Ahmad Abdul Haq


Buku Palsu, Sarjana Palsu?

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Selasa, 11 Nopember 2014 09:27 WIBBuku Palsu, Sarjana Palsu?

Buku Palsu, Sarjana Palsu?

Ada ribuan cerita menarik dibalik proses wisuda sebuah perguruan tinggi, salah satunya adalah kegemaran para wisudawan untuk berfoto saat mengenakan seragam kebesaran wisuda, berbaju toga. Dari puluhan acara wisuda yang saya hadiri, baik sebagai orangtua ketika anak di wisuda, sebagai suami juga ketika istri di wisuda, maupun sebagai tamu kehormatan karena menyampaikan orasi ilmiah, saya selalu iseng untuk merandom mewawancara para wisudawan secara informal. Beberapa mahasiswa selalu saya Tanya, berapa banyak buku yang mereka selesaikan membacanya selama masa kuliah berlangsung? Jawaban sungguh memilukan, rata-rata para wisudawan kita mengaku hanya membaca buku rata-rata 1-2 buku dalam 4-5 tahun masa kuliah.

Ini sebuah ironi kemampuan membaca mahasiswa kita yang memang rendah atau ketidakberdayaan kampus beserta seluruh civitas akademika-nya dalam merancang program yang memungkinkan para mahasiswa menjadi pembaca buku? Perlu disurvey secara resmi data ini, dan jika perlu ini dijadikan bagian dari proses penilaian akhir doses dan akreditasi prodi hingga institusi sebuah perguruan tinggi. Karena tak bisa dibayangkan, jika banyak mahasiswa kita yang lulus dan diwisuda tetapi dalam 4 tahun hanya membaca 1-2 buku hingga tamat dan memahami. Lebih luas dari itu, kita juga perlu membaca secara seksama skripsi para mahasiswa yang terkesan lebih banyak copy-paste tinimbang mengusung ide dan gagasan baru dari penelitian yang dilakukannya.

Dengan kondisi dan kemampuan membaca seperti itu, pantas jika kemudian ada beberapa pengunjung prosesi wisuda di beberapa perguruan tinggi menyebut gelar sarjana mereka palsu, sepalsu buku-buku yang dijadikan latar belakang foto-foto mahasiswa saat merayakan hari wisuda. Banyak tukang foto memasang billboard dan spanduk buku-buku seperti gambar rak-rak buku perpustakaan, dan para mahasiswa dengan bangga berfoto dengan latarbelakang seolah-olah mereka mencintai buku. Inilah bentuk nyata dari orientasi pendidikan yang berorientasi pada hasil, dimana gelar kesarjanaan identik hanya dengan selembar ijazah. Pendek kata, reading proficiency sebuah Negara tergantung pada kemampuan para siswa dan mahasiswa dalam membaca.

Negara sebesar dan sekuat Amerika saja, saat ini hanya berada pada urutan ke 15, bahkan di bawah dari Estonia dan Selandia Baru dalam hal reading proficiency. Sementara China dan Korea Selatan termasuk urutan pertama dan kedua dalam hal peningkatan tradisi membaca di kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakatnya. Dimanakah posisi Indonesia dalam hal tradisi membaca ini? Tak perlu ditanya dan jawabannya sangat mudah ditebak. Dari hasil Progress in International Reading Literacy Studies (PIRLS) 2011, yang diselenggarakan oleh the International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) dan dipublikasikan pada tahun 2012 lalu, posisi Indonesia sama sekali jauh dari membanggakan dan menggembirakan.

Secara rata-rata, hasil PIRLS menempatkan siswa kelas empat di urutan ke-42 dari 45 negara denga rata-rata 428 . Dari data ini seharusnya membuat kita prihatin dan mampu menggugah kesadaran kita semua, termasuk para pengambil kebijakan di bidang pendidikan, akan risiko yang akan dihadapi bangsa ini bila pendidikan tidak ditangani dengan tepat. Minimnya budaya baca bangsa ini, menurut saya, salah satunya disebabkan oleh kebijakan ujian nasional. Saya menandai bahwa dalam banyak hal, tradisi membaca tak tumbuh karena dalam proses belajar mengajar di sekolah, anak-anak kita lebih banyak diajarkan untuk menghafal, terutama menghafal jenis soal yang akan keluar dalam ujian nasional.

Selain itu, generasi pembaca juga tak tumbuh dengan baik, karena belenggu kebijakan pendidikan kita memang sengaja tak menciptakan kecintaan terhadap membaca. Jika proses belajar-mengajar terus dipacu dan dipicu berdasarkan hasil akhir berupa kelulusan dan ijazah semata, maka jangan berharap akan tumbuh budaya membaca yang sehat dan tinggi di kalangan siswa kita. Orientasi terhadap hasil akhir inilah justru menciptakan minim dan rendahnya minat baca siswa dan guru dalam mengarungi fantasi belajar yang menyenangkan.

Di sekolah, jangan ditanya, minat baca guru dan siswa juga setali tiga uang. Beberapa survey tak resmi menyebutkan bahwa kemampuan membaca guru dan siswa kurang dari satu jam perhari. Lagi-lagi penandanya adalah karena proses belajar-mengajar kita masih menjalankan tradisi hafalan yang lebih banyak dari tradisi membaca. Saya meyakini, jika kita tak mengubah kebijakan ujian nasional, maka jangan berharap akan muncul dan tumbuh budaya membaca yang tinggi di kalangan siswa sekolah. Kita perlu mengubah kebijakan ujian nasional agar tradisi membaca bisa tumbuh secara maksimal di lingkungan guru dan siswa.

Seperti di India, kita perlu membuat kebijakan semacam One Nation Reading Together, agar ada peringatan secara nasional tentang pentingnya membaca sebagai salah satu alat mempertahankan kedaulatan Indonesia. Tanpa tradisi dan budaya baca yang baik, ketahanan nasional kita akan habis terkikis oleh tradisi teknologi informasi yang liar karena tak mengenal batas teritori sebuah negara. Selain itu penting juga agar setiap sekolah di Indonesia perlu menggelar agenda hari membaca (reading day) setiap minggu, yang diintegrasikan secara khusus penjadwalannya ke dalam siklus belajar-mengajar siswa.

Kita memerlukan banyak buku di sekolah dan kampus-kampus kita. Buku yang asli, bukan gambar seperti terlihat dalam parodi wisuda para sarjana kita, agar anak tak bertanya-tanya, mengapa kita harus membaca padahal buku yang harus dibaca tak disediakan sekolah. “There is no friend as loyal as a book,” kata Ernest Hemingway. Dan tanggungjawab sekolah dan kampus adalah memberikan fasilitas buku bacaan yang cukup agar anak-anak dan mahasiswa memperoleh teman- teman perjalanan mereka yang setia setiap saat. Bangsa ini terlalu besar dan kaya dengan tradisi dan budaya. Hanya tradisi membacalah yang dapat menjaga kekayaan budaya bangsa dari kepunahan.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy