.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy