Manusia dan Kebutuhan Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Buku
30/09/2003

Manusia dan Kebutuhan Agama

Oleh Faiz Manshur

Agama sebagai gejala psikologi rupanya cukup memberikan pengertian kepada kita tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan lebih dari itu, ketika agama benar-benar tidak sanggup memberikan pegangan bagi masa depan kehidupan manusia, kita pun bisa saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem kehidupan.

Judul: Psikologi Agama (sebuah pengantar)

Penulis: Jalaluddin Rakhmat

Penerbit: Mizan Bandung

Cetakan: Agustus 2003

Tebal: Xvii+247 Halaman

Harga: Rp 34.000

Beberapa dekade lalu, wacana seputar agama pernah diperdebatkan dalam kaitannya dengan ilmu-pengetahuan. Kebanyakan pemikir modern melihat, pada kenyataanya agama merupakan sekumpulan doktrin yang dilegitimasi oleh “prasangka-prasangka” manusia di luar rasionalitas. Sementara, ilmu pengetahuan yang nota bene mengedepankan rasionalitas sangat keras menolak doktrin. Dikotomi ini pada perkembangan selanjutnya juga berimplikasi pada pemahaman bahwa masyarakat yang telah memasuki gerbang rasionalitas akan berkurang keyakinannya terhadap agama, terutama agama formal yang terinstitusi (institutionalized religion). Semakin rasional seseorang, semakin menjauh dia dari ritual agama. Sebaliknya, manusia yang kurang tersentuh rasionalitas, dengan sendirinya akan kuat menyakini ajaran agama. 

Fakta sosiologis banyak mendukung pemahaman demikian. Dalam masyarakat modern --seperti di negara-negara Eropa dan Amerika-- banyak orang yang tidak lagi mengindahkan agama. Sementara itu, di banyak negara berkembang yang transformasi ilmu pengetahuannya masih lamban, masyarakatnya masih sangat kuat meyakini ajaran agamanya. Namun kenyataan tersebut hanya ada persepsi sosiologis. Di luar itu, ada sejumlah fenomena yang tidak sepenuhnya berada dalam persepsi demikian.

Sebagai contoh, sekarang kita banyak menemukan masyarakat yang hidup dalam situasi modern, percaya akan rasionalitas, namun tetap memegang ajaran agamanya secara kuat. Lebih dari itu, di negara-negara yang sudah maju, banyak juga ditemukan gejala lari ke agama dalam bentuk-betuk lain seperti sekte-sekte. Inilah beberapa fenomena yang tidak terbantahkan. Kenyataan yang demikian setidaknya disebabkan oleh berbagai macam hal. Salah satunya karena modernitas sendiri tidak selalu memberi perbaikan bagi kondisi umat manusia. Modernitas tak mampu mengatasi berbagai problem dan misteri kehidupan yang menerpa manusia. Bahkan, modernitas sebagai bagian dari proyek kemajuan rasionalitas, nyatanya hanya memberikan konstribusi positif bagi kelas yang dominan. Mereka-mereka yang terpinggirkan mengalami marginalisasi atau keterasingan dari kemajuan zaman.

Situasi inilah yang membuat mereka tergerak untuk menemukan alternatif atau pegangan, karena modernitas bukan lagi rumah yang damai untuk kehidupan. Agama sebagai salah satu ajaran yang memberi tuntunan hidup ternyata banyak dijadikan pilihan. Hanya saja, mengapa agama menjadi pilihan sebagian orang dalam zaman yang serba canggih ini? Kenapa mereka tidak memilih ideologi yang nota bene lahir dari rahim modernitas?

Ada indikasi kuat bahwa di dalam agama terdapat banyak nilai yang bisa dimanfaatkan manusia ketimbang ideologi. Ini disebabkan karena ideologi, hanya membuka diri pada hal-hal yang sifatnya rasional. Dan itu justru membatasi berbagai kepentingan manusia. Sementara agama dengan keleluasaannya memberi banyak ruang. Orang bisa beragama dengan memasukkan banyak rasionalitas, sebagaimana pengalaman para pemikir-pemikir keagamaan yang hidup dalam dunia akademik. Sebaliknya, orang juga bisa dengan leluasa memeluk agama dan merasakan nilai-nilai positifnya tanpa harus capek-capek menggunakan potensi akalnya untuk berpikir.

Bagi mereka yang termarginalisasi atau bahkan hidupnya dimanja oleh modernitas, agama juga tetap memberik tempat. Agama memberi tempat bagi semua. Di atas keterbukaan inilah agama seringkali menjadi fenomena yang cukup unik dalam masyarakat. Di dalam dimensi-dimensi agama, terdapat banyak varian yang cukup sulit untuk digeneralisasi oleh paradigma sosiologi. Jalaluddin Rakhmat, dalam buku ini melukiskan secara metaforis: “Agama adalah kenyataan terdekat sekaligus misteri terjauh. Begitu dekat, karena ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di rumah, kantor, media, pasar, dan di mana saja. Begitu misterius, karena ia sering tampil dengan wajah yang sering tampak berlawanan: memotivasi kekerasan tanpa belas kasihan, atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu yang tertinggi, atau menyuburkan takhayul dan superstisi; menciptakan gerakan paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani yang paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.” (hlm. 1).

Agama adalah juga fenomena sosial. Agama juga tak hanya ritual, menyangkut hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya belaka, tapi juga fenomena di luar kategori pengetahuan akademis. Sebagian manusia mempercayai agama, namun tidak pernah melakukan ritual. Yang lain mengaku tidak beragama, namun percaya sepenuhnya terhadap Tuhannya. Di luar itu semua, kita sering menyaksikan, dalam kondisi tertentu --semisal kesulitan hidup atau tertimpa musibah-- manusia cenderung berlari kepada agama. Sebaliknya, pada saat dirinya hidup dalam kondisi normal, mereka seringkali tidak peduli terhadap agama, bahkan mengingkari eksistensi Tuhannya.

Berangkat dari fenomena demikian, psikologi agama merupakan salah satu cara bagaimana melihat praktek-praktek keagamaan. Dengan paradigma psikologi, Jalal mencoba mengatasi kebuntuan analisis seputar fenomena keagamaan yang sangat beragam seperti dewasa ini. Psikologi yang dimaksudkan buku ini tentu tidak melihat agama sebagai sebuah fenomena langit yang sakral dan transenden. Sebuah lahan garapan teologi. Yang ingin dilakukan Jalal adalah membaca keberagamaan sebagai fenomena yang sepenuhnya manusiawi. Ia menukik ke dalam proses-proses kejiwaan yang mempengaruhi perilaku kita dalam beragama, membuka “topeng-topeng” kita, dan menjawab pertanyaan yang berbunyi “mengapa”. Psikologi, karena itu, memandang agama sebagai perilaku manusiawi yang melibatkan siapa saja dan di mana saja (hlm. 248).

Sebagai gejala psikologi, agama rupanya cukup memberi pengertian tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan bila dicermati lebih jauh, ketika agama betul-betul tak sanggup lagi memberi pedoman bagi masa depan kehidupan manusia, kita bisa saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem yang menghimpit kehidupan.

Buku ini layak dibaca. Selain kita akan diperkaya oleh landasan-landasan pemikir besar dunia, kita juga akan diarahkan untuk tidak bersikap hitam-putih dalam melihat praktek-praktek keagamaan maupun ajaran agama itu sendiri. Selamat membaca!***

30/09/2003 | Buku | #

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

assamu’alaikum , agama adalah tuntunan hidup kita,jadi sudah jelas kita tidak boleh merubah atau membuat agama baru seperti Ahmadiyah.

Posted by soegiharto  on  04/06  at  10:21 AM

sebagaimana alat-alat lainya agama bisa dijadikan apa saja, bisa teman lawan kawan sahabat, pacar, musuh, hantu, anjing, kucing, tuhan atau apapun terserah kepada siapa agama itu hinggap. maka ketika agama sudah dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan, itu dikarenakan pemegang agama tidak mampu menjadikan agama sesuai dengan kehidupan.

jadi agama bisa mengikuti kehendak kita, dan kita tidak melulu mengikuti kehendak agama. karena agama dengan kita adalah sama ciptan-Nya.
-----

Posted by moch hilmi ashidiqie  on  11/24  at  05:11 PM

salam… agama yang banyak di kenali belakangan dan di pahami oleh sebagian umat beragama, tidak lebih dari sekedar romantisme keindahan belaka. ketika konsepan agama tidak lagi membumi, yang serat akan makna filosofis kehidupan. sehingga agama menjadikan hal yang sangat menakutkan, dengan segala macam doktrinnya sehingga menjadi dogma yang harus ditelan mentah-mentah oleh penganutnya. persoalan datang ketika sebuah proses transfer ajaran-ajaran agama yang di bawa oleh para ulama, dijadikan sebuah kebekuan nilai-nilai agama itu sendiri.

Mungkin agama pada akhirnya dijadikan sebuah keindahan tersendiri bagi sebagian orang yang masih mengharapkan sebuah kelembagaan yang bernama agama. bukan lagi merupakan suatu landasan yagn esensial bagi kehidupan umat manusia. dan akhirnya semoga buku yang ditulis oleh Jalaludin Rahmat ini banayak memberikan manfaat bagi seluruh pengkaji ilmu-ilmu agama khususnya, serta menambah teks-teks pemahaman tetnang ke agamaan yagn sempat hilang.

salam…

Posted by huluful fahmi  on  10/19  at  05:10 PM

“Agama adalah kenyataan terdekat sekaligus misteri terjauh”.

Betapa aku merindukan masa kecilku dimana ‘agama’ tak lebih dari sekedar ritual, sedangkan seluruh hidupku dilingkupi oleh agama yang indah dan sama, entah itu dari teman, orang tua, orang tua teman, guru matematika, guru PMP, guru agama Islam, guru agama Kristen, pak Bon, pohon, hujan, petir, main layang-layang, burung, majalah anak-anak, komik, sakit, sembuh, petak umpet......

... hingga saat ilmu dan kedewasaan memilah-milahnya menjadi ‘agama’ dan bukan ‘agama’.

Untukku, kenyataan terdekat telah menjadi misteri terjauh…

Posted by chinta deyvata  on  10/13  at  11:10 AM

Saya kebetulan sulit untuk punya akses langsung kepada karya Kang Jalal, karena saya tidak tinggal di Indonesia. Harapan saya, dengan membaca ulasan dalam bentuk bedah buku, resensi dan semacamnya, saya akan mempunyai gambaran yang ringkas tapi memadai tentang paling tidak tujuan, metode, kandungan, kelebihan dan kekurangan buku tersebut. Resensi Faiz Manshur ini, harus saya akui, tidak berhasil memenuhi harapan saya itu. Kekurangan mendasarnya: tidak sistematis mengikuti pola-pola umum penulisan kajian/resensi buku (book review). Selain itu, penulis saya kira kurang berhasil memancing daya tarik pembaca (minimal daya tarik saya) untuk membaca buku, lewat pemilihan point-poin penting yang menarik dari buku tersebut, yang mestinya diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang padat dan memikat. Tidak cukup sekedar dikatakan di akhir resensi: “Buku ini layak dibaca,” tanpa alur argumen yang jelas, dengan mengacu pada poin-poin penting dalam buku itu sendiri. Padahal, tidak sulit diduga, buku Kang Jalal kali ini, seperti beberapa buku dia yg menjadi best seller, pasti tidak kalah berbobotnya untuk dibaca. Yang lebih parah, dalam banyak bagian resensi, sulit dibedakan mana gagasan-gagasan yang berasal dari penulis resensi dan gagasan penulis buku yang diresensi.

Posted by Abu Ahmad  on  10/11  at  04:10 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq