Sumber: Kick Andy.com
|
|
Jumat, 09 Juli 2010 21:30 WIB
Adalah seorang ibu bernama Dalinem. Wanita yang kini berusia 59 tahun warga Desa Sumber Watu, Sambireja, Prambanan, Yogyakarta itu mempunyai kisah yang menarik. Pada 1971 atas kesadaran sendiri ia berjalan tak kenal lelah mengajak warga desanya untuk ikut melaksanakan program KB. Ibu yang hanya lulusan SMP ini memberikan penyuluhan kepada warga desa tanpa mendapat imbalan. Memberikan penyuluhan kepada warga yang rata-rata berpendidikan rendah setingkat SD adalah tidak mudah. Berbagai cibiran dan cemoohan warga akibat ketidaktahuan soal KB ia terima tanpa bisa marah. “Bahkan kala itu saya pernah diancam dengan golok oleh seorang bapak yang tidak terima karena istrinya diajak ber-KB, ujar Dalinem mengenang. Namun berkat kesabaran dan ketekunan hampir 10 tahun, Dalinem akhirnya diangkat penjadi pegawai pemerintah dan mendapat penghargaan dari mendiang Ibu Tien Soeharto. Kisah lainnya datang dari Pulau Dewata, Bali. Adalah dokter Luh Putu Upadisari namanya. Wanita dokter itu tergolong unik. Jika selama ini tenaga medis praktik di rumah sakit atau klinik, namun dokter berusia 45 tahun ini malah praktik di Pasar Badung di Denpasar, Bali. Ia mengaku, dengan praktik dan membuka yayasan kesehatan di pasar merasa lebih dekat dengan klien atau pasien. Di pasar menurutnya lebih mengena karena sebagian pengunjung pasar adalah kaum wanita.” Jadi kami bisa dikatakan jemput bola lah,” ujar dokter Sari memberi alasan. Di kliniknya, kaum wanita pengunjung pasar bisa berobat dan berkonsultasi seputar kesehatan reproduksi, dan HIV/Aids. Selain itu, ia juga banyak melayani warga yang ber-KB. Atas jerih payahnya itu, Ibu tiga anak itu pada 2009 lalu mendapat penghargaan Young Change Markers Award di bidang kesehatan. Begitu halnya yang dilakukan Sujendro, warga Sleman, Yogyakarta. Ia melakukan penyuluhan KB dengan berkesenian. Melalui Kelompok Seni Peduli KB ia memberikan penyuluhan sambil berkesenian dengan media Dagelan Mataram, Campur Sari dan Wayang Kulit. Apa yang dilakukan para pejuang penyuluh kesehatan di atas patutlah diapresiasi. Mereka terus berjuang memberikan penyuluhan walaupun tidak mendapatkan imbalan. Selain itu, kita semua hendaklah mulai memperhatikan program KB. Jika kita semua melupakan dan tidak mengerem jumlah penduduk, ledakan penduduk di Indonesia benar-benar akan terjadi. Saat ini Indonesia yang berpenduduk hampir 240 juta adalah urutan ke-4 di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Apa jadinya jika penduduk terus bertambah, sementara perekonomian dan lapangan kerja tidak mengalami pertumbuhan? (end ) |
Tag: Kliping Media, Kick Andy |