Penampakan “Hantu JI” di Mesir
Halaman Muka
Up

 

Buku
16/12/2004

Penampakan “Hantu JI”
di Mesir

Oleh Novriantoni

Buku ini memang tidak berbicara tentang JI kontemporer yang sedang kita ributkan dan hubungannya dengan sosok Abu Bakar Ba’asyir, sebagaimana promosi penerbitnya pada cover bagian belakang. Ulasan tentang JI di buku ini, juga tidak serta merta identik dengan JI yang sedang menghantui kita. Meski demikian, kehadiran buku ini --sekalipun agak telat-- tetap penting untuk membantu memahami geneologi JI yang muncul dan berkembang sebagai kenyataan faktual sejak tahun 1970-an di Mesir.

Judul: Jamaah Islamiyah: Sejarah dan Fakta
Penulis: Badar Muhammad Badar
Penerjemah: Akhmad Budhiyanto
Penerbit: Qisthi Press
Cetakan: 1, Juli 2004
Tebal: 152 halaman


Saban kali terjadi peledakan bom di Indonesia, nama Jamaah Islamiyah (JI) hampir pasti disebut-sebut sebagai dalang utama. Bahkan, pada kasus “bom Kuningan” baru-baru ini, organisasi JI seksi Asia Timur melalui situs www.islamic-minbar.com mengaku sebagai pihak yang bertangungjawab. Namun demikian, perbincangan tentang JI tetap saja mirip obrolan tentang hantu yang tak berwujud fisik, meski auranya sangat kuat tarasa. Pertanyaan pun selalu muncul: apakah JI sekedar mitos, atau sebuah realitas faktual? Sebagian orang menganggap istilah JI sebagai rekayasa pihak tertentu demi menyudutkan sebagian kelompok Islam (terutama yang radikal). Tapi pihak lain justru mengklaim JI sebagai realitas faktual yang tidak terbantahkan, punya jaringan kuat di tingkat Nusantara (bahkan dunia), dan disinyalir terlibat pelbagai tragedi pengeboman di Tanah Air dan tempat lainnya. Kalau klaim kedua yang benar, maka sejak kapan “penampakan hantu JI” terjadi untuk pertama kalinya?

Buku ini memang tidak berbicara tentang JI kontemporer yang sedang kita ributkan dan hubungannya dengan sosok Abu Bakar Ba’asyir, sebagaimana promosi penerbitnya pada cover bagian belakang. Ulasan tentang JI di buku ini, juga tidak serta merta identik dengan JI yang sedang menghantui kita. Meski demikian, kehadiran buku ini --sekalipun agak telat-- tetap penting untuk membantu memahami geneologi JI yang muncul dan berkembang sebagai kenyataan faktual sejak tahun 1970-an di Mesir.

Sebagaimana dituturkan penulisnya, buku ini ditulis untuk mengisi kelangkaan “riset yang objektif” tentang JI sebagai sebuah pergerakan keislaman (harakah islâmiyah) yang semarak dan berpengaruh luas di lingkungan akademik Mesir pada dasawarsa antara 1970-1980-an. Biasanya, fenomena JI dibahas sebagai laporan strategis atau data intelijen untuk melayani kepentingan pihak keamanan atau rezim penguasa. Rekomendasi yang selalu muncul dalam penelitian tentang JI selalu soal bagaimana cara mendiskreditkan dan “menanggulangi” perkembangannya yang cukup pesat (hal. 1). Berbeda dengan pendekatan pertama, buku ini ditulis seorang yang sempat menjadi Amir (pemimpin) JI di Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Kairo pada tahun 1978-1979 (kini menjabat salah seorang juru bicara al-Ikhwanul Muslimin di Mesir). Makanya, buku ini dapat didudukkan sebagai laporan tentang sejarah dan fakta JI di Mesir, dari sudut pandang “orang dalam” atau pelakunya sendiri.

*****

Secara historis, kelahiran JI di Mesir sangat terkait dengan konteks perkembangan sosial-politik-keagamaan Mesir menjelang tahun 1970. Kekalahan Arab atas Israel dalam perang Juni 1967, menjadi starting point muncul dan maraknya perkembangan gerakan keislaman di Mesir, khususnya di “kampur-kampus sekuler”. Sebelum itu, aktivitas gerakan keislaman seperti al-Ikhwanul Muslimun (IM) ditekan habis, dan para aktivisnya dijebloskan oleh rezim Nasser ke penjara. Gerakan mahasiswa di kampus-kampus juga didominasi organisasi kemahasiswaan bercorak Marxis, Nasionalis, atau Nasseris. Suara “mahasiswa Islam” nyaris tak terdengar. Tapi kekalahan Mesir dan negara-negara Arab pada perang 1967 betul-betul mengubah peta gerakan mahasiswa, memberi momentum kebangkitan bagi gerakan-gerakan keislaman baru, merangsang munculnya tafsir teologis atas krisis, dan mendelegitimasi rezim yang berkuasa.

JI lahir sebagai respons atas kekalahan yang menyesakkan itu. Dengan semangat kembali kepada Islam sebagai agama dan ideologi yang dipercaya akan memberi jalan keluar bagi pelbagai krisis, benih-benih JI mulai berkecambah. Pada tahun 1968, di Kairo berlangsung demonstrasi besar-besaran yang digalang berbagai elemen gerakan mahasiswa dengan pelbagai corak. Demonstrasi itu menuntut ditentukannya pihak-pihak yang bertanggungjawab atas kekalahan perang 1967. Demonstasi ini menjadi turning point bagi perkembangan gerakan keislaman di kampus-kampus.

Fakultas Arsitektur Universitas Kairo pada awal dasawarsa 1970-an menjadi lahan persemaian paling awal, dan membuahkan embrio JI. Melalui kegiatan-kegiatan keagamaan berbentuk halaqah dan kamp pelatihan (mu`askar) yang rutin, gerakan ini berhasil meluaskan jejaringnya ke fakultas-fakultas, bahkan kampus-kampus lain. Universitas Alexandria yang terletak di pesisir Mesir, merupakan kampus yang paling berjasa mempercepat pertumbuhan JI ke seluruh pelosok Mesir. Mulanya, gerakan-gerakan keislaman itu berkembang secara sporadis di dalam kampus. Tapi para pemuka organisasi keagamaan intra dan interkampus kemudian berkumpul sembari mencetuskan “Jamaah Islamiyah” sebagai sebutan bagi dinamika kegiatan keislaman yang lebih terorganisir.

Eforia kemenangan Mesir atas Israel dalam perang Oktober 1973 di gurun Sinai menambah kuat pengaruh JI yang mengkalim diri memperjuangkan kembalinya Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pada tahun 1974-1977, anggota JI sudah berhasil merebut setiap posisi puncak pada organisasi-organisasi kemahasiswaan di hampir seluruh perguruan tinggi Mesir. Sebuah perkembangan yang sangat cepat, jauh dari perkiraan para aktivisnya sekalipun.

******

Lantas bagaimana hubungan JI dengan IM yang lebih dulu eksis (sejak tahun 1928) sebagai organisasi sosial-keagamaan di Negeri Fir’aun itu? Buku ini memberi tahu, kebanyakan kelompok-kelompok Islam yang berkembang di perguruan tinggi Mesir, memiliki hubungan harmonis secara personal dengan tokoh-tokoh IM. Hubungan itu lebih intim lagi setelah pada musim panas 1971, Presiden Anwar Sadar membebaskan sebagian pemimpin IM yang dipenjara semasa Presiden Gamal Abdun Nasser. Setelah menghirup udara bebas, mereka segera membentuk link dengan kaum muda di kampus-kampus. Banyak dari mereka yang dinobatkan sebagai mentor yang setia berbagi pengalaman dengan para juniornya (hal. 17). Dari para seniornya inilah, anggota JI kemudian menimba pengalaman dalam membangun dan memajukan gerakan keislaman di Mesir.

Lalu bagaimana bentuk struktur organisasi JI; sikap-sikap politik mereka terhadap isu lokal, regional maupun internasioal; pasang surut hubungannya dengan rezim penguasa? Semua itu dapat ditelusuri dari buku tipis nan ringkas ini. Pendek kata, di tengah kelangkaan literatur yang memuat informasi memadai tentang JI, buku ini dapat menjadi rujukan berarti. Buku ini penting dibaca oleh kalangan aktivis pergerakan keislaman, peneliti, akademisi, insan pers, dan semua pihak yang haus informasi akan JI. Tapi, sebagaimana diingatkan sejak awal, buku ini tentu saja mewakili sudut pandang orang JI sendiri. []

16/12/2004 | Buku | #

Komentar

Komentar Masuk (14)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya dari Th 1984 sudah Insyaf masuk LDII , tetapi dalam perjalanan Hidup Saya pernah juga keluar dari LDII untuk belajar di NU , tetapi pada hal keyakinan ternyata di LDII saya dapat kan pengajian yang sama-sama buka Al Quran & Al Hadist , sehingga kita mempelajarinya kembali di rumah akhirnya saya berjanji akan terus menerus menetapi Quran hadist jamaah di LDII ...Bravo LDII

Posted by Pono Ariesta Putra  on  11/14  at  03:30 PM

Tak kasih tau ya, bambang irawan itu, dulu aktifis LDII, tetapi dia ambisi ingin memperoleh jabatan dalam LDII, tetapi niat itu tidak keturutan. Ini semua Allah SWT yang mengatur, bambang irawan ingin mencari sesuap nasi dari LDII, maka Allah SWT yang mencampakkan, membuang dia dari LDII, bambang irawan sekarang menjadi orang yang hina, tidak lagi seperti dulu.
bambang irawan sekarang banyak menyebarkan fitnah, kabar bohong, fakta tentang LDII diplintir sedemikian rupa untuk menciptakan kebencian terhadap LDII. Pantas bambang irawan berbuat seperti itu, karena niat ingin memperoleh jabatan di dalam LDII tidak keturutan. Oleh karena itu jangan percaya terhadap isu LDII yang dihembuskan oleh bambang irawan, saya tahu persis tentang bambang irawan.
Percayalah dan lihatlah fakta LDII terus berkembang dimana-mana, tetap dinamis tidak terpegnaruh oleh isu yang ada di sekelilingnya. Masjid LDII adalah masjid umum, silahkan datang dan beribadah sambil mengamati warga LDII, benarkah isu yang anda dengar?

Posted by Hari Sasongko  on  06/29  at  01:50 PM

Menurut saya gak usah berdebat LDII sesat atau gak sesat deh.  Akar permasalahannya lebih dalam dari sekedar hal itu. Fundamentalisme dalam Islam itu masalahnya.  Ada satu pendapat oleh siapa lupa, yang mengibaratkan fundamentalisme dalam Islam sebagaimana dipraktikkan oleh kaum Wahabi dan lain-lain, termasuk LDII adalah seperti tukang sayur, Al Quran dan Hadist dijual mentah, tidak dimasak lagi dengan akal sehat dan hati nurani.
Tukang masak itu contohnya adalah para ulama NU, Muhammadiyah, dan lain-lain, termasuk para pemikir Islam yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal.
Setuju? monggo, gak setuju? monggo. Silakan komentar.

Posted by Tibandenker  on  01/31  at  06:49 AM

Komentar untuk Mas Luthfi #6

Mas Luthfi kok melihat negara dan masyarakat Jepang dari kacamata negatif ya?  Gini aja, coba tunjukkan satu negara yang menerapkan Quran dan Hadith secara murni dan konsekuen, yang miskin sumber daya alam tetapi bisa makmur seperti negara Jepang.  Buat orang Jepang, urusan sorga dan neraka setelah mati itu urutan nomor sekian dari belakang mas. Kalo Mas Luthfi terlalu terpesona pada urusan sorga dan neraka setelah mati nanti, akibatnya urusan hidup dan menghidupi semasa hidup di dunia ini jadi terlantar mas.
Udah gitu adanya sorga dan neraka setelah mati itu spekulasi lho mas, sedangkan hidup kini dan di sini di dunia nyata itu fakta. Maaf kalau tidak berkenan.

Posted by Tibandenker  on  01/31  at  06:29 AM

banyak isu yang miring tentang LDII yang saya dengasr baik dari mulut maupun majalah...ada yang aneh dari isu tersebut...karena menurut saya isu itu sengaja di sebarkan oleh pihak-pihak untuk memecah belah islam...wahai saudara ku seiman...sadarlah bahwa bukan saatnya kita meributkan tentang tata cara beribadah dalam islam selama cara beribadah sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah dan Rosul....
kembali ke LDII saya pernah beberapa kali diajak ke pengajian LDII oleh teman...dari hasil pengamatan saya tidak ada tuh yang seperti diisukan. LDII hanya mengajak setiap manusia untuk beribadah dengan memurnikan agama berdasarkan Alquran dan hadis.
jadi saudara-saudarku jangan mudah mencap LDII sesat. tanya kan pada diri anda sendiri....apakah anda yakin bahwa dengan cara ibadah yang skarang anda laksanakan sekarang sudah benar dan dan tidak sesat, sesuai yang ada didalam Alquran dan hadist. kalo anda sudah betul mengaji langsung dari sumber ilmu alquran dan hadist seperti yang dilaksanakan oleh warga LDII...silakan anad berkomentar tentang sesatnya LDII, atau jangan2 anda belajar cara ibadah dari buku karangan yang belum tentu kebenaranya, kalo memang demikian dari mana anda tau...bahwa lDII sesat.
terus terang saya bersimpati dengan LDII...dengan metode pengajaran dan cara dahwah yang mereka sebarkan…
jadi....yakinkan diri anda sendiri bahwa anda benar baru mencap orang lain (LDII) sesat????????
wassalam

Posted by bahrudin  on  12/07  at  04:05 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq