Ahmad Abdul Haq


INSPIRASI MUDA INDONESIA

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 06 Juli 2012 21:30 WIBINSPIRASI MUDA INDONESIA

INSPIRASI MUDA INDONESIA Pemuda adalah penerus bangsa, ditangan merekalah nasib bangsa ditentukan. Jika kita kerap mendengar pemberitaan negatif tentang perilaku generasi muda yang seolah tidak peduli dengan kondisi bangsa. Maka Kick Andy kali ini ingin berbagi inspirasi dari anak-anak muda yang berbuat nyata bagi dirinya dan lingkungannya.

Amilia Agustin atau akrab disapa Ami adalah remaja berusia 16 tahun yang menaruh perhatian besar terhadap persoalan sampah. Ami yang mendapat julukan “Ratu Sampah” ini bahkan turun langsung mengajak teman-temannya untuk mengelola sampah yang ada di sekolahnya. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama, Ami tergerak untuk membuat komunitas pengelolaan sampah berbasis sekolah dengan program “Go to Zero Waste School”. Kegiatan ini berkonsentrasi pada pengelolaan sampah dilingkungan sekolah dan sekitarnya. Tujuan yang ingin dicapai adalah Zero Waste School yaitu sekolah bebas sampah.

Apa yang dilakukan Ami tentu tidak mudah, ia kerap mendapat ejekan dari teman-temannya, tukang sampah karena ikut mengurus sampah di sekolahnya. Namun itu semua tidak membuatnya putus asa. Ami mempunyai slogan yang menjadi andalannya setiap berbicara tentang pengolahan sampah yaitu, “Jika anda bukan orang sembarangan maka jangan buang sampah sembarangan!”

Muhammad Farid atau biasa dipanggil Farid, adalah pemuda lulusan pesantren yang mendirikan sekolah alam Banyuwangi Islamic School. Farid melihat masih banyak paradigma dimasyarakat yang berpendapat bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang mahal,  mewah, dan serba lengkap. Sehingga menutup kesempatan bagi  anak-anak yang tidak mampu untuk memperoleh pendidikan yang baik. Oleh karena itu, ia tidak memungut biaya sekolah bagi murid tidak mampu di sekolahnya. Para orang tua murid dapat membayar dengan apa saja yang mereka miliki termasuk sayuran. Bahkan jika memang tidak punya apa-apa baginya doa saja sudah cukup,

Sekolah alam yang ia dirikan memiliki kurikulum yang sedikit berbeda. Farid yang sebelumnya sempat mengajar di beberapa sekolah mengaku jenuh dengan manajemen sekolah yang mahal dan kaku. Oleh karena itu ia kemudian memadukan konsep pondok pesantren dan lembaga formal. Sekolah ini juga terbilang unik, sesuai dengan namanya sekolah alam maka sekolah ini tidak memiliki ruang kelas dan juga bangku. Para siswa cukup belajar di saung-saung dan praktek langsung di lapangan. Menurut Farid, “belajar itu esensinya bukan pada seragam dan sepatu, tetapi pada proses pembelajarannya”. Dari segi kualitas, sekolah ini tidak kalah dengan sekolah bertaraf internasional lainnya. Karena selain para siswa belajar dengan menggunakan laptop, mereka juga belajar 4 bahasa yaitu inggris, arab, jepang dan mandarin.

Andi Taufan Garuda Putra atau Taufan adalah sarjana lulusan manajemen bisnis, Institut Teknologi Bandung yang memutuskan berhenti bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan multinasional asal Amerika Serikat. Bermodalkan uang tabungannya, Taufan kemudian mendirikan Amartha Microfinance sebuah lembaga keuangan mikro syariah yang menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah, terutama kelompok ibu-ibu pedesaan yang daerahnya jauh dari jangkauan bank. Meski sempat mengalami hambatan, Amartha akhirnya dapat berkembang hingga sekarang dan memiliki dana lebih dari 1 milyar.

Hayu Dyah Patria atau Hayu adalah seorang sarjana teknologi pangan yang mensosialisasikan kandungan gizi dari tanaman liar yang ditelitinya. Hayu menyadari adanya potensi gizi yang luar biasa dalam tanaman liar. Ia khawatir jika diabaikan, tumbuhan tersebut bisa punah bersama manfaat yang dikandungnya. Menurut Hayu, pada umumnya tanaman liar mengandung nilai gizi yang lebih baik dari tanaman-tanaman budidaya karena mereka tumbuh secara natural tanpa terkontaminasi pestisida, pupuk, herbisida, dll. Banyak tanaman pangan liar yang jauh lebih bergizi dari tanaman pangan yang biasa kita makan. Hayu memberi contoh, segenggam daun kelor (Moringa olifiera) ternyata mengandung vitamin A dan C tujuh kali lebih tinggi dari sebutir jeruk, dan kalsium dua kali lebih tinggi dari susu. Begitu juga dengan krokot (Portulaca oleracea) kandungan vitamin A dan C-nya juga lebih tinggi dari jeruk, ditambah lagi mengandung omega-3 yang baik untuk otak dan jantung. Jadi siapa bilang makanan bergizi itu mahal harganya.

Anak-anak muda diatas membuktikan bahwa usia muda tidak menghalangi mereka untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Mereka adalah contoh nyata generasi muda yang membawa semangat dan idealisme serta harapan untuk Indonesia yang lebih baik kedepannya.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy