Perempuan dan Kue Donat - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
16/10/2006

Perempuan dan Kue Donat

Oleh Nong Darol Mahmada

Di antara percikan petuahnya itu, ia menganjurkan perempuan-perempuan muslimah memakai jilbab. Dengan penuh percaya diri, dia mengumpamakan, bahkan menyamakan perempuan berjilbab seperti kue donat yang dibungkus plastik rapat-rapat. Menurutnya, donat yang dibungkus plastik itu lebih sehat, terjaga, tidak dicolak-colek tangan-tangan yang hanya iseng tapi tak mau beli.

16/10/2006 07:44 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (68)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 4 halaman 1 2 3 >  Last »

Waduh...waduh....hebat juga penjelasan Nong Darol Mahmada, apa bener nih muridnya Ust. Quraish Shihab? Ngutip surat al-Ahzab lagi. Entah apapun akhirnya, ulasan yang Anda buat-buat bukannya malah membuat umat bingung? Kok semua jadi relatif?

#1. Dikirim oleh rahman  pada  16/10   08:11 AM

Analogi memang tidak pernah menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya, analogi biasanya hanya dititikberatkan pada apa yang mau ditekankan oleh pembicara. Maka seringkali analogi itu terlalu menyederhanakan persoalan dan bahkan tidak adil. Seorang gadis dianalogikan dengan bunga dan sang jejaka dianalogikan dengan kumbang, jelas terlalu simple.

Menganalogikan wanita-jilbab dengan donat-bungkus plastik tentu saja sah tetapi bisa menyinggung perasaan karena perbedaan martabat, sama seperti kalau kita menganalogikan ustad dengan tukang jual obat. Sama-sama jualan khan ?

Diluar cara membandingkan yang dipertanyakan Nong, saya menghargai atau lebih tepat mengagumi kemerdekaannya mempertanyakan aturan agama (dalam mengatur cara berpakaian) secara rasional. Dan kalau menurut Rahman umat bisa jadi bingung maka mari kita ajak umat menggunakan rasionya untuk belajar lagi ... setuju ?

#2. Dikirim oleh Adi Prasetya  pada  17/10   01:11 AM

Nong Darol Mahmada .... harus nya ngerti bahwa, beliau-beliau yang selalu bicara tentang KEWAJIBAN JILBAB hanya mengingatkan perempuan muslimah sebagaimana perintah ALLAH SWT. Nong Darol Mahmada tentu ingat nasehat menasehati dalam kebenaran dan kebaikan toh.....(QS. ke 103)

#3. Dikirim oleh nika  pada  17/10   05:11 PM

Flow tulisan Nong tidak melihatkan satu pembendahraan yang baru,..hanya mengkritik dalam kapasitas ketidak tahuan apa yang harus dikritik. Secara implisit melihatkan kalau alur pemikiran nya melompat lompat, dan mencoba menyembunyikan pola fikir yang pluralis,..dan membingungkan. Kata pemaksaan , dan imbauan serta di campur aduk seperti cendo .Tidak ada value yang terlihat dari tulisan tsb. Just west my time. better shut up and being pendengar yang good.

afrinal West Texas. USA

#4. Dikirim oleh afrinal  pada  17/10   07:10 PM

Lha kalau ente setuju jilbab sebagai cara agar mudah dikenali, kan logis kalo kita pake jilbab untuk untuk menunjukkan identitas kemuslimahan kita, biar ndak sama dengan kayak yang suka pamer aurat (contoh sapi, kambing dll), kalau nuruti mana yang disukai lha tentu saja kebanyakan nafsu manusia akan bilang tentu yang diobral bebas lah yang yahuud, tapi kalau ditanya nurani manusia mana yang menenangkan pasti akan dijawab yang tertutup rapat. Dalam agama tidak ada paksaan! ya kalau ente mau mbangkang pun Allah tidak berkurang kebesaran-Nya kok, Kita bebas kok memilih jalan mana yang akan ditempuh, jadi Selamat jalan kawan moga selamat sampai tujuan daaaaah!

#5. Dikirim oleh Abah Rois  pada  17/10   08:11 PM

andaikan semua manusia di Indonesia itu berpikir seperti mbak dong, saya yakin orang “Islam” dalam tanda petik tidak langka seperti sekarang, maju terus mbak nong, kami dibelakang anda

#6. Dikirim oleh angga  pada  17/10   10:11 PM

Secara keseluruhan, nampak sekali tulisan Nong hanya berprinsip ‘waton sulaya’ alias yang penting berbeda. Karena garis ideologinya adalah liberal, maka prinsipnya adalah anti jilbab, walaupun ia tak berani terang-terangan anti jilbab. Anti jilbabnya Nong, masih malu-malu tikus eh..kucing…

Namun begitu, soal perumpamaan Ustadz Jefry Buchori, bahwa perempuan bisa diibaratkan kue donat, saya sepakat dengan Nong. Perumpamaan itu alih-alih memuji perempuan malahan terkesan melecehkan. Mengumpamakan perempuan dengan donat, sangat jauh dari mendekati. Jadi, Ustadz ingin mengatakan perempuan disamakan dengan makanan, yang harus dinikmati? Maka supaya tidak membawa penyakit harus terbungkus, dan bersih? Dan supaya mengundang selera ia harus enak dan lezat? Ustadz memposisikan wanita sebagai obyek. Inilah logika yang didasarkan oleh logika materialistik.

saya melihat Ustadz kita ini memang seringkali terlalu over akting dalam mengulas sesuatu hal. Terkadang pula tampilannya di layar tv terkesan terlalu percaya diri… alih-alih menarik, malah menyebalkan

#7. Dikirim oleh apiko joko mulyono  pada  17/10   11:11 PM

Wanita adalah salah satu bukti kebesaran Allah SWT, diantara berjuta-juta bukti yang lainnya. Bagaimana tidak, makhluk indah yang sering juga disebut dengan istilah perempuan atau betina (yang ini khusus untuk binatang) selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik, selalu dianggap sebagai sumber inspirasi seniman baik bagi seorang pelukis, penari sampai seorang sastrawan dan yang lebih unik lagi wanita selalu menyuburkan rasa iri yang memang sudah menjadi sifat manusia yang sangat manusiawi.

Pesona wanita sejak dulu hingga sekarang sebetulnya tidak pernah berkurang atau bertambah, hanya tentu saja pada jaman sekarang peranan wanita yang lebih bervariasi dalam pola kehidupan masyarakat, membuat wanita semakin menonjol untuk dibicarakan dan dibahas (terutama oleh kaum lelaki). Membicarakan wanita tidak bisa terlepas dari bentuk tubuh, seksualitas, serta intelektualitasnya. Nampaknya akan terlihat aneh apabila menggambarkan seorang wanita tanpa tambahan komentar khusus mengenai bentuk tubuh ataupun paras wajahnya. Walaupun begitu dari abad ke abad, dari jaman kecantikan khas Nefertiti (permaisuri raja Mesir “Fir’aun") hingga jaman yang sering dianggap sebagai abad “Internet” ini, wanita selalu dianggap sebagai makhluk yang menyimpan berjuta misteri, terkadang terlihat menarik untuk diraih, namun sulit untuk ditaklukkan.

Bahkan yang lebih menunjukkan kekuasaan kaum wanita adalah dunia mode, wajar-wajar saja seorang wanita yang bersikap tomboy, malahan untuk orang-orang tertentu sifat ini dianggap menggemaskan dan menarik untuk disimak. Sebaliknya coba saja bila seorang laki-laki yang bersikap kewanita- wanitaan bukan sikap simpatik yang akan dia dapatkan melainkan cemoohan dan pandangan negatiflah yang menghampirinya. Mode-mode pakaian dari dulu hingga sekarang selalu dikuasai oleh pemenuhan selera berpakaian kaum wanita, bahkan kemudian timbul istilah unisex untuk beberapa model baju tertentu yang inspirasi dasarnya dari busana laki-laki yang kemudian divariasi sehingga menjadi busana wanita.

Dalam tulisan ini yang akan diuraikan adalah tipe-tipe wanita yang dianggap mempunyai kharisma dan ciri khas tertentu, sehingga sering dianggap sebagai simbol kecantikan yang berasal dari sekitar abad X hingga abad XIV Masehi. Namun tokh tetap relevan hingga saat ini.

Museum Mpu Tantular sesungguhnya perlu berbangga hati karena mempunyai 4 (empat) model atau tipe kecantikan wanita yang masing-masing mempunyai kekhasan sendiri-sendiri.

Yang pertama adalah kecantikan yang klasik, anggun, intelektual. Wanita tipe ini biasanya tidak mempunyai warna kecantikan yang amat menonjol, namun biasanya dari pancaran matanya serta gerak dan lekuk tubuhnya yang luwes dan penuh kelembutan akan memberikan ketenangan bagi yang berdekatan dengannya. Sehingga seolah-olah mereka digambarkan rapuh dan ringkih, padahal sebetulnya tidak begitu.

Contoh tipe ini adalah Prajnaparamita. Patung koleksi Museum Mpu Tantular sebenarnya merupakan replika, sedangkan aslinya menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta. Prajnaparamita adalah wujud antropomorpik dari pustaka (kitab keagamaan Buddha). Selain itu Prajnaparamita juga dianggap sebagai pancaran dari Dhyani Buddha Aksobhya bahkan kadang-kadang dianggap sebagai pancaran dari semua Dhyani Buddha. Pada masa kemudian Prajnaparamita dianggap sebagai sakti dari Vajradhara (Adibuddha). Namun maksud dari pembuatan patung ini adalah untuk menggambarkan Ken Dedes isteri Ken Arok raja Singosari yang bergelar Rajasa Amurwabhumi dan memerintah dari tahun 1227 M hingga tahun 1227 M. Dalam kitab-kitab sastra Jawa kuno, memang disebutkan kecantikan dari Ken Dedes tersebut. Pada awalnya Ken Dedes adalah seorang isteri adipati Tumapel bernama Tunggul Ametung, karena daya pikatnya yang begitu besar membuat Ken Arok mabuk kepayang dan bertekad bulat untuk menjadikannya permaisuri. Akhirnya keinginan Ken Arok tercapai, setelah berhasil membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok pun berhasil menjadikan Ken Dedes wanita yang paling berbahagia di dunia, menjadi permaisuri seorang raja yang gagah perkasa dan tampan, kaya raya (ukuran pada masa itu) mempunyai istana yang megah dan mestinya dilengkapi dengan peralatan yang serba canggih, serta memiliki perhiasan yang aduhai banyaknya, sehingga sekujur badannya dipenuhi dengan untaian mutiara, intan, berlian dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.

Begitulah yang terlihat pada penggambaran Ken Dedes sebagai Prajnaparamita, selain mengena- kan pakaian yang terbuat dari kain yang halus, juga mengenakan cincin kaki gelang kaki (nupura), ikat pinggul, ikat pinggang (kali bandha), kalung (hara) kelat bahu (keyura), gelang (kankana), serta anting- anting yang terbuat dari untaian mutiara (kundala). Dalam agama budha, Prajnaparamita selain dikenal sebagai sakti Buddha tertinggi yaitu Adibuddha, juga dianggap sebagai simbol ilmu pengetahuan, karena itu dalam ikonografinya dia selalu digambarkan membawa utpala yang diatasnya terdapat pustaka, karena sebagai dewi ilmu pengetahuan, dia juga dianggap mampu mengusir kegelapan (dari ilmu pengetahuan, kebodohan) menjadi keterangbenderangan, juga dipuja sebagai dewi pembawa kedamaian, ketenangan. Karena peranannya itulah maka Prajnaparamita banyak dipuja dan menjadi sangat populer bagi pemeluk agama Buddha.

Tipe kecantikan yang kedua adalah kecantikan yang bersifat melindungi, memberikan ketenangan, rasa aman dan kasih seperti seorang ibu kepada anaknya. Tipe ini digambarkan sebagai seorang wanita yang lembut, dan biasanya juga tidak cantik sekali, namun wajahnya nampak sabar (santha) dengan pandangan mata teduh dan bentuk tubuh yang agak tambun, mempunyai buah dada yang besar, pinggul dan pinggang lebar namun menunjukkan adanya kekuatan. Di Museum Mpu Tantular tipe ini diwakili dengan patung Parwati. Parwati adalah sakti dewa Siwa. Dikenal sebagai simbol wanita yang benar-benar mempunyai seluruh syarat terbaik sebagai seorang wanita, ibu dan istri. Selain itu Parwati juga dianggap sebagai dewi lambang kesuburan, bersama-sama dengan Siwa, mereka berdua sering digambarkan sebagai yoni (simbol wanita) dan lingga (simbol laki- laki) yang nantinya akan melahirkan kekuatan, dan kelangsungan hidup manusia.

Kecantikan tipe yang ketiga adalah tipe yang sekarang biasa disebut agresif (dalam pengertian yang positif) mungkin sebagai gambaran watak dan sikap remaja-remaja kita saat ini, mereka tidak hanya mau menerima namun juga mampu untuk mengambil sikap dan tindakan yang tegas. Tipe ini memang sangat menarik untuk disimak, mereka selain digambarkan mempunyai bentuk badan dengan lekuk- lekuk yang sempurna (bak gitar Spanyol) luwes namun berotot juga seringkali digambarkan bersikap dinamis tanpa menunjukkan sikap kejam dan semena-mena, berwajah cantik, menunjukkan kecerdasan dari bentuk mata serta pandangannya dan menunjukkan kematangan jiwanya. Tipe seperti ini diwakili dengan patung Durga Mahisasuramardhini, walaupun dalam penggambarannya Durga disebutkan dalam adegan kemenangan setelah berhasil mengalahkan asura yang berubah bentuk seperti kerbau yang sangat besar. Namun yang menarik dalam adegan ini tidak digambarkan Durga sebagai wanita yang kejam dan berbadan kekar kelaki-lakian, sebaliknya Durga tetap digambarkan feminim, cantik dan menarik. Hal ini jelas tertuang dalam mitologi, bahwa untuk mengalahkan asura berupa kerbau jantan yang sangat besar tersebut memang dewa Siwa telah menciptakan seorang dewi yang sangat cantik dan penuh pesona, setelah wujud dewi tadi terbentuk barulah para dewa yang lain melengkapi dengan memberikan berbagai jenis senjata yang nantinya dapat digunakan oleh Durga dalam melawan Asura. Bahkan ada beberapa kitab yang menunjukkan bahwa badan Durga juga dibuat bersama-sama oleh para dewa dengan cara menyatukan kekuatan dalam masing-masing dewa, sehingga menghasilkan makhluk yang sangat cantik namun mempunyai kesaktian yang sangat tinggi pula. Mungkin maksud yang lebih dalam dari cerita ini bisa lebih kita sederhanakan, bahwa bagaimanapunjuga kekejaman (seseorang) akan bisa terkalahkan dengan sikap yang sebaliknya yaitu kelemahlembutan namun tetap memendam kekuatan.

Mungkin gambaran cerita Durga ini bisa kita terapkan pada kehidupan kaum wanita saat ini, yaitu untuk melawan kediktatoran kaum laki-laki kita tidak harus melawan dengan kekerasan namun justru dengan menonjolkan kefemininan kita, kita akan bisa mengalahkannya.

Tipe yang terakhir atau keempat boleh dikatakan adalah tipe kecantikan yang serba kaku, keras kepala, menunjukkan ke-aku-an yang menonjol, bahkan dalam gerakannya terlihat keinginan untuk diperhatikan. Tipe ini juga nampak garang dan terkesan tidak bisa menyembunyikan apa yang tengah dialami, dan justru inilah daya tariknya. Tipe ini diwakili oleh patung Durga Mahesasuramardhini yang berasal dari candi Rimbi.

Sebagaimana disebutkan di atas dalam ikonografinya Durga paling sering digambarkan dalam adegan mengalahkan Asura, namun di Jawa (atau Indonesia umumnya) sangat jarang ditemukan wajah Durga yang menunjukkan dirinya sebagai seorang raksasi, sebaliknya Durga selalu digambarkan dengan penuh kelembutan seorang wanita. Yang nampak lain adalah patung Durga dari candi Rimbi ini. Patung Durga dari candi Rimbi ini digambarkan berdiri dengan kedua kaki terbentang (pada umumnya Durga digambarkan dalam sikap tribhangga), menyeringai sehingga memperlihatkan gigi taringnya yang tajam, mata melotot dan rambut terurai tak beraturan. Hal ini tentu saja disebabkan karena pengaruh dari aliran keagamaan yang melatar belakangi pembuatan patung tersebut, yaitu aliran Tantrayana. Tantrayana adalah salah satu aliran dalam agama Hindu yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan raja Kertanegara, yaitu akhir dari kerajaan Singosari, walaupun beberapa ahli berpendapat bahwa agama Hindu yang masuk di Indonesia sudah menunjukkan adanya pengaruh Tantris tersebut. Salah satu dari ciri aliran ini adalah menonjolnya peranan dewi atau sakti (pendamping dewa yang mempunyai ciri dan kekhasan serta kekuatan sama dengan dewa yang didampingi) dewa dalam alam pikir mereka, karena para penganut Tantris berpendapat bahwa persatuan antara laki-laki dan perempuan inilah yang akan menghasilkan kekuatan yang akan membawa ke nirvana. Selain itu ciri aliran ini juga terlihat dalam ikonografi beberapa dewa dan dewi, dalam penggambaran dewa dan dewinya seringkali dalam bentuk krodha, kemarahan, bahkan ada beberapa yang dilengkapi dengan atribut tengkorak, ada pula yang dalam ikonografinya terlihat dalam bentuk yang sangat berlebihan.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa para seniman masa kebudayaan Hindu-Buddha biasa disebut seniman keagamaan, karena mereka membuat patung dewa berdasarkan pada aturan-aturan tertentu yang sudah tertulis dalam kitab-kitab keagamaan mereka. Kitab-kitab tersebut pada awalnya hanya berupa sebentuk puji-pujian kepada dewa, kemudian dewa- dewa yang tertulis didalam kitab tersebut diwujudkan dalam bentuk patung yang disebut antropomorphik (mewujudkan dalam bentuk manusia). Pada beberapa peninggalan kuno di Jawa Tengah aturan-aturan yang ada didalam kitab keagamaan masih relatif ditaati, lain halnya dengan periode Jawa Timur. Banyak sekali para seniman yang telah menambah ataupun sedikit mengganti atribut dewa dengan tujuan untuk lebih mendukung fungsi dan peranan dewa tersebut, hal ini tentu saja bisa dihubungkan dengan menjamurnya kebiasaan para raja di Jawa Timur yang menganggap dirinya adalah titisan dewa tertentu sebagai sarana untuk melegitimasi diri.

Seniman bagaimanapun juga tetap seniman, yang mengagungkan karya seni. Dalam berkarya mereka tidak akan bisa berhasil maksimal apabila diharuskan memenuhi berbagai macam syarat, bagaimanapun kreatifitas mereka sebagai jati diri tetap akan muncul dalam hasil karya mereka. Begitu pula dalam melukiskan atau membuat patung dewi, secara tidak sadar mereka akan membayangkan watak dan peranan dewi tersebut. Dengan merangkai bayangan itu, maka mereka dapat dengan lancar membentuk wujud dewi tersebut dalam pahatan mereka, tanpa melenceng jauh dari aturan yang berlaku. Sebagai contoh; Parwati dalam masyarakat Hindu dianggap sebagai prototipe wanita yang penuh sifat keibuan, lembut, dan bahkan kemudian dianggap sebagai dewi simbol kesuburan. Biasanya orang akan lebih mudah membayangkan sesuatu dengan mengambil perbandingan dari apa yang sering terlihat sehari-hari. Tidak mungkin bukan seorang simbol kesuburan digambarkan berpinggang ramping, dan berotot tentu saja untuk memperjelas peranan Parwati, dia digambarkan dengan pinggang yang lebar dan sedikit gemuk, sederhana namun tetap menonjolkan daya tariknya sebagai seorang wanita. Tentu saja lebih mudah bagi seorang seniman menggambarkan dewi kesuburan dengan membayangkan wajah ibunya, pada umumnya wanita yang sudah pernah melahirkan akan terlihat dari perubahan bentuk tubuhnya namun tokh perubahan itu tidak selalu mengurangi kecantikannya. Demikian juga halnya pada penggambaran Prajnaparamita, Durga Mahisasuramardhini pada umumnya dan khusus di candi Rimbi.

Abad demi abad telah berlalu, namun tokh keempat tipe kecantikan wanita tersebut masih saja tetap ada dan masing-masing tipe mempunyai daya tarik yang berlainan. Sekarang tinggal bagaimana dengan anda? Apakah ada salah satu dari keempat tipe itu yang merupakan idola atau mungkin anda merupakan wujud nyata dari salah satu tipe tersebut? Nah silahkan menilai diri anda sendiri.

Sumber : buku Nawasari Warta edisi III pebruari 1996 “WANITA-WANITA CANTIK” KOLEKSI MUSEUM MPU TANTULAR oleh :Endang Prasanti http://www.petra.ac.id/eastjava/culture/wanita.htm

#8. Dikirim oleh Catikala WN  pada  18/10   12:10 AM

Assalamualaikum…

Nong menulis “Dalam surat al-Ahzab ayat 59, anjuran jilbab juga sangat berkait-erat dengan ”alasan rasionalnya” (al-’illah)—bukan alasan buatan seperti walikota di atas. Alasan pertama, ”supaya mereka mudah dikenal” (dzâlika adnâ an yu’rafna) dan kedua, ”agar mereka tidak diganggu” (fa lâ yu’dzayna). Dahulu, jilbab juga berfungsi untuk menandai perempuan merdeka dan budak”. So, alasan memakai wajib pakai jilbab: 1. Mudah dikenal, mana yang mulimah dan mana yang bukan. Kalau muslimah tidak pakai jilbab, tidak bisa dibedakan dong antara dia dengan non muslim?

2. Agar tidak diganggu, aku setuju sekali, sebelum pake jilbab leherku terbuka, bagian tanganku terbuka, kakiku terbuka, sehingga banyak lelaki yang “manthengi” wilayah-wilayahku itu, aku merasa terganggu sekali, risih banget deh! But beda setelah pakai jilbab, hal-hal seperti itu tidak aku alami lagi, aku jadi ringan ketika melangkah ke mana saja. Apa saudari Nong tidak risih jika wilayah-wilyahnya dinikmati mata para lelaki (maaf bagi yang lelaki, aku tidak menuduh semua laki-laki seperti itu)? Apa mungkin saudara Nong merasa santai aja ketika “dipanthengin”? Atau malah sudari Nong ingin dipanthengi?

3. Memang tidak ada budak sekarang, kalau dulu budak tidak pakai jilbab (kebanyakan), sehingga wanita merdeka yang muslimah harus membedakan diri, yaitu dengan pakai jilbab. So apakah kalau tidak ada budak lantas kita yang menggatikan posisi mereka sebagai budak(tidak pakai jilbab), dan menanggalkan kehormatan yang kita miliki (yaitu jilbab)?

Wassalam

#9. Dikirim oleh Nadia Karima  pada  18/10   12:11 AM

Menurut saya, apa yang dijelaskan oleh Ujie (Ustadz Jefri) dan Walikota itu mungkin cuma perumpamaan agar bisa dicerna oleh orang awam, Karena kan gak semua orang bisa dicekoki dengan ayat semacam Al Azab:59. Perlu anda ketahui bahwa Islam memang agama mayoritas di negeri ini. Tapi orang-orang yang beragama Islam di Indonesia ini ternyata tidak semuanya ahli ibadah atau ahli tafsir. Sehingga terkadang perlu pendekataan yang lebih membumi untuk merefleksikan ayat2 Allah. Lagipula siapa bilang klo situasi dalam surat Al Ahzab itu sudah gak relevan lagi?. Al quran itu kan relevan untuk semua zaman lho. Klo menurut saya, arti dalam Surat Al Ahzab:59 yang berbunyi “supaya mereka mudah dikenal.....” bukan cuma dikontekskan sebagai tanda pembeda antara wanita yang budak dan yang bukan. Tapi juga merupakan pembeda antara wanita terhormat dan yang tidak terhormat. Bukankah hanya wanita terhormat saja yang mampu menjaga kehormatan dirinya berikut auratnya agar tidak dengan mudah disantap oleh mata laki2 dan akhirnya dapat menimbulkan pelecehan seksual. Mungkin saya perlu mengutip kaLimat lucu namun benar adanya dari Bang Napi,"Kejahatan bukan terjadi hanya karena niat dari pelakunya, tapi juga karena ada KESEMPATAN. WASPADALAH 2X”. hE..HE..HE....

#10. Dikirim oleh Septy  pada  18/10   01:10 AM

salut untuk penulis ini. ustadz2 di tv itu memang perlu banyak belajar lagi. jangan asal ngomong

#11. Dikirim oleh ahmad biki su  pada  18/10   02:10 AM

Saya salut dengan tulisan Nong DM, sangat tajam dan ilmiah. Tetapi masih kurang akurat. baik UJ (Ustad Jefri) maupun Nong DM sama-sama baik pada dasarnya. UJ memang kurang “dengan hati” memberi perumpamaan tentang jilbabnya wanita, demikian juga Nong DM yang kurang akurat dalam menggunakan gambaran akalnya. Nong DM harus membenturkan antara Jilbab dengan akal, seolah akal kurang pas dengan jilbab. Apakah wanita yang berjilbab itu kurang berakal? Apakah wanita yang tidak berjilbab itu sudah cukup berakal? Menurut saya jilbab itu sangat berakal, tetapi memang tidak perlu dipaksakan, seperti saran dari UJ. Jilbab adalah “mode” pakaian yang cukup layak, saya kira. Pada dasarnya wanita suka menutup aurat, khususnya bagian yang “terpenting”. Dahulu di Amerika pun wanita sangat menutup rapat cara berpakaian, coba perhatian film-film cowboy hollywood, di film itu pasti tidak ada perempuan yang pamer dada dan paha. Sekarang pun seyogyanya wanita menutup aurat, tidak apa-apakan… Ttoh wanita yang berjilbab itu dapat disebut sebagai wanita yang berakal. Terimakasih untuk Nong DM

#12. Dikirim oleh isa cordova  pada  18/10   02:11 AM

Surat Ah Ahzab ayat 59 bila kita lihat terjemahannya, adalah seperti ini :  “ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Saya rasa artinya sudah jelas, tidak perlu interpretasi2 segala macam yang niat sebenarnya adalah ingin mengingkari perintah pada ayat tersebut. Mengingkari ayat (hukum) ALLAH sama dengan tidak mengakui ALLAH, Naudzubillah min dzalik !!. Saran saya kepada sdri Nong Darol Mahmada, segeralah bertobat selama nyawa masih di jasad. Selagi belum terlambat.

#13. Dikirim oleh Seno Narisworo  pada  18/10   03:11 AM

memang mba Nong sekarang sedang trend ustadz-ustadz kemaren sore ataupun pejabat yang lantang mengobral syariat islam persis barang dagangan di pasar, agar barang dagangan mereka laku maka segala cara dilakukan dengan rayuan manis, sedikit ancaman, perumpamaan2 bahkan dengan logika jungkir balik ala Ustdz UJ tadi. padahal kepatuhan orang akan syariat murni dari dasar hati paling dalam, keikhlasan pribadi dan ketundukan akan Alloh. jadi tidak ada urusan dengan segala macam pemaksaan yang dilegalkan seperti perda2, undang-undang, surat edaran atau polisi syariat sekalipun. terlebih untuk urusan busana, perempuan yang memakai akal sehat tentu tau cara berbusana yang aman dan pantas secara sosial jadi tak usah diatur-atur apalagi menganalogikan perempuan dengan kue donat, betul-betul tidak cerdas…

#14. Dikirim oleh Riyono  pada  18/10   10:11 AM

itukan cuma perumpamaan saja.. kalo yang saya lihat intinya anda baru setengah2 dalam masuk islam.. dan anda tidak percaya diri tentang agama anda sendiri...thx

#15. Dikirim oleh firman  pada  18/10   08:11 PM

tahu kah anda orang yang mendustai ayat-ayat Al-Qur’an? selamanya akan kekal di neraka… bukankah rasul menyuruh para wanita untuk memanjangkan pakaian nya.. semoga ada hidayah dibalik itu semua..

#16. Dikirim oleh harmadi  pada  18/10   09:10 PM

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahim Baguslah anda memberikan tanggapan terhadap ceramahnya UJ dan juga terhadap walikota tadi. Tapi setidaknya begini lah… Anda kan tau kalau ada-bahkan banyak-orang yang kurang peka terhadap hal-hal yang berbau serius. Contohnya ya itu tadi, perintah Allah untuk mengenakan jilbab. Jadi kami pikir perlu sedikit penjabaran yang mudah dicerna dengan memberikan contoh semacam itu tadi. Atau dengan alasan yang mudah difahami dulu, yaa tadrijiyyan lah. Wallahu a’lam. O iya mbak dan kawan-kawan di jil, boleh gak kami tau konsep anda tentang TAAT. Soalnya selama ini yang kami simpulkan dari pemikiran anda semua,semua yang ada ini serba relatif. Jadi masih bisa dijabarkan lagi. Sementara kami percaya kalau yang namanya doktrin agama Islam itu murni dari Allah yang memerluka keTAATan untuk mengikutinya, terkhusus dalam masalah ibadah mahdhoh. Jawabannya tolong dikirim ke email kami yaa. Jazakillahu khairan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

#17. Dikirim oleh ardhee  pada  18/10   09:11 PM

Anehnya, hanya segelintir perempuan Indonesia yang protes disamakan dengan donat. Seakan-akan mereka menikmati uraian Sang Ustadz, dan menyetujui: ya...ya… memang kami pantas dilindungi, dijaga. Dan, runtuhlah harga dirinya. “Kami lemah”, “kami pantas dilindungi”. Di mana kekuatan diri Cut Nyak Dien, Kartini, Malahayati? Seakan2 para perempuan itu bukan muslimah yang bisa menjadi inspirasi. Seakan2 perempuan muslim sekarang lupa kalau ketiganya tidak berjilbab (dengan definisi sekarang) dan toh bisa menjaga kehormatannya.  Tampaknya orang Indonesia (bukan cuma perempuannya) sudah makin pintar memisahkan urusan sekular dan urusan rohani, sampai-sampai tidak bisa merasakan hancurnya integritas diri (alias munafik). Semoga Allah melindungi kita semua dari ‘kemunkaran yang manis’ (’sweet evil’) semacam ini.

#18. Dikirim oleh p sumanto  pada  18/10   11:11 PM

sudah jelas dalam Al-Quran bahwa disebutkan perempuan diwajibkan untuk menutup auratnya. dengan memakai jilbab wanita akan merasa dihargai dibandingkan dengan perempuan yang tidak memakai jilbab bahkan pakaian yang serba minim seperti pada zaman sekarang ini. bertaubatlah anda pada Allah SWT di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

#19. Dikirim oleh agie gismar  pada  19/10   12:11 AM

jaman sekarang..sdh banyak orang pinter.. dan memang manusia diberikan pikiran dan otak yg baik… tp sayang dipake untuk membingungkan orang. apakah si Nong Darol itu lebih hebat dari para ulama2 zaman bahela..... tp serahkan semua pada Allah, engga akan ketuker kebenaran ama kemungkaran.

#20. Dikirim oleh Anwar  pada  19/10   11:11 PM
Halaman 1 dari 4 halaman 1 2 3 >  Last »

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq