Ahmad Abdul Haq


MASA KECIL YANG HILANG

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 06 Maret 2009 21:30 WIBMASA KECIL YANG HILANG

MASA KECIL YANG HILANG Seorang anak selayaknya menghabiskan masa kecilnya dengan cara-cara yang menyenangkan. Bebas melakukan apa saja yang diinginkannya, belajar atau sekolah, hingga bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Namun apa jadinya jika masa kecil yang harusnya dilalui dengan bahagia itu, terampas karena karena harus sibuk bekerja?

Hal inilah yang harus dialami sejumlah tamu Kick Andy episode ini. Lukman, Agus dan Soleman contohnya. Tiga sekawan ini, harus menghabiskan hari-harinya di bengkel sepatu dan sandal di kawasan sentra industri alas kaki Jawa Barat. Dari pagi hingga malam hari. Di saat teman-teman sebayanya ceria pergi sekolah, Lukman sudah harus membanting tulang sejak usia 8 tahun. Lukman yang kini berusia 15 tahun, hanya bisa mencicipi indahnya masa sekolah sampai kelas 6 SD. Itupun tidak sampai tamat. Begitu juga kakak beradik Agus (13 tahun) dan Soleman (12 tahun). Mereka berdua lebih beruntung, mampu mengenyam bangku SMP, meski hanya sampai kelas 1 pertengahan. Cita-cita mereka bertiga menjadi pengusaha, dokter dan tentara harus kandas. Kondisi ekonomi keluarga yang sangat pas-pasan, memaksa mereka memilih bekerja menghidupi diri sendiri dan membantu orang tua. Putus asakah mereka? Tidak. Mereka tetap semangat bekerja dan menunggu kesempatan untuk bisa bersekolah lagi dan menggapai cita-citanya.

Masih banyak sektor lain yang melibatkan pekerja anak. Mulai dari anak-anak jalanan, pembantu rumah tangga, perkebunan dan pertambangan, hingga pekerja seks komersial. Kaminah misalnya. Ia menjadi salah satu bagian dari fenomena gunung es pembantu rumah tangga di bawah umur. Kaminah menjadi korban tradisi di kampungnya di Serang, yang terbiasa membiarkan anak perempuan setamat SD untuk bekerja sebagai PRT atau TKW. Pada usia 12 tahun, Kaminah pun pergi ke kota Tangerang untuk melamar menjadi PRT.

Dan itulah awal penderitaanya. Setelah sempat bekerja selama 1 tahun 9 bulan, keberuntungan Kaminah berakhir. Majikan keduanya ternyata tidak memperlakukannya dengan wajar. Siksaan mulai dari kata-kata kasar, hingga pukulan fisik harus menderanya setiap saat. Bahkan seterika panas pun pernah singgah di tubuhnya. Jatah makannya hanya diberikan sekali pada malam hari, setelah ia harus bekerja keras dari pagi hingga malam tanpa istirahat. Kaminah pun selalu dikurung di rumah dan gajinya ditahan. Tak tahan dengan semua itu, Kaminah nekat melarikan diri meloncati tembok rumah setinggi 3 meter, hingga ditemukan tetangga sekitar majikannya. Kini, berkat bantuan LSM Jala PRT, Kaminah memperkarakan kasusnya ke pengadilan.

Sementara kisah Rina, tak kalah tragis. Sebagai anak korban broken home, Rina harus berjuang mencari uang untuk kebutuhan diri sendiri dan sekolahnya, serta membantu sang ibu dan kedua adiknya. Bidang pekerjaan yang dipilihnya pun, membuat kita mengurut dada. Rina yang kini duduk di kelas 2 SMA, menjadi pekerja seks komersial di sebuah klub malam. Sejak usia 14 tahun atau SMP!

Pergaulan dengan teman-teman yang kurang tepat, membuat tertarik Rina melakukan pekerjaan itu. Mudah (baginya) dan enak (tempat dan mendapatkan uangnya). Yang lebih mengherankan, seluruh teman-teman sekelasnya mengetahui profesinya itu. Dan Rina mengaku, mereka mampu merahasiakan ihwal pekerjaannya dari guru maupun sekolah. Sampai kapan Rina mampu merahasiakan pekerjaannya itu?

Sementara Ibrahim (14 tahun) dan Sofie (15 tahun), adalah saksi hidup pekerja anak yang pernah mati-matian bekerja di Jermal. Jermal adalah sebuah bangunan kayu di lepas pantai, yang digunakan untuk menangkap ikan laut. Jermal sempat menjadi isu besar pada era tahun 1990-an, karena banyaknya eksploitasi pekerja anak di dalamnya. Sistem kerja yang berat, tanpa istirahat dan upah rendah serta potensi kekerasan fisik dan seksual, membuat pekerja anak di jermal seakan diperbudak.

Cerita soal jermal ini jugalah, yang menarik perhatian sutradara Ravvi Bharwani dan Rayya Makarim, untuk menuangkannya dalam film layar lebar. Film yang berjudul sesuai namanya, Jermal, dibintangi oleh aktor watak senior Didi Petet. Bagaimana upaya Didi Petet menghayati perannya sebagai mandor jermal Melayu, yang bekas pembunuh dan berkarakter ”egois, kejam dan bangsat”?

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu,
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu,
dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy