Desakralisasi Sejarah Islam Versi al-Qumni - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Buku
21/08/2003

Desakralisasi Sejarah Islam Versi al-Qumni

Oleh Zainul Ma'arif

Terlepas dari sisi kontroversinya, buku ini dapat memberi kita perspektif baru tentang bagaimana menyikapi sejarah dan ajaran Islam itu sendiri. Melalui buku ini, kita diajak menggali akar-akar keyakinan secara lebih obyektif, meyakinkan dan tidak membebek (taqlid). Buku ini juga dapat menjadi rujukan penting ketika berbicara tentang masyarakat madani (civil society), negara Islam dan penerapan syariat Islam.

21/08/2003 15:50 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Nah, pergulatan yang kayak begini yang harus ada di belantara Republik ini. Yang mampu merobek-robek susunan pengetahuan yang telah lama permanen.

#1. Dikirim oleh Ucok Pulungan  pada  26/08   12:08 PM

Astaghfirulloh.... semoga tidak ada ummat Islam yang terpengaruh tulisannya.

#2. Dikirim oleh Daddy Kadarsan  pada  03/09   12:09 PM

Terimakasih untuk resensi atas buku ini. Kita tak perlu khawatir dengan dibukanya sisi-sisi sejarah kenabian Muhammad. Kemanusiaan Nabi tidak akan mengurangi kesucian ajarannya. Justru dengan lebih memahami kondisi sosial dan kesejarahan saat turunnya Wahyu dan berkaryanya Nabi Muhammad, umat Islam bisa lebih mengutamakan iman dan mengambil pelajaran. Peran Abu Muthalib dalam karya cucunya, Nabi Muhammad, samasekali tidak mengurangi kedudukan Nabi. Yang dirugikan oleh buku ini hanyalah kalangan pemimpin Islam, yang selama bergenerasi diuntungkan oleh struktur masyarakat Muslim yang patriarkal. Kini mereka jadi pecundang karena bergenerasi lalai. Orang lain disalahkan, mereka merasa diri dikepung oleh musuh-musuh Islam yakni Barat dengan sistem ilmu, dana, dan senjatanya. Buku ini dianggap antek Barat, alasannya, buku ini ditulis menggunakan metode berpikir a-la Barat. Alasan yang sangat tidak Islami tetapi toh digunakan terus oleh umat Islam, termasuk di website ini. Salam, Bram

#3. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  03/09   12:09 PM

Siapapun penulis buku ini, dia berani mengambil resiko untuk berkontroversi sekaligus berkonfrontasi--secara intelektual maupun emosional--dengan kalangan muslim secara general. Bagaimana tidak, Rasul yang merupakan ‘uswah hasanah’ dan simbol idealitas behavioral--termasuk dalam prilaku berpolitik--, digugat kedudukannya.

Saya kira mengambil konteks tarikh yang konvensional-klasik adalah hal yang lebih menyelamatkan kepada kebenaran imanen kerasulan Muhammad yang ummi. Saya lebih yakin dan mantap dengan sirah Syaikh Ibnu Hisyam dengan metode periwayatannya misalnya. Dibandingkan dengan buku seperti karangan al-Qummi yang hanya mengetengahkan prasangka-prasangka, sumber-sumber tidak jelas, serta metode berpikir analisis yang useless, menunjukkan betapa bahwa nyata sekali bagaimanapun sirah-sirah klasik lebih bisa terpercaya dan pantas dijadikan rujukan. Alasannya simpel, karena sirah-sirah itu ditulis dalam rentang waktu yang relatif dekat dengan kehidupan Rasul, sehingga relatif masih mudah mendapatkan riwayat yang terpercaya; serta level ketaqwaan ulama’ salaf sebagai penulis jauh lebih tsiqah dibandingkan dengan intelek khalaf.

Tidak ada kesimpulan lain yang sementara saya ketahui dari potongan statemen al-Qummi dalam artikel di atas, kecuali adalah tendensiusitas.

Wallahu’alam.

#4. Dikirim oleh ahmad fauzan  pada  06/09   12:09 PM

Salam, semoga diberkati Tuhan.

Bagi saya, ini adalah buku yang cukup mendapatkan ‘applause’ setidaknya, dari sisi intelektual yang mengedepankan rasio logos. namun yang jelas, isinya sungguh di luar batas kemampuan kognitif saya untuk bisa menerima secara bawah-sadar.

Bagi saya, selama manusia merupakan ‘makhluk spritual’ yang memasuki ranah sosial kemanusiaan, tidak selayaknya memulai pengembaraannya dari titik yang profan. setidaknya, otoritas nurani intuitif yang berdampingan bersama akal logos, masih saya akui. hal ini bisa menjelaskan mengapa uraian al-Qumni di atas tidak bisa saya terima secara bawah-sadar.

Bagi saya, hal ini tak lebih dari sekedar sebuah wacana yang [boleh saja] terlempar dari al-Qumni dan bahkan siapa pun. dengan piranti akal kreatif yang berdasar atas prasangka-prasangka yang ‘ilmiah’, siapa pun bisa beralibi. masalahnya adalah, apakah hal itu kongruen dengan kebenaran nurani/fitrah?

Sebagai catatan: kebenaran nurani sering kali cepat tertutup ketika tersimpuh ‘juluran lidah api.’

salam,

Aby Mikasyah

#5. Dikirim oleh aby mikasyah  pada  15/09   03:09 AM

Saya sedikit sekali tahu tentang sejarah para Nabi juga Arab-Islam, karena itu saya merasa dipengaruhi tulisan tersebut. Demi Tuhan saya sangat prihatin.

salam,

#6. Dikirim oleh emha hamdi  pada  26/09   05:09 AM

Salam

Apapun yang tertulis dalam buku itu baik jika diambil sisi positif sebagai referensi pembanding atas pengetahuan Islam literal selama ini. Jika kita ingin bersikap islami, ya tidak perlu emosi membacanya, justru ambil manfaat dari historitas dan ketokohan nabi dalam pergulatan hidupnya dulu.  Mungkin yg menjadi keprihatinan sebagian umat islam lain adalah jika dibaca oleh umat yg masih tipis dan ragu keimanannya atas Islam. Tapi juga baik jika umat dibiasakan berpikir terbuka agar siap berperan dalam arus global ini. Krn mau tidak mau kita hidup di alam yg plural.

Semoga setelah membaca ini, bukannya saya dan umat islam lain jauh dari sifat/karakter islami tetapi semoga lebih menimbulkan peningkatan thd spritual kita dg paradigma atas islam yang berbeda dari sebelumnya. Saya pikir JIL bisa berperan utk membebaskan paradigma yg tidak menyesatkan.  Semoga

wassalam

Rizal

#7. Dikirim oleh MN. Rizal  pada  03/10   10:10 AM

Dalam hal penulisan sebuah sejarah, saya kira klaim-klaim mengenai cerita siapa yang paling benar tentang masa hidup Muhammad dan lingkungan sekitarnya tidak akan ada habisnya.  Semua akan bermuara pada subyektifitas yang memenuhi kepuasan kebenaran yang telah dianut, sesuai dengan naluri alamiah manusia. Untuk itu kiranya perlu dibuat garis, atas dasar keyakinan apa kita mempercayai cerita seseorang, siapapun, yang jelas-jelas sangat berbeda dan subyektif.

Jika saja kita berada dalam satu kesefahaman : Alqur’an, setiap ayatnya adalah wahyu dan bukan dongengan Muhammad s.a.w belaka. Maka apapun pandangan dan tafsir kita terhadap Al-Quran. Semua setuju bahwa di sana terkandung sejarah yang authentic diceritakan sebagaimana adanya, jujur, asli dan sesungguhnya. Dus kemudian semua cerita sejarah yang benar tentunya tidak berlainan arah dengan cerita sejarah Al’Quran. Dari sumber manapun. baik cerita Isa, Nuh, Ibrahim, Agama Ibrahim, Adam, Musa. Abu thalib keadaan Mekah dll.  Semua tulisan sejarah itu termaktub dalam Al-Quran.

Bagi saya, adalah menggelikan kalau kita mempercayai buku ini atau membuatnya jadi referensi, karena sumber2 sejarah yang diceritakan tidaklah punya authentikasi originalitas. Sang penulis atau pe-referensi pun “tidak pernah” hidup di masa itu. Lalu membuat cerita dan interpretasi sejarah sendiri yang kelihatannya asal beda.

Menurut saya kedudukan cerita sejarah oleh orang atau “manusia” baik yang mendukung doktrin islam maupun bertentangan adalah : sama dalah hal kebenaran.  Tetapi kedudukan cerita sejarah tersebut dibandingkan dengan tulisan sejarah Al-Quran adalah berbeda dilihat dari segi keterpercayaan.

Despite all of those stories. Ada teks yang bernama buku ini, kemudian ada teks yang bernama Tulisan Sejarah dalam Al-Quran. Tanpa interpretasi, tulisan sejarah mana yang anda percayai. itu saja.

Bagaimana buku ini menceritakan Muhammad s.a.w, dan bagaimana Al-Quran menceritakan Muhammad s.a.w ? mana yang anda percaya ? bagaimana buku ini menceritakan dan mendudukkan Abu Thalib dan bagaimana Al-Quran menceritakan dan mendudukkan Abu Thalib ?

Permasalahan seperti ini adalah simple dan sangat mudah dilihat dari segi logika yang sudah biasa dipakai di teknologi komputasi (sesuai bidang yang saya tekuni - Comp. Tech. ). Tautologi sederhana yang punya jawaban sederhana. Yang walhasil tidak dapat diterimanya teks ini sebagai referensi. bahkan jika tautologi itu di-"running" oleh orang atheis sekalipun yang tidak mengenal Islam hasilnya tetap sama. Karena pada dasarnya logika seperti ini adalah biasa.

Sama seperti apa yang digemborkan JIL. Kata JIL : Orang2 revivalis tidak berhak mengklaim kebenaran. Tidak ada yang berhak mengklaim kebenaran. Logikanya sama saja jika saya dengar Orang revivalis mengatakan JIL tidak berhak mengklaim kebenaran, seperti masalah Jilbab, potong tangan dan lain2. JIL bilang interpretasi saya yang benar mereka yang salah, mereka bilang Interpretasi kami yang benar, JIL yang salah. Analoginya, kedudukan JIL dan kaum revivalis adalah sama tidak ada yang lebih satu dari yang lain. Sama seperti kalau teman2 revivalis ingin melihat Istri teman2 JIL sujud Sholat tanpa Rukuh atau penutup atau apa yang disebut Jilbab sambil memakai rok sopan sebatas lutut , blouse kerja dan acessories lainnya, rukuk, sujud)

Tinggal sekarang dimana kita menempatkan diri, jangan berfikir asal beda.

-salam-

#8. Dikirim oleh Arfan  pada  28/10   01:10 PM

Apa yang telah dijelaskan Al-Qumni itu hanya berada pada batas dan tataran logika zaman yang seakan-akan inmgin menyisihkan opini dalam bentuk interpolasi pada peradaban islam. Di dalam Islam mulai dari Al-qur’an, hadist serta pendukung lainnya tidak mengenal bahasa interpolasi logika. Perlu dikertahui bahwa dalam hukum agama islam tidak dikenal adanya interpolasi seperti agama lain. Kehancuran inverium peradaban Islam dibolahan dunia atau dibanyak negara Islam adalah opini yang tumbuh subur seperti gaya Al-Qumni.

Dalam berbagai permainan bahasa dan kalimat yang ditunjukkan seperti itulah kemauan mereka teknologi dan penemuan manusia sekarang tidak bisa menjadi patokan sebuah perubahan untuk membuat sebuah opini, tetapi Al-qur,anlah yang merupakan sumber opini yang ilmiah. Semua dugaan dan falsafah sain yang tidak berdasar pada Al-Qur’an dan Hadist itu pasti temporer, dan sesuatu yang temporer pasti akan berada di limit waktu begitupun halnya dengan asumsi Al-Qumni dan seperti itulah kemauan mereka.  thank you.
-----

#9. Dikirim oleh Ir.Awaluddin DM  pada  04/04   07:04 PM

wah artikel nya bagus banget bro mudah2an bertambah ilmu, salam kenal ya bro

#10. Dikirim oleh ricky  pada  29/08   04:16 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq