Ahmad Abdul Haq


TAK SEMATA BERNYANYI

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 17 Juli 2009 21:30 WIBTAK SEMATA BERNYANYI

TAK SEMATA BERNYANYI Di tengah ledakan tren aliran musik pop bertema cinta menye-menye atau mendayu-dayu, masih ada sejumlah musisi yang tetap tegas bertahan dengan idealisme aliran musiknya. Tidak hanya soal percintaan belaka, mereka menyisipkan berbagai kritik, protes maupun pesan kepedulian terhadap kondisi yang sedang berlangsung pada bangsa ini. Baik pada masalah moral, tatanan sosial dan politik, kemanusiaan, lingkungan hingga rasa nasionalisme dan patriotisme.

Mungkin orang lebih mengenal sosok-sosok Iwan Fals, Franky Sahilatua, Leo Kristy dan Ebiet G Ade jika berbicara tentang idealisme bermusik sebagaimana yang tertulis di atas. Namun semangat yang sama ternyata juga merambah pada sejumlah musisi muda nasional lainnya.

Cokelat salah satunya. Grup musik pop asal Bandung yang berusia 13 tahun pada 25 Juni 2009 lalu ini, kini lebih identik sebagai band yang kerap menciptakan lagu-lagu bernuansa kebangsaan. Meski pada sejumlah album Cokelat juga banyak terdiri dari lagu pop manis bertema percintaan, namun ada juga lagu Bendera, Suara Kemenangan, Lima Menit Untuk Lima Tahun, Ikrar Kami, dan Cinta Damai yang sangat bernuansa cinta tanah air. Bahkan pada album Untukmu Indonesiaku yang dirilis pada 2006, Cokelat semakin meneguhkan visi dan misi Cokelat untuk mengungkapkan semangat nasionalisme lewat lagu secara lebih gamblang.

Di album ini, Cokelat mengaransemen ulang 10 lagu wajib nasional, menjadi lagu pop yang lebih segar dan enak didengarkan sekaligus lebih memudahkan pesan-pesan kebangsaan di dalamnya mengena di hati para pendengarnya. Meski sebelum membuat album itu, para personil Cokelat yang digawangi Kikan, Ronny, Edwin, Ernest, dan Ervin sudah pasrah jika album itu tidak akan laku secara komersil. “Kami hanya merasa harus menumbuhkan semangat kebangsaan, paling tidak pada diri kami dulu, lewat lagu-lagu wajib itu. Meski pada awalnya sempat ada juga yang bilang ngapain bikin lagu yang cupu atau cemen kayak gitu, gak bakal laku” papar Cokelat saat ditanya mengapa berspekulasi dengan album ini. Dan ternyata kekhawatiran itu tidak pernah terwujud. Album itu cukup sukses di pasaran dan melambungkan citra Cokelat sebagai band dengan patriotisme yang tinggi hingga kini.

Sedangkan GIGI, belakangan lebih populer sebagai band yang religius dan punya kepedulian sosial tinggi. GIGI yang telah mewarnai dunia musik tanah air sejak 22 Maret 1994 ini, pernah membuat lagu 1999 menangis, yang menyuarakan kegalauan GIGI pada kondisi Indonesia yang serba tidak menentu menjelang Pemilu 1999. Sementara sebelumnya, pada tahun 1997 GIGI juga sempat menyisipkan lagu Bumi Meringis pada album 2X2, yang mewakili kesedihan GIGI pada kondisi lingkungan serta politik Indonesia pada masa-masa menjelang reformasi saat itu.

Sementara album bernuansa religi pertama GIGI muncul pada 2004, lewat album Raihlah Kemenangan yang berisi 8 lagu-lagu islami yang sudah familiar di publik. Semenjak itu, lagu-lagu yang berisikan seruan kebesaran Tuhan seakan menjadi trade mark GIGI. Terlebih saat lagu lama Bimbo, Tuhan serta Perdamaian yang dipopulerkan oleh kelompok musik Gambus Nasida Ria pada era 80-an, dinyanyikan GIGI dengan aransemen ulang berirama pop rock, yang semakin melambungkan nama GIGI sebagai band yang idealis dan religius. “Yang jelas, kami menjadi pribadi-pribadi yang semakin percaya pada kebesaran Tuhan” ungkap Armand, Budjana, Thomas dan hendy di Kick Andy. Dan pada 2008, GIGI mengeluarkan album Jalan Kebenaran pada 2008, dengan salah satu lagu berjudul Pemimpin Budiman, yang merupakan protes suara hati mereka pada krisis kepemimpinan di negara ini, yang mereka alami sendiri salah satu contohnya saat berkunjung ke salah satu daerah di luar Jawa.

Dan jangan lupa pada SLANK. Grup musik “slengekan” yang memulai karirnya dari gang Potlot di kawasan Duren Tiga Jakarta Selatan ini, telah malang melintang di jagad musik Indonesia selama 25 tahun. Jelas bukan waktu yang singkat untuk sebuah grup musik mampu bertahan di blantika musik Indonesia yang sangat dinamis. Dan yang jelas, selama rentang waktu itu, berbagai suka duka telah dilalui SLANK. Mulai dari pergantian personil sebanyak 14 kali sejak bernama awal Cikini Stone Complex pada 1980-an, kedekatan dengan dunia narkoba pada masa lalu, fans yang sangat fanatik berjuluk Slankers, hingga pada kritik-kritik sosial yang dilemparkan melalui lagu yang nakal, jahil namun sangat menyentil. Dalam 22 album SLANK, ada empat unsur tetap yang dipegang teguh harus ada pada lagu-lagu mereka, yaitu cinta, lingkungan, semangat pembebasan atau perubahan serta kontrol sosial.

Lagu Balikin, menjadi momen kebangkitan dan perlawanan SLANK setelah sempat menjadi budak narkoba pada era 1994 hingga 1999. Sementara protes pada birokrasi dan tatanan pemerintahan yang cenderung korup, mereka tumpahkan lewat lagu Birokrasi Komplek dan Seperti Para Koruptor. Kepedulian dan keprihatian SLANK pada kerusakan lingkungan tertuang lewat lagu Lapindo, yang tercipta pasca terjadinya semburan lumpur di Porong Sidoarjo. Sementara dagelan garing dari tingkah polah para wakil rakyat yang “katanya” terhormat, mereka sindir lewat lagu Gosip Jalanan pada medio 2004. Dan berujung pada tuntutan somasi sangat telat dari para anggota parlemen yang “kebakaran jenggot” pada 2008 lalu (?). Dan masih banyak lagi karya-karya Slank yang sarat akan kepedulian mereka pada persoalan narkoba, korupsi, masalah sosial dan politik, kemiskinan dan kesenjangan sosial, pembalakan hutan hingga feodalisme.

Mau melihat Cokelat, GIGI dan SLANK beraksi lewat lagu dan pemikiran di Kick Andy? Jangan sampai anda melewatkan episode minggu ini!


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy