Ahmad Abdul Haq


Jangan Sedih Dooonk!

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Selasa, 13 Oktober 2009 09:19 WIBJangan Sedih Dooonk!

Jangan Sedih Dooonk! Bagi banyak orang kesedihan adalah lambang kelemahan. Orang yang mudah sedih dianggap kurang kuat menghadapi hidup. Air mata bukan tanda orang tabah. Air mata bahkan perbuatan mengasihani diri sendiri.

Padahal sekarang kita tahu bahwa ketidakmampuan seseorang untuk melepas emosi, duka atau kesedihan sama dengan memelihara sumber penyakit. Air mata ternyata mujarab untuk meredakan emosi dan stres.

C.M. Riley, seorang dokter dan peneliti anak menemukan bahwa tangisan yang tertahan pada anak-anak dapat membuat tekanan darah meningkat tajam, menimbulkan bercak-bercak merah pada tubuh, sampai pada melemahnya saraf pengontrol saliva, sehingga anak dapat mengeluarkan air liur (drooling) tanpa sadar.

“A cheerful heart is a medicine; a broken spirit dries out of the bones.”

Dalam duka, seorang anak bisa menjadi pemarah, sulit konsentrasi, sulit tidur atau menarik diri dari pergaulan/aktivitas keluarga dan mungkin memiliki rasa bersalah.

Mengatasi Kesedihan Pada Anak
Ada empat hal utama yang perlu dimengerti untuk mengatasi kesedihan pada anak:

1. “Let it out”. Biarkan mereka menangis. Itu bukan tanda sebuah kelemahan. Dalam buku The Vital Balance, Dr. Karl Menninger juga mengatakan bahwa tangisan adalah sebuah bentuk kelegaan alami tubuh yang paling manusiawi dan universal. Karena kesedihan adalah emosi sosial; sehingga ekspresi sedih/menangis menjadi tanda kita butuh dukungan dan hiburan dari orang lain.

Dr. Rita Justice (Universitas Houston, Amerika Serikat), menulis tentang ‘kegunaan’ menangis secara ilmiah. Air mata ternyata mengandung hormon stres (ACTH) dan leucine-enkphalin (jenis endorphin pengurang rasa sakit). Karena itu, menangis dapat menyeimbangkan hormon stres dalam tubuh manusia. Riset lebih jauh menemukan kaitan antara air mata dan penyakit yang berkaitan dengan stres (sakit maag dan colitis - infeksi usus besar) bahkan umur pendek. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang yang memiliki sikap negatif terhadap menangis.

Intinya, menangis itu sehat kok!

2. “Talk it out”. Ajak anak ke tatanan rasional dengan bertanya secara strategis: Apa yang membuat kamu sedih? Apa ekspektasinya dibanding kenyataan yang dihadapi? Berikan pandangan lain supaya anak dapat belajar menerima kondisi yang ada. Tergantung dari pribadi anak, waktu untuk bangkit dari kesedihan tidak dapat ditetapkan. Perjalanan spiritual (melalui doa, aktif dalam pelayanan sosial, atau meditasi) dapat mempercepat proses ini.

3. “Don’t Do That”. Jangan menutup diri dan jangan mengambil keputusan besar di kala emosi tidak stabil. Berbagai literatur psikologi telah mengkonfirmasi pernyataan ini karena keputusan yang diambil sering kali disesali kemudian.

4.”Take Care”. Dalam sebuah artikel di Helpguide Inggris (2007), ada tiga hal yang perlu dijaga selama masa berduka atau ketika bersedih:
1. Jaga kesehatan mental selama dalam masa berkabung dengan:

  • Talk.
    Ekspresikan perasaan dengan berbicara pada orang yang dipercaya
  • Write.
    Tulislah jurnal atau blog pribadi atau surat dengan jujur dan terbuka. Menulis dapat membawa seseorang ke dalam tingkat rasio yang lebih tinggi yaitu kesadaran akan kenyataan.
  • Create.
    Ciptakan sesuatu untuk mengekspresikan diri. Proses kreatif menolong menjernihkan pikiran.
  • Buy something.

Untuk diri sendiri atau orang dikasihi.

  • Jaga kesehatan fisik
  • Eat well.

Hindari makanan cepat saji karena malas menyiapkan makanan sehat-lemak berlebih memperburuk kondisi perasaan.

  • Avoid chemicals.

Hindari makanan yang mengandung zat adiktif seperti kafein, nikotin, alkohol apalagi narkoba. Selain bisa terjerumus, zat ini akan memberi ‘penyelesaian’ fana.

  • Get enough sleep.

Beristirahat jelas sangat membantu dalam penyembuhan emosi.

  • Spoil yourself.

Manjakan diri dengan pergi ke spa atau salon.

  • Be active physically.

Keluar dan lakukan kegiatan fisik, Ini membuat tubuh menjadi lebih segar karena pelepasan endorphin dapat membantu memperbaiki mood.

  • Jaga mood
  • Have fun.

Pergi nonton, mendengar musik atau baca buku. Atau sekadar jalan-jalan di mal atau main apa yang disuka anak (gameboy, main komputer atau menjelajah internet, dll)

  • Forgive.

Belajar untuk memaafkan dan melupakan peristiwa yang lalu. Mungkin anda juga perlu belajar mengampuni diri sendiri selain mengampuni orang lain.

  • Get the support you need.

Cari dukungan dari keluarga atau komunitas sosial anak anda, atau bantuan profesional (konselor atau pembimbing rohani misalnya).

  • Volunteer: do something selfless.

Lakukan kebaikan dengan berbagi dengan orang miskin, melayani ke panti jompo atau anak telantar. Melihat kondisi orang yang lebih susah dari diri kita dapat menolong kita untuk menyadari dan mensyukuri anugerah Tuhan.

Saat saya down, saya sering membaca kembali keempat tips di atas. Biasanya, dalam segala kesedihan, kegalauan hati dan emosi yang sedang tidak stabil, saya dapat cepat terobati.

What works for me adalah dengan berdoa dan menumpahkan emosi jiwa ke dalam tulisan. Setelah itu, saya perlu memanjakan diri. Mulai dari pergi nonton, spa atau shopping, tiba-tiba voila…semua beres, sayapun bisa berpikir jernih dan menemukan jalan keluar. Aneh sekali.

Memang ketika stress, otak seakan buntu. Namun air mata dan relaksasi membuat otak sekan terbuka. Sebab itu saya percaya, kemampuan untuk mengendalikan emosi sangat terkait kuat dengan kemampuan mengatasi masalah secara sehat. Dan bukan lewat narkoba! Yang jelas, mencoba mengatasi masalah dengan narkoba akan mendatangkan banyak masalah baru. (VC/01/10-09)


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy