Ahmad Abdul Haq


STOP KEKERASAN PADA JURNALIS

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 05 April 2013 21:30 WIBSTOP KEKERASAN PADA JURNALIS

STOP KEKERASAN PADA JURNALIS

Kekerasan terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas jurnalistiknya terus terjadi. Bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ada yang diculik, disiksa, dan juga dibunuh dengan keji saat bertugas.

Diantaranya adalah Didik Herwanto, fotografer Riau Pos, ini mengalami penganiayaan dari oknum TNI saat sedang melakukan tugas peliputan jatuhnya pesawat tempur di Pekanbaru, Riau. Saat itu Didik sedang mengambil gambar bangkai pesawat dan lokasi kejadian belum dipasangi garis pembatas. Tiba-tiba seorang oknum TNI datang menghampirinya dan langsung menyerangnya. Tanpa bisa melawan Didik yang sudah tersungkur ditanah, dicekik oleh oknum TNI yang ukuran tubuhnya nyaris dua kali dirinya. Bukan hanya itu  dalam keadaan tak berdaya, oknum TNI itu kemudian melayangkan satu pukulan ke arah telinga kirinya. Ironisnya penganiayaan ini dilakukan didepan puluhan murid sekolah dasar yang sedang menyaksikan peristiwa tersebut.

Didik rupanya tidak sendirian, beberapa jurnalis lainnya juga mengalami penganiayaan seperti dirinya. Bersama-sama mereka kemudian melaporkan tindak kekerasan tersebut untuk ditindak lanjuti. Pasca perisitiwa itu, Didik dan beberapa rekan jurnalis lainnya yang ikut melapor mendapatkan intimidasi dari oknum TNI, mulai dari  pesan singkat, telefon, hingga dibuntuti orang tak dikenal.

Atas peristiwa tersebut sejumlah jurnalis dari berbagai kota di Indonesia melakukan aksi solidaritas dan menuntut agar oknum TNI yang melakukan tindakan kekerasan terhadap jurnalis untuk segera dipecat dan dipidanakan. Kini pelaku penganiayaan sudah ditindak. Dan upaya damai dengan pihak TNI sudah dilakukan. Didik dan beberapa rekan jurnalis lainnya yang ikut melapor pun kini berada dalam perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi & Korban (LPSK). Bersama-sama mereka kemudian menuntut adanya penandatangan MoU dengan Lanud yang baru dan menjamin tidak akan ada lagi kekeraan pada jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Seorang jurnalis dan juga Pemimpin Tabloid Mingguan Pelangi di Ambon, Maluku, Alfrets Mirulewan,  ditemukan tewas mengenaskan di Pelabuhan Pantai Wonreli, Kisar, Maluku pada tanggal 17 Desember 2010. Sebelum ditemukan tewas, Alfrets sempat dinyatakan hilang selama 2 hari.  

Menurut  Thomy Mirulewan, kakak Alfrets yang juga berprofesi sebagai jurnalis. Beberapa hari sebelum dinyatakan hilang Alfrets sempat menghubunginya dan memberitahu telah terjadi kelangkaan BBM di Pulau Kisar, Maluku dan meminta pendapatnya. Alfrets berencana untuk menjadikan berita tersebut headline di tabloid mingguannya. Thomy kemudian meminta Alfrets untuk berhati-hati dalam melakukan investigasi karena berita yang akan diangkatnya cukup berbahaya. “Saya meminta dia untuk tidak jalan sendirian, karena investigasi yang akan dilakukannya cukup berat dan berbahaya. Dia bilang pada saya bahwa dia akan jalan dengan beberapa teman. Jadi, waktu itu saya tenang,” sambung Thomy.

Peringatan sang kakak tak diabaikannya. Sebelum memulai investigasinya di Pulau Kisar, Alfrets menghubungi 2 orang rekan seprofesinya yang ditinggal disana bernama Alexander Kikilay atau Leksi, dan Jeremias Maahury atau Jemi. Alfrets kemudian melakukan investigasi dengan meminjam handycam Jemi dan didampingi Leksi saat melakukan peliputan. Mereka sempat melihat aktivitas bongkar maut di Pelabuhan Pantai Nama, Wonreli. Alfrets pun kemudian sempat mengikuti truk yang membawa drum-drum minyak. Menurut Leksi, “Alfrets bilang dia naik ke atas truk yang berisi drum-drum itu, dan semuanya dibawa ke sebuah desa. Alfrets bilang dia sempat dicegat di sana, lalu beradu mulut dengan penjaganya”.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Leksi kemudian mengajak Alfrets untuk pulang dan melanjutkannya besok. Sesampainya di kos Leksi, Alfrets sempat mengajaknya untuk kembali melanjutkan investigasi. “Waktu itu Alfrets mengajak saya untuk lanjutkan investigasi ke Palabuhan Pantai Jalawang—yang merupakan pelabuhan alternatif. Tetapi saya menolak, karena jalan menuju ke sana rusak, harus melewati hutan dan tak ada lampu. Saya bilang pada Alfrets untuk lanjutkan tugas besok saja. Lalu, sambil melihatnya meninggalkan saya, saya kembali ke kos saya,” tambah Leksi.  Dan itu adalah terakhir kalinya Leksi melihak sosok Alfrets.

Jenazah Alfrets kemudian ditemukan mengambang di permukaan laut Perairan Pantai Nama, Wonreli, Kisar, Maluku. Dia tewas tenggelam dengan kondisi di sekujur tubuhnya terdapat luka memar. Diduga Alfrets dibunuh sebelum dibuang ke laut. Tewasnya Alfrets dengan kondisi mengenaskan langsung dilaporkan ke Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia dan Lembaga Bantuan Hukum Pers di Jakarta. Dewan Pers lalu menugaskan Maluku Media Centre membentuk tim investigasi untuk berangkat ke Kisar. Selama 5 hari tim  bekerja, mereka menemukan fakta di lapangan berdasarkan informasi awal terbunuhnya Alfrets dan menyimpulkan bahwa benar Alfrets dibunuh karena melakukan investigasi penyaluran bahan bakar minyak di Pulau Kisar.

Saat ini para pelaku sudah ditangkap dan diadili namun otak pelaku pembunuhan ini tak terungkap. Menurut Thomy, “Keempat pelaku menyebutkan ada pelaku utama yang membunuh Alfrets. Bahkan, mereka menyebutkan nama jelas dan jabatan orang tersebut. Tetapi, tidak disentuh sampai sekarang”.

Selain Alfrets, ada juga Ridwan Salamun seorang jurnalis televisi nasional yang tewas dikeroyok secara keji oleh warga saat meliput bentrokan di Tual, Maluku. Pasca pengeroyokan tubuhnya yang sudah babak belur sempat dibiarkan selama 2 jam di atas aspal. Tiga orang pelaku ditetapkan sebagai tersangka, namun sidang memutuskan ketiganya dibebaskan. Ironisnya, Ridwan sempat dinyatakan sebagai tersangka. Keluarga Ridwan pun mengupayakan kasasi ke Mahkamah Agung. Hasilnya, ketiga pelaku dijerat hukuman 4 tahun penjara. Namun sayang, ketiga pelaku sempat buron lantaran pihak berwenang terlambat melakukan eksekusi hukuman. Dari ketiga terdakwa, 2 orang sudah ditangkap dan dihukum. Namun satu orang lagi masih buron hingga saat ini.

Pada tahun 2011, Ridwan Salamun mendapat penghargaan Udin Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Dewan juri memilih Ridwan Salamun karena almarhum bukan hanya menjadi korban pembunuhan dengan cara keji, tetapi juga menjadi korban mafia hukum. Udin Award diambil dari nama jurnalis Berita Nasional (Bernas) Yogyakarta Fuad Muhammad Syafruddin yang dibunuh pada 1996. Nama Udin kemudian diabadikan sebagai anugerah tahunan yang diberikan kepada jurnalis yang mengalami tindakan kekerasan. Sampai kapan kekerasan pada jurnalis ini akan terus berlanjut?


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy