Jumat, 29 April 2011 21:30 WIB
MENITI JEMBATAN MASA DEPAN
Menjadi anak seorang miskin pastilah bukan pilihan siapapun, tapi menentukan jalan masa depan ke arah yang lebih baik adalah pilihan. Karena anak-anak manapun boleh punya cita-cita yang tinggi, termasuk bagi Muhammad Nur, anak dari keluarga penyandang kusta dan pengemis di Makasar, Sulawesi Selatan.
Seperti sebuah dinasti, maka sejak kecil Muhammad Nur yang anak sekolah harus nyambi sebagai pengemis di seputaran Mesjid Raya, Makasar. Di luar kegiatan itu, ia suka bermain bola dan bermimpi bisa bergabung di Makasar Football school (MFS). “Saya suka melihat kalo mereka latihan, trus ada ibu-ibu yang nanya, kamu beneran mau latihan bola gak?” ujar Nur berkisah. “Eh pas saya lagi ngemis, mobil yang saya samperin ternyata mobil ibu itu,” tambahnya.
Dari pertemuan itu lah kemudian ibu, yang ternyata adalah Diza Ali itu mengangkat Nur sebagai anak angkatnya dan kemudian ia dimasukkan di MFS, seperti mimpi Muhammad Nur selama ini.
Muhammad Nur adalah seorang penyuka bola yang disebut-sebut memiliki warna kulit dan postur tubuh seperti pemain bola Kamerun, Abanda Herman. Maka ketika ia rajin bermain bola, teman-teman sepermainannya di MFS memanggil dia dengan nama Abanda.
Dengan kegigihannya, Abanda ini terus berlatih bola. Dan harus di catat, tahun 2005 dan 2006 lalu, secara berturut-turut dia menjadi salah satu atlet bola yang dikirim ke ajang World Cup Danone Nations Cup di Paris, Perancis.
Sekarang Abanda sudah bergabung di Club Makassar Utama, ia masih harus mengejar cita-citanya sebagai pemain bola dan sebagai kebanggaan keluarga. “Saya ingin mengangkat keluarga saya yang penderita kusta,” tegasnya.
Ketegasan dalam cita-cita juga dimiliki oleh Muhammad Febri Alifian alias Achil. Meski hanya putra seorang tukang ojek, tapi keinginannya untuk menjadi seorang atlet sepak bola terus ia pupuk dengan semangat dan berlatih keras.
Dan lihatlah, apa yang telah ia capai sekarang ini!
Tahun 2010 lalu Achil menjadi bagian dari wakil indonesia bersama tim Banteng Muda Malang dalam ajang World Cup Danone Nations Cup, yang berlangsung di Afrika Selatan. Event ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri baginya. Tidak hanya itu, ia pun telah menuai segudang prestasi dalam karir bolanya di usia 13 tahun ini. Misalnya pernah tercatat sebagai top scorer dan pemain terbaik anak U 12 di tahun 2010 se Malang.
Dari Bandung, ada kisah dua kakak beradik yang berkreasi dengan komputer. Jangan bayangkan komputer canggih, karena komputer yang mereka pakai adalah komputer milik ayahnya yang seorang penjual pulsa dan aksesoris handphone. Dengan segala keterbatasan ekonomi yang dimiliki namun Arrival Dwi Santosa mampu mengembangkan sebuah
software antivirus local.
Arival Dwi Santosa atau Ival bersama kakak kandungnya Taufik Aditya Utama telah mengenal komputer sejak ia duduk di kelas satu sekolah dasar dan mengaku gemar bermain
game online yang ada di komputer ayahnya. Empat tahun dari kegemarannya itu, sempat terhenti sejenak saat sebuah virus merusak sistem motherboard komputer ayahnya itu.
Tak berhenti disitu, kekesalannya terhadap virus komputer mendorong anak ke dua dari tiga bersaudara itu terus mencoba mengembangkan
coding software antivirus dari buku-buku yang dibelikan ibunya. Tahun 2010, Ival bersama dengan kakaknya berhasil mengembangkan sebuah software antivirus dan diberi nama ARTAV.
Namun sayang, terjadi kontroversi soal software ini, karena anti virus ini disinyalir sebagai duplikat dari ati virus al virus scan, karya Muhammad Aly Shodiqin, asal gresik, Jawa Timur. Namun toh, Ival tak patah arang, seakan ingin menunjukkan kemampuan dirinya, Ival dan Taufik memutuskan membuat ulang program antivirus artav di mulai dari nol. Dan dalam kesempatan ini, ahli forensik digital Rubby Z. Alamsyah menyampaikan penilaian yang bagus tentang talenta mereka.
Pelengkap kisah di episode ini, ada kisah tentang seorang anak pemulung dari Denpasar, Bali. Dan pastinya, menjadi pemulung, bukanlah cita-cita gadis ini. Di balik semangatnya mengumpulkan sampah plastik, ia memiliki sebuah impian tentang masa depan yang ia harus raih.
Wayan Sepi, adalah anak dari seorang orang tua tunggal. Ayahnya meninggal karena sakit, saat ia masih berusia 3 tahun. Ia kini tinggal bersama ibu dan seorang adiknya.
Untuk menafkahi keluarganya, Wayan Sepi pun harus turut bekerja. Selain menjadi pemulung, ia juga harus berjualan makanan kecil dan minuman, untuk warga dan pemuda sekitar, yang biasa duduk-duduk di balai bengong, di tepi pantai dekat rumahnya. “Kadang-kadang ada yang gak mau bayar setelah mereka jajan,” ujarnya.
Tangan gadis bernama Ni Wayan Mertayani atau yang biasa disapa Wayan Sepi ini tak hanya terampil mengumpulkan barang bekas, atau berdagang, tapi telah terbukti juga terampil dalam memainkan kamera foto sehingga bisa menghasilkan karya hebat.
Bermodal kamera pinjaman, dari tangan gadis 15 tahun ini, lahir sebuah karya foto, yang berhasil menjuarai lomba foto internasional, yang diselenggarakan Museum Anne Frank. Ia berhasil menyisihkan 200 foto lainnya, dari berbagai penjuru dunia.
Dalam foto karyanya ini, Wayan menampilkan seekor ayam putih yang bertengger di belakang, dengan latar belakang matahari. Ia menjelaskan, foto itu mencerminkan kehidupannya yang penuh perjuangan. “Saya orang miskin, tapi saya tak malu bilang bahwa saya punya cita-cita yang tinggi,” tegasnya saat tampil di Kick Andy.
Inilah kisah-kisah inspiratif, tentang perjuangan anak-anak negeri yang meniti masa depannya dengan berbagai hal membanggakan.