Ahmad Abdul Haq


THE WARRIOR PRINCESS

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 19 April 2013 21:30 WIBTHE WARRIOR PRINCESS

THE WARRIOR PRINCESS

Menjadi makhluk perempuan bukanlah pilihan. Melainkan suatu anugerah yang mampu memberi kelengkapan pada keseimbangan kehidupan. Dibalik sifat kelembutan dan kesabarannya, perempuan memiliki kekuatan, ketegaran, dan naluri kasih sayang yang alami. Hati perempuan mampu melakukan sesuatu dan menggerakan dunia untuk dapat mengisi hidup menjadi lebih bermakna.

Para perempuan narasumber Kick Andy berikut ini adalah sosok perempuan yang kami anggap mampu mengilustrasikan hal-hal diatas. Dialah Butet Manurung. Ia dikenal oleh publik sebagai sosok perempuan yang memilih mengabdikan hidupnya di hutan, untuk memberikan pendidikan bagi Orang Rimba. Butet Manurung yang bernama asli Saur Marlina Manurung, berhasil membuat SOKOLA dan menemukan metode baca hitung, yaitu sebuah pendidikan alternatif yang ia temukan saat ia menjadi fasilitator pendidikan di Rimba Bukit Duabelas, Jambi. Walaupun Butet mengalami banyak rintangan, seperti: penolakan dari masyarakat asli, ancaman dari para pembalak kayu, dan binatang buas di hutan, namun Butet bergeming. Kini SOKOLA dan metode baca tulisnya diadopsi di Makasar, Aceh, Flores, Kajang (Sulawesi Selatan), Halmahera, Pulau Komodo dan Papua. Sudah ada 21sekolah di seluruh Indonesia dan telah memberi manfaat kepada lebih dari 10.000 orang.

Anis Hidayah, ia terlahir di sebuah daerah yang mana kebanyakan warganya memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kehidupan masa kecilnya yang berteman dengan anak-anak TKI, telah membentuknya menjadi pribadi yang sangat peduli pada isu pekerja migran. Sejak duduk di bangku kuliah Anis sudah aktif di LSM yang peduli pada nasib kaum buruh migran. Keseriusannya ia dibuktikan dengan membangun sebuah LSM bernama Migrant Care bersama 5 rekan sesama aktivis. Perjuangannya dalam mengadvokasi para buruh migran, mendampingi para korban, dan mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan kebijakan yang berpihak kepada para pekerja migran, telah ia lakukan hampir 20 tahun. Perempuan tangguh yang sudah menjabat sebagai Direktur Migrant Care sejak Mei 2004 ini, tak jarang mengalami intimidasi dan tekanan berupa ancaman, teror, bahkan pembunuhan karakter pada dirinya, namun itu tak membuatnya surut untuk terus membela hak asasi buruh migran.

Demikian pula perjuangan untuk keadilan HAM dan hak-hak bagi perempuan Aceh, telah dilakukan Suraiya Kamaruzzaman sejak ia masih duduk di bangku SMP. Saat kuliah, ia mendirikan Flower Aceh—sebuah organisasi yang bergerak untuk membantu perempuan korban konflik di Aceh. Ia nyaris diculik, diancam akan dibunuh, bahkan namanya masuk dalam daftar pencarian orang yang diperbolehkan untuk ditembak di tempat. Hingga saat ini, Suraiya masih terus berjuang “meneriakkan” kepentingan perempuan agar setiap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pro terhadap perempuan. Atas perjuangannya tersebut, Suraiya dianugerahi Yap Thiam Hien Human Rights Defender Award pada tahun 2001 dan N-Peace Awardee Documentaries pada tahun 2012.

Satu lagi perempuan tangguh dari kawasan Timur Indonesia - Aleta Baun. Perempuan yang hanya lulusan SMA ini mengenal dunia pergerakan dari Yayasan Sanggar Suara Perempuan pada tahun 1993. Ibu dari 3 anak ini memperjuangkan kepentingan masyarakat adat Molo, di Timor tengah Selatan, NTT - ketika perusahaan-perusahaan tambang telah semena-mena mengeruk batu marmer di tanah mereka. Bagi Masyarakat Mollo, air, hutan, tanah dan batu adalah bagian dari identitas mereka. Gunung Nausus, Gunung Anjaf, dan bebatuan di sekitarnya adalah tulang punggung orang Molo. Dan alam yang memberikan mereka kehidupan harus mereka selamatkan. Perjuangan yang dilakukan Mama Aleta, ia biasa dipanggil- selama kurun waktu 1996 sampai dengan 2008 bukan berarti tanpa kendala. ia pun selalu mendapatkan ancaman pembunuhan dan kekerasan fisik. Ia juga harus hidup berpindah-pindah dan terpisah dari keluarga, karena harus tinggal berhari-hari dilokasi aksi demo. Bahkan kakinya pun sempat dibacok menggunakan parang. Dan karena perjuangannya tersebut, namanya sempat menjadi kandidat penerima nobel di tahun 2005, serta mendapat penghargaan Saparinah Sadli di tahun 2006.

Demikianlah seperti penggalan lirik lagu… Ada ketegaran didalam kelembutan, ada kelembutan didalam ketegaran perempuan. Untuk para Perempuan Indonesia, Selamat Hari Kartini.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy