Ahmad Abdul Haq


PENGABDIAN TANPA PAMRIH

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 09 Juli 2010 21:30 WIBPENGABDIAN TANPA PAMRIH

PENGABDIAN TANPA PAMRIH Program Keluarga Berencana yang dulu sangat populer kini hampir kehilangan gaungnya. Program yang mewajibkan pasangan hanya mempunyai dua anak itu membuat Indonesia dinilai berhasil dalam mengatasi ledakan jumlah penduduk. Berbagai sanjungan dan penghargaan dunia internasional terhadap Indonesia kala itu seolah membuat kita bangga. Namun kini, di era reformasi dan di tengah eforia otonomi daerah, program KB seolah tidak berbekas dan terlupakan. Padahal, jika semua tahu akan dampak ledakan penduduk di tanah air, kita akan miris dibuatnya. Itulah antara lain alasan, kenapa Kick Andy kali ini mengangkat topik  Keluarga Berencana.

Adalah seorang ibu bernama Dalinem. Wanita yang kini berusia 59 tahun warga Desa Sumber Watu, Sambireja, Prambanan, Yogyakarta itu mempunyai kisah yang menarik. Pada 1971 atas kesadaran sendiri ia berjalan tak kenal lelah  mengajak warga desanya untuk ikut melaksanakan program KB. Ibu yang hanya lulusan SMP ini memberikan penyuluhan kepada warga desa tanpa mendapat imbalan. Memberikan penyuluhan kepada warga yang rata-rata berpendidikan rendah setingkat SD adalah tidak mudah. Berbagai cibiran dan cemoohan warga akibat ketidaktahuan soal KB ia terima tanpa bisa marah. “Bahkan kala itu saya pernah diancam dengan golok oleh seorang bapak yang tidak terima karena istrinya diajak ber-KB, ujar Dalinem mengenang. Namun berkat kesabaran dan ketekunan hampir 10 tahun, Dalinem akhirnya diangkat penjadi pegawai pemerintah dan mendapat penghargaan dari mendiang Ibu Tien Soeharto.

Kisah lainnya datang dari Pulau Dewata, Bali. Adalah dokter Luh Putu Upadisari namanya. Wanita dokter  itu tergolong unik. Jika selama ini tenaga medis praktik di rumah sakit atau klinik, namun dokter berusia 45 tahun ini malah praktik di Pasar Badung di Denpasar, Bali. Ia mengaku, dengan praktik dan membuka yayasan kesehatan di pasar merasa lebih dekat dengan klien atau pasien. Di pasar menurutnya lebih mengena karena sebagian pengunjung pasar adalah kaum wanita.” Jadi kami bisa dikatakan jemput bola lah,” ujar dokter Sari memberi alasan. Di kliniknya, kaum wanita pengunjung pasar bisa berobat dan berkonsultasi seputar kesehatan reproduksi, dan HIV/Aids. Selain itu, ia juga banyak melayani warga yang ber-KB. Atas jerih payahnya itu, Ibu tiga anak itu pada 2009 lalu mendapat penghargaan Young Change Markers Award di bidang kesehatan.
Jika selama ini penyuluh kesehatan atau KB adalah wanita, di Tasikmalaya, Jawa Barat yang menjadi penyuluh KB justru seorang pria. Pengalaman Dedi Heryadi tergolong unik. Bapak dua anak warga Desa Pancatengah, Tasikmalaya, Jawa Barat itu menjadi penyuluh KB karena trauma. Saat itu istrinya yang berusia 21 tahun mengalami kesulitan saat melahirkan. “Selama tiga hari tiga malam istri saya berjuang untuk melahirkan,”ujar Dedi. Sejak itu ia belajar soal seluk beluk kesehatan wanita dan kini ia terjun menjadi juru penyuluh KB dan keluar masuk kampung.

Begitu halnya yang dilakukan Sujendro, warga Sleman, Yogyakarta. Ia melakukan penyuluhan KB dengan berkesenian. Melalui Kelompok Seni Peduli KB ia memberikan penyuluhan sambil berkesenian dengan media Dagelan Mataram, Campur Sari dan Wayang Kulit.

Apa yang dilakukan para pejuang penyuluh kesehatan di atas patutlah diapresiasi. Mereka terus berjuang memberikan penyuluhan walaupun tidak mendapatkan imbalan. Selain itu, kita semua hendaklah mulai memperhatikan program KB. Jika kita semua melupakan dan tidak mengerem jumlah penduduk, ledakan penduduk di Indonesia benar-benar akan terjadi. Saat ini Indonesia yang berpenduduk hampir 240 juta adalah urutan ke-4 di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Apa jadinya jika penduduk terus bertambah, sementara perekonomian dan lapangan kerja tidak mengalami pertumbuhan? (end )


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy