Ahmad Abdul Haq


Madu tak Selamanya Manis

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 23 Agustus 2007 12:00 WIBMadu tak Selamanya Manis

Madu tak Selamanya Manis Mulanya semua begitu indah. Dua hati yang bertaut membuat Yuni dan Larry Levesque sungguh ceria. Perbedaan suku bangsa bukan masalah. Mereka membayangkan masa depan yang bahagia bersama Thomas, sang buah hati hasil perkawinan mereka. Namun apa mau dikata. Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia membuat Larry harus kehilangan pekerjaan. Perusahaan tempatnya bekerja ditutup dan harus pindah lokasi ke negara lain. Kualifikasi gaji dan posisi yang terlalu tinggi membuat pria asal Amerika ini tidak mudah mencari pekerjaan pengganti. Menghadapi situasi ini, Larry frustasi. Dia mulai menjadi pecandu alkohol. Pria yang ramah ini berubah pemarah. Keaadaan terus memburuk. Tabungan menipis. Akhirnya mereka sepakat berangkat ke Amerika, ikut program repatriasi. Tapi sayang, nama Yuni tidak termasuk yang disetujui dalam program itu. Pihak Konjen AS bilang program itu hanya untuk warganegara Amerika, tutur Yuni. Maka Yuni terpaksa tinggal dan berjanji akan menyusul. Pada saat uang terkumpul, Yuni berangkat ke Amerika dengan visa turis. pertemuan yang diharapkan indah itu ternyata menjadi awal penderitaan Yuni. Selama di Amerika suaminya ternyata semakin parah tenggelam dalam minuman keras. Larry yang kepergok sedang mabuk berat justru mengusir Yuni. Bahkan Yuni juga tidak diperkenankan bertemu sang buah hati. Ketika Yuni memaksa, Larry menelepon 911 bahkan kemudian polisi. Yuni ditangkap, diborgol, lalu ditahan. Upaya untuk membawa serta Thomas tidak berhasil. Bahkan Yuni terpaksa balik ke Indonesia tanpa si buah hati. Sejak itu, dengan segala cara, Yuni berjuang mendapatkan hak perwalian atas Thomas. Apalagi ketika dia mendengar kabar anak semata wayangnya itu sekarang diasuh oleh orangtua angkat atas keputusan pengadilan karena menjadi korban kekerasan sang ayah. Dengan undang-undang Kewarganegaraan yang baru saya berharap peluang mendapatkan Thomas jadi lebih besar, ujar Yuni penuh harap. Cerita pedih semacam ini juga dialami Marcellina, yang sempat masuk rumah sakit jiwa tiga kali akibat laporan sang suami. Setelah menikah dengan Tom Mustric, warganegara Amerika, Marcellina baru menyadari pria yang dikenalnya baik dan ramah itu ternyata punya kecenderungan melakukan kekerasan dalam rumahtangga. Sejak itu ibu dua anak ini bagaikan hidup di neraka. Apalagi harus menghadapi situasi itu seorang diri di negeri orang. Hukum juga berpihak pada sang suami. Maka lengkaplah sudah cerita kelabu perkawinan campur yang tadinya diharapkan menuju ke kebahagiaan. Tom semakin sewenang-wenang. Marcellina kian menderita. Pernah karena sudah tak tahan lagi, Marcellina bersembunyi tiga bulan di rumah penampungan perempuan korban kekerasan dalam rumahtangga sebelum berhasil lolos ke Indonesia. Sang mertua sempat mengajukan proses hukum untuk merebut kedua cucunya dari tangan Marcellina. Tapi sekarang mereka sudah bisa menerima anak-anak di bawah pengasuhan saya, ujar wanita keturunan Tionghoa ini. Kisah Yuni dan Marcellina mengingatkan para wanita Indonesia untuk berhati-hati ketika ingin menikah dengan pria asing. Sebab hukum perwalian anak di negara asal sang suami kerap sangat melindungi warganegaranya. Banyak wanita Indonesia yang harus kehilangan anak akibat lemahnya dukungan hukum di Indonesia serta tiadanya perjanjian pra nikah yang dibuat. Sikap berhati-hati tentu perlu. Walau ada juga cerita Amalia dan Wayne Lerrigo yang menikah puluhan tahun, sudah punya cucu, dan sampai sekarang bahagia. Waktu itu kami memang tidak pakai perjanjian pra nikah, ujar Amalia. Saya sebenarnya tidak suka perjanjian pra nikah, ujar Wayne, yang warganegara Amerika itu. Saya lebih percaya pada cinta.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy