Ahmad Abdul Haq


Dengan Raket Membela Negara

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 13 September 2007 12:00 WIBDengan Raket Membela Negara

Dengan Raket Membela Negara "Di All England 1976 saya benar-benar kalah dari Rudy Hartono. Saya bukan mengalah," ujar Liem Swie King. Penjelasan Itu dia lontarkan menjawab pertanyaan Andy Noya tentang kemungkinan waktu itu King dipaksa mengalah untuk memberi peluang bagi Rudy Hartono mencetak rekor juara All England tujuh kali. Dalam usianya yang baru 20 tahun saat itu, semua mata memang tertuju pada King yang dianggap sebagai anak ajaib yang bakal menggantikan kejayaan Rudy Hartono. Ramalan banyak orang itu akhirnya terbukti ketika dua tahun kemudian, pada 1978, masyarakat Indonesia menyambut pahlawan baru dunia bultangkis ketika Liem Swi King tampil sebagai jauara All England mengalahkan sang maestro, Rudy Hartono. Kisah kejayaan bulutangkis Indonesia pada masa lalu merupakan kenangan manis yang diharapkan dapat memotivasi pemain-pemain muda untuk kembali merebut dominasi Indonesia di dunia bulutangkis. Melalui Kick Andy, para kampiun badminton, antara lain Liem Swie King, Christian Hadinata, Ivana Lie, Hastomo Arby, Hariyanto Arby, Eddy Hartono, Susi Susanti, dan Alan Budi Kusuma mencoba mengembalikan memori kita pada tahun-tahun kejayaan bulutangkis Indonesia. Hastomo Arby, misalnya, mengungkapkan saat-saat menegangkan ketika di Thomas Cup 1984 tim Indonesia harus menghadapi tim Cina yang diunggulkan. Moral tim Indonesia sempat berantakan ketika Liem Swie King sebagai pemain pertama yang diunggulkan ternyata kalah. Hastomo, sebagai pemain tunggal kedua yang saat itu tidak diunggulkan, harus memikul beban berat. Apalagi lawannya waktu itu adalah Han Jian, unggulan utama tim Cina. Maka seluruh tim Indonesia melompat kegirangan dan kembali bangkit ketika Hastomo Arby di luar dugaan mampu menaklukkan Han Jian. Setelah pemain tunggal ketiga Icuk Sugiarto takluk di tangan Cina, maka satu-satunya angka yang direbut Hastomo Arby di nomor tunggal sungguh sangat berarti. Sebab dua nomor ganda putra akhirnya disabet Indonesia. Indonesia unggul 3:2. Hastomo menjadi pahlawan penyelamat. Apa strategi yang diterapkan Hastomo? "Gak ada. Karena tidak diunggulkan saya main ngawur aja," ungkap pria asal Kudus ini yang disambut tawa seluruh penonton di studio. Sementara Susi Susanti juga menceritakan momen paling penting dalam sejarah perjalanan hidupnya ketika dia mampu merebut emas di Olimpiade Barcelona 1992. Waktu itu foto Susi yang berlinang airmata dan sedang mencium bendera merah putih muncul di halaman satu berbagai media cetak. Begitu juga di semua televisi adegan tersebut diputar berulang-ulang. Menarik juga ketika kita diajak mengingat kembali prestasi keluarga Arby yang diukir oleh Hastomo, Eddy Hartono, dan Hariyanto Arby. Ketiga kakak beradik ini lahir dari ayah dan ibu yang juga pernah berjaya di arena bulutangkis pada 1940-an. Sang kakak, Hastomo, selain jadi pahlawan pada Thomas Cup 1984, juga pernah menyelamatkan muka Indonesia pada Sea Games 1979. Pada waktu itu Liem Swie King dinyatakan kalah WO karena datang terlambat. Hastomo tampil dan mengalahkan pemain Thailand untuk tampil sebagai juara. Sedangkan spesialis ganda Eddy Hartono sudah tak terhitung prestasinya di All England, Thomas Cup, Indonesia Open sampai Olimpiade Barcelona. Si bungsu, Hariyanto, yang dijuluki Smash 100 Watt ikut memberi andil atas kemenangan Indonesia di Thomas Cup 1994, 1996, 1998, dan 2000. Termasuk merebut juara All England 1993 dan 1994. Sedangkan Ivana Lie lebih menyinggung nasib para pemain bulutangkis. "Waktu latihan terlalu padat sehingga sekolah jadi berantakan. Di masa tua banyak yang baru sadar tidak bisa apa-apa selain bulutangkis." Pernyataan Ivana Lie diperkuat kenyataan empat pemain ganda Indonesia yang baru saja menyabet juara di World Championship 2007 di Malaysia. Mereka mengaku tidak dapat meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena beban latihan yang berat. Markis Kirda, Hendra Setiawan, Nova Widianto, misalnya, mengaku hanya tamat SMA. Sedangkan Lilyana Natsir bahkan mengaku pendidikannya mandeg sampai tingkat SD. Soal prilaku dan mentalitas pemain-pemain muda saat ini yang dinilai berbeda dengan para seniornya dulu, Christian Hadinata, maestro ganda Indonesia, mengaku jamannya memang sudah berbeda. Nah, jika harus memilih pemain yang berbakat tapi kurang disiplin atau yang tidak punya bakat tapi sangat disiplin? "Saya pilih yang berbakat walau kurang disiplin," ujar Christian yang kini menjadi pelatih tim Indonesia.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy