Ahmad Abdul Haq


KISAH PARA PEMBERANI

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 14 Juli 2008 12:00 WIBKISAH PARA PEMBERANI

KISAH PARA PEMBERANI Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuktikan rasa cinta dan bakti pada tanah air, meski kadangkala dengan jalan yang tidak lumrah dan sulit dipahami orang lain. Sejumlah orang mewujudkan salah satu bentuk nasionalisme mereka dengan melakukan perjalanan keliling negeri, melintas pulau-pulau nusantara dan berkelana ke kawasan-kawasan seluruh Indonesia, dengan cara masing-masing. Satu hal yang sama, dibutuhkan kekuatan fisik dan mental serta tekad yang sangat kuat untuk bisa melakukannya.

Salah satu yang bisa membuat orang geleng-geleng kepala adalah bentuk pembuktian dari Rohadi, warga desa Rakit, Banjarnegara Jawa Tengah. Kecelakaan lalu lintas yang merenggut kedua kakinya, tak lantas membuat hidupnya seakan berakhir. Bahkan dalam upayanya untuk mencari kesembuhan bagi kakinya yang mengalami infeksi tulang akibat tabrakan, Rohadi justru membuat nadzar atau kaul. Yaitu akan melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan cara apapun, jika infeksi di kakinya tersembuhkan.

Meski akhirnya solusi akhir bagi kakinya adalah dengan amputasi sebatas di bawah lutut, Rohadi tak melupakan nadzarnya. Dengan menggunakan kursi roda yang dilengkapinya dengan berbagai peralatan, Rohadi mewujudkan nadzar yang juga sekaligus obsesinya sejak lama untuk melihat langsung berbagai wilayah Indonesia, yang selama ini hanya diketahui dan dilihatnya dari berita. "Saya cuma ingin membuktikan langsung bahwa setiap daerah itu punya budaya dan karakter masing-masing yang saling berbeda satu dengan lainnya" jawabnya saat ditanya tujuannya.

Berbekal modal seadanya dan tekad membaja, Rohadi mengayuh kursi rodanya menyusuri pantai utara pulau Jawa hingga sampai Merak, dan kemudian menyeberang ke Sumatera hingga sampai di Pekanbaru Riau. Perjalanannya kemudian juga sampai ke pulau Kalimantan dan beberapa wilayah lainnya. Sempat digeledah oleh sekawanan perampok saat melintas di daerah Lampung hingga kesempatan bertemu dengan Presiden SBY di Jakarta pun pernah dialaminya.

Apa yang sebenarnya dicari oleh Rohadi? Sementara dari Tasikmalaya, seorang nenek 4 orang cucu mewujudkan rasa kecintaan pada negeri ini dengan cara yang tak kalah heboh. Mengandalkan sebuah skuter Vespa keluaran tahun 70-an, Mimin Weliana melakukan perjalanan mengunjungi seluruh pelosok Indonesia saat usianya 50 tahun pada 2004 lalu. Mantan pembalap wanita nasional tahun 70-an ini, mengendarai Vespanya melintasi daerah-daerah di pulau Jawa, Sumatera hingga Papua.

Biker wanita ini ingin membuktikan bahwa masih ada Kartini yang juga mampu melakukan hal yang umumnya hanya dilakukan kaum pria. Mulai dari bergabung dengan klub motor, mengutak-atik motor hingga touring motor jarak jauh. Bahkan saat wilayah Aceh masih bergolak, Mimin nekat melakukan perjalanan dengan Vespanya mengunjungi daerah konflik itu membawa misi perdamaian. Sebuah kenekatan yang sempat membuatnya hampir menemui petaka. Saat akan istirahat karena mesin mogok dan kelelahan, Mimin memutuskan untuk pergi ke salah satu pos polisi terdekat. "Justru disitulah ketololan saya, karena menghampiri pos dengan helm masih menutupi kepala saat gelap, saya hampir saja ditembak oleh aparat yang sedang berjaga di situ.

Saya teriak, jangan tembak pak, saya wanita. Untunglah mereka tidak langsung menembak, justru mereka tahu saya dari TV yang menyiarkan perjalanan saya" kekeh Mimin mengenang saat itu. Sukses mengelilingi Indonesia, pada 2005 Mimin meningkatkan daerah jelajahnya dengan Vespa ke sejumlah negara ASEAN. Malaysia, Singapura dan Thailand berhasil dikunjunginya dengan skuter kesayangannya selama beberapa minggu.

Kini Mimin masih memiliki obsesi untuk membawa Vespanya menyeberang benua, untuk membuat rekor dan mengabadikan nama Indonesia di salah satu negara tujuan kunjungan ibadah agama. Apa tujuan dan motivasi niatnya itu? Sedangkan Saleh Sudrajat, melakukan sebuah ekspedisi nekat dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional 2008. Pria anggota Wanadri ini, menggembleng fisik dan mental pada 2007, untuk melakukan terbang solo menggunakan pesawat microlight terbuka atau Trike melintasi negeri dari Sabang sampai Merauke pada bulan Mei 2008.

Perjalanan sejauh 6.435 km ini, menyusur lurus di atas pulau Sumatera dari Aceh, Jawa, Bali, NTB, NTT, Maluku hingga Papua dan akhirnya mendarat di Merauke. Hanya berbekal jam terbang yang terbilang minim untuk terbang solo untuk jarak jauh dan waktu yang lama, yaitu 103 jam, merupakan salah satu bentuk kenekatan pria yang mendapat julukan "Dewa Udara" ini.

Selama petualangannya menaiki angin di atas nusantara, sejumlah peristiwa dahsyat sempat dialaminya. Mulai dari diombang-ambingkan hujan badai dan angin berkekuatan sangat besar di atas wilayah antara Maluku dan Papua, yang membuat jalur perjalanannya menyimpang berputar-putar sangat jauh dari rute seharusnya, hingga dikelilingi kabut super tebal yang nyaris membuatnya menabrak gunung di atas wilayah NTT! "Akibat pusaran badai angin itu, pesawat saya pernah mengalami menukik dari 1.600 meter ke sekitar 200 meter.

Andai saja gaya gravitasi yang terjadi mencapai 4G, sayap pesawat pasti patah dan dapat terbayang apa yang akan terjadi. Yang saya lakukan hanya memegang kemudi pesawat dengan erat dan berdoa, ya Tuhan ampuni seluruh dosa-dosa saya" kenang Saleh. Namun, disitulah bukti kuasa tangan Tuhan sangat berperan. Dalam kecepatan menukik yang sangat kencang itu, kekhawatiran itu tak terjadi dan pesawat tetap utuh hingga akhirnya bisa mendarat di tempat lain, menyimpang dari tujuan semula. Ekspedisi Trike Sabang (Aceh) sampai Merauke pun sukses diselesaikan Saleh Sudrajat selama 34 hari dan mendarat di Merauke pada 18 Juni 2008 lalu.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy