Ahmad Abdul Haq


Jangan-Jangan, Kurikulum-mu Bukan Kurikulum-ku

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Rabu, 07 Januari 2015 23:58 WIBJangan-Jangan, Kurikulum-mu Bukan Kurikulum-ku

Jangan-Jangan, Kurikulum-mu Bukan Kurikulum-ku

Menarik mengikuti penjelasan Menteri Muhammad Nuh tentang pembeda antara kurikulum lama dengan kurikulum 2013 bentukan tim pakar besutannya. Menurut Pak Nuh, kurikulum lama itu ibarat sebuah baju yang dirancang secara sepotong-sepotong, dan ketika jadi ternyata lengannya pendek sebelah, warnanya rupa-rupa, kerahnya kekecilan, lingkar perut dan dada berbeda desain dan lain sebagainya. Pendek kata, baju tersebut tetap disebut sebagai baju, namun kurang elok jika dipakai dimuka umum.Para pembuat pola dalam kurikulum lama adalah para guru yang terlatih hanya membuat pola saja.Misalnya, pola matematika, fisika, biologi, agama, sejarah geografi dan sebagainya, namun tak ada kesamaan tema dan terintegrasi antara satu pola dengan pola lainnya.

Nah, sedangkan kurikulum baru menurut Pak Nuh memiliki keseragaman pola, sehingga ketika jadi jelas bentuk dan ukurannya. Tetapi jika mengikuti logika ini tersisa pertanyaan sederhana: Apakah yang akan menjalankan kurikulum baru adalah para guru yang terbiasa membuat pola lama atau guru baru yang sudah mengerti format baru kurikulum anyar ini? Sayanganya jawabannya adalah tetap para pembuat pola lama yang terbiasa mengajar dengan bidang studi mereka masing-masing.Apakah dengan pelatihan yang hanya sekali dan dua kali para pembuat pola lama ini langsung bisa membuat model baju baru dalam kurikulum baru? Belum tentu. Hal ini terlihat dari kebijakan pelatihan guru tahun lalu, di mana para guru yang sudah dilatih dan memperoleh predikat guru inti kemudian di-grounded alias dianggap tidak efektif.

Saya orang yang sangat percaya pada adagium at-thoriqotu ahammu min al-maddah (metode dan strategi itu lebih baik daripada isi).Lebih dari 90% kondisi guru-guru kita adalah mereka yang tidak memiliki keduanya.Kedalaman materi atau subject matter yang lemah, juga kemampuan metodologis dan pedagogis yang tanggung.Padahal, kurikulum baru versi timnya Pak Nuh ini sangat kencang berorientasi pada aspek metodologis dan pedagogis. Jadi, pasti akanada kebingungan luar biasa, dan dalam prediksi saya, guru-guru kita yang serba terbiasa dengan “bimbingan dan tuntunan” versi SKKD lama akan terjerembab lagi ke dalam lembah formalitas implementasi kurikulum yang kaku dan membingungkan peserta didik.

Kekhawatiran saya memiliki alasan tersendiri, karena cara dan skema pelatihan guru yang didengungkan akan mensertakan partisipasi masyarakat tetap belum jelas muasalnya. Selain itu selama pemerintah tidak membuat skema pelatihan berbasis sekolah, sekali lagi berbasis sekolah dan bukan mencabut guru, kepala sekolah dan pengawas satu persatu dan dikumpulkan secara homogen dengan guru, kepala sekolah, dan pengawas dari sekolah lainnya, maka implementasi kurikulum baru jelas akan mengalami kegagalan. Belum lagi jika angin politik setelah 2014 berubah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki menteri baru yang memiliki selera baru lagi dalam proses implementasi kurikulum baru ini.
Seperti terlihat dalam sejarah pendidikan di Indonesia, dalam 30 tahun terakhir perubahan kurikulum di Indonesia selalu bersifat top-down approach, dengan mengambil perubahan pada aspek kurikulum dengan menggunakan simplistic curriculum change approach, atau fokus perubahan yang menitikberatkan pada aspek kapasitas guru dengan model pendekatan teacher competence development approach. Meskipun pelibatan semua pemangku kepentingan telah dilakukan, tetapi jika dilihat dari sudut pandang arah perubahan kurikulum yang diinginkan, nampaknya agenda untuk memasukkan secara serius perbaikan manajemen sekolah belum dimasukkan ke dalam skema perubahan kurikulum.

Yin Cheong Cheng dalam Effectiveness of Curriculum Change in School:An Organizational Perspective (1994) mengingatkan agar perubahan kurikulum bisa berlangsung setidaknya di tiga level, yaitu individu guru, kelompok, dan sekolah.
Organizational Model of Curriculum Change ini jelas harus memasukkan agenda seperti perbaikan manajemen sekolah, memberlakukan kurikulum berbasis sekolah (school based curriculum),  serta membiarkan sekolah memiliki strategi implementasi kurikulum berdasarkan perencanaan pengembangan sekolah yang sesuai dengan visi dan misinya.

Karena itu melakukan mekanisme dan prosedur pengangkatan kepala sekolah yang terbuka dan menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan tujuan pengembangan kurikulum 2013 adalah imperatif. Demikian juga melakukan workshop penguatan kapasitas leadership dan manejemen sekolah adalah merupakan keharusan yang tidak bisa diabaikan dalam proses implementasi kurikulum 2013. Banyak hasil riset tentang pengembangan kurikulum menunjukkan, bahwa perubahan kurikulum sebaiknya selalu menimbang kebutuhan lokal sekolah dan budaya yang berkembang di sekitarnya. Artinya, kontekstualisasi kurikulum dengan menempatkannya di jantung sekolah (curriculum school based program) adalah hal yang tidak bisa ditawar untuk dilakukan, jika tak ingin kurikulum baru bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy