Ahmad Abdul Haq


DEMI MASA DEPAN ANAK NEGERI

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 04 Oktober 2013 23:48 WIBDEMI MASA DEPAN ANAK NEGERI

DEMI  MASA DEPAN ANAK NEGERI

Setiap anak adalah harapan bangsa. Hal ini lah yang diyakini oleh kedua nara sumber Kick Andy On Location kali ini. Mereka adalah orang-orang yang tak hanya inspiratif, tapi juga rela memberikan waktunya untuk membantu anak-anak bangsa di negeri ini dalam meraih cita.

Sosok pertama hadir dari Kota Cirebon, Ujang Jakaria, seorang ustad yang mengaku lahir dari keluarga kurang mampu.    Kesusahan  hidup membuatnya tergerak untuk membantu dan mengurus anak-anak yatim dan duafa di Kota Cirebon. "Saya sudah mewakafkan hidup saya untuk mereka," kata Ujang  yang pernah menjadi santri di Pesantren Asalafiah, Cirebon ini.

Pada tahun 2003 Ustad Ujang, begitu ia dipanggil, mulai merintis Rumah Yatim dan Dhuafa di Cirebon.  Awal mulanya ia hanya mengajar anak-anak mengaji di mushola peninggalan kakeknya. Niatan utamanya adalah untuk berbagi ilmu agama yang ia peroleh dari pondok pesantren.  Sekitar 100 anak belajar mengaji di sana, dan Ujang menemukan kenyataan jika sebagaian besar dari murid mengajinya adalah anak-anak yatim dan dhuafa. Lalu ia mendirikan Rumah Yatim Piatu Duafa Tuhfatur Rogibin. Mushola kecil warisan sang Kakek,  ia belah ruangannya; sebagian ruangan untuk ibadah dan sebagian lain untuk tempat tinggal  puluhan anak jalanan.

Tahun 2008 Ujang menikah dengan Siti Aisyah. Sebuah perkawinan dengan komitmen untuk bersama-sama merawat anak-anak yatim dan dhuafa. Alhasil, kini Ujang dan Siti sedang merawat 33 anak dhuafa, selain dua anak kandung mereka. Dukungan dan ketulusan Siti dibuktikan dengan tak hanya merawat dan mengurus mereka seperti buah hatinya. “Saking mendukung,  istri saya merelakan gelang dan kalung emasnya untuk dijual dan dipakai untuk memenuhi kebutuhan anak-anak waktu kami tidak punya uang," tutur Ujang yang punya usaha jual beli handphone ini.

Selain mendidik bidang agama, Ujang juga menyekolahkan anak-anak asuhnya di sekolah formal, dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai kuliah. Tak jarang Ujang harus berhutang uang bayaran pada sekolah anak asuhnya. Meski demikian Ujang tetap yakin pada kemurahan Tuhan. Semangatnya tak pernah surut dalam memperjuangkan anak-anak yatim untuk bisa sekolah dan tidak kembali ke jalanan.

Sementara itu di Majalaya, Kabupaten Bandung, Tjitjih Rukaesih,  seorang guru yang tidak berhenti mengajar masyarakat hingga di usianya yang 72 tahun  sekarang. Setelah pensiun sebagai pegawai negeri sipil  tahun 1997, Tjitjih melihat kenyataan yang memprihatinkan di kampungnya, terutama di bidang pendidikan.

Hal pertama yang ia lakukan adalah memberdayakan para jompo, untuk bisa hidup mandiri.  Ia mencari dan mengumpulkan para lansia hingga ke kampung-kampung dan desa tetangga, mengajak mereka untuk belajar bersama. Yang dilakukan oleh Tjitjih bukan tanpa hambatan. Sebagai warga yang lama tak pulang ke kampung halamannya, tak banyak warga yang mengenalnya. Ia dianggap sebagai orang asing di kampung asalnya sendiri. Beragam kegiatan positif diberikan oleh Tjitjih pada lansia, seperti pelajaran baca tulis, pelatihan wirausaha, pengajian di masjid, dan pembagian sembako.

Selanjutnya Tjitjih juga mendirikan PAUD dan sekolah taman kanak-kanak. Ia  juga mengusahakan berbagai program paket; Program Paket A setara SD, Program Paket B setara SMP, dan Program Paket C setara SMA. Program kejar paket ini bertujuan untuk Memberikan peluang kepada masyarakat yang tidak berkesempatan mendapat pendidikan di jalur sekolah formal. "Anak-anak disini tidak hanya belajar dari buku pelajaran, tapi juga dibekali dengan life skill agar mereka nanti bisa berwirausaha. Kita ajari juga mereka bikin roti, nanam jamur, bahkan ada yang sudah punya usaha roti, dan punya karyawan sendiri. Ada juga anak lulusan paket C yang bikin keripik singkong, juga sudah punya karyawan sendiri,” terang Tjitjih dengan bangga.

Meski perjuangannya tidak mudah, tapi Tjitjih selalu semangat melakukan kegiatan sosial ini. Sebelum menemukan donatur, Tjitjih acapkali memakai uang pensiun dia dan almarhum suami, untuk memenuhi biaya kegiatan sosialnya. Kepedulian lain yang ditunjukkan Tjitjih adalah dengan membangun Panti Asuhan sejak tahun 1997. Ia menampung dan mendidik  banyak anak yatim di rumahnya.

Hasil nyata dari perjuangan Tjitjih sudah terlihat nyata. Banyak anak didiknya, baik yang muda atau sudah sepuh, yang kini berhasil terbebas dari buta huruf dan menjadi wiraswasta yang lumayan. "Sekarang saya berani pergi sendirian karena bisa baca, saya juga sudah tidak jadi buruh tani, karena sekarang sudah punya usaha," tutur Cicih salah satu binaan Tjitjih yang sudah berusia 70 tahun.

 Anak  didik Tjitjih lainnya, Bayu, mengungkapkan bahwa sebagai anak yatim, ia sudah tertolong dengan kesempatan mendapat pendidikan kejar paket gratis dan pelatihan keterampilan. Bayu kini menjadi pengusaha keripik dan sudah mampu membiayai adik-adiknya.

Pencapaian tertinggi diperoleh Tjitjih pada tahunn 2012 lalu, ia dan komunitasnya mendapat pengharagaan dari Unesco, Unesco King Sejong Literacy Prize atas penyelenggaraan ‘Keaksaraan Fungsional’. “Katanya dapat penghargaan dari Swiss atau apa gitu. Dinas yang ngasih tau, ada penghargaan dari Unesco, ada 3 negara. Alasannya karena disini tidak hanya mengajari baca tulis, tapi juga langsung membekali orang-orang dengan keahlian, keterampilan kerja,” ujar ibu dua anak ini.

Inilah kisah-kisah yang inspiratif  tentang mereka yang berjuang untuk lingkungan sosialnya. Semua dilakukan demi masa depan anak-anak negeri ini.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy