Ahmad Abdul Haq


Effective Teaching Communication

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 30 Juni 2014 02:17 WIBEffective Teaching Communication

Effective Teaching Communication

Dalam masa kampanye seperti sekarang ini, sebenarnya banyak pelajaran berarti yang bisa diambil oleh para guru dalam melatih keterampilan komunikasi dari para calon legislatif (caleg). Para caleg, dengan beragam ide dan bakatnya, mencoba merebut hati rakyat dengan melakukan kampanye secara terbuka dengan beragam pendekatan. Ada yang menggunakan cara-cara lama dengan melakukan orasi, tetapi tak jarang banyak yang menggunakan media dan alat peraga kampanye yang sederhana namun efektif, seperti sambil mengamen, mengatur tempat parkir dengan menjadi juru parkir, mengajak masyarakat untuk memancing, membersihkan bantaran sungai dan sebagainya.

Pendek kata, baik pendekatan maupun cara para caleg berkomunikasi dengan calon pemihlnya menunjukkan ragam bentuk komunikasi yang dalam bahasa pendidikan formal disebut sebagai gaya belajar kontekstual. Meskipun belum tentu berhasil, paling tidak usaha dan kreativitas para caleg patut diapresiasi, terutama dalam memberi pelajaran amat berharga kepada para guru. Artinya, dalam jangka panjang, cara komunikasi guru dengan siswa mereka sesungguhnya akan sangat tergantung dengan seberapa banyak energi kreatif yang mereka miliki, dan seberapa sering digunakan untuk meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar.

Salah satu ciri komunikasi efektif yang paling mudah dan murah tetapi jarang dilakukan oleh para guru kita adalah kemampuan mendengar. Kemampuan mendengar efektif sangat dibutuhkan, karena di tengah tantangan kehidupan yang serba cepat dan instan cenderung membuat siswa kita menjadi lebih mudah stress dan putus asa. Karena itu kemampuan untuk mendengarkan segala macam bentuk keluhan siswa sebenarnya sangat dibutuhkan, karena sejatinya mendengar merupakan kemampuan pertama kita yang diberikan Tuhan tetapi jarang digunakan secara efektif. Mungkin ada baiknya, baik guru maupun para caleg lebih mengenali audiens mereka dengan mendengarkan langsung setiap keluhan dan masalah yang mereka hadapi sehari-hari.

Mengapa kemampuan komunikasi yang efektif berguna dalam sebuah proses belajar-mengajar? Karena para guru harus memiliki kesadaran bahwa mereka mengajar anak-anak yang dalam status belajar, dan seorang guru harus terus memberikan reaksi secara sensitif terhadap apa yang berkembang dalam sebuah proses belajar mengajar. Jika kemampuan berkomunikasi dalam mengajar hanya berlangsung secara monolog, dimana guru lebih banyak mendiktekan situasi berdasarkan seleranya, maka proses belajar-mengajar pasti akan membosankan siswa. Tetapi jika proses belajar-mengajar dilakukan secara dialogis, dimana baik guru maupun siswa saling menakar keinginan dan kemampuan mereka masing-masing, pasti akan banyak sekali gaya, strategi, teknik, dan metode mengajar yang kreatif karena bertumbuh dari proses keomunikasi dua arah yang dialogis.

Harus kita akui bahwa tak semua guru memiliki kesadaran dan sensitivitas yang baik dalam membangun kesadaran pentingnya proses komunikasi yang efektif antara siswa dan guru. Berdasarkan pengalaman saya mengajar (dan mengikuti pelajaran di kelas), variasi strategi dan metode komunikasi pengajaran memiliki banyak keuntungan, antara lain (1) memungkinkan penerapan belajar aktif di kelas; (2) memfasilitasi munculnya aneka peranserta anak didik dalam proses belajar; (3) meningkatkan minat anak didik terhadap materi yang dibahas; serta (4) membantu mempertahankan fokus peserta didik terhadap suatu topik. Dengan beragam strategi dan metode komunikasi yang dialogis seperti bermain peran (role playing), melakukan riset pasar, curah pendapat dalam kelompok, penugasan berdasarkan minat, dan sebagainya akan membuat proses KBM berlangsung lebih menyenangkan. Metode dan strategi pengajaran yang membosankan, dengan komunikasi satu arah yang bertumpu pada ceramah guru, dan melelahkan, selain sudah ketinggalan zaman, amat merugikan murid. Mereka kehilangan kesempatan belajar dengan penuh gairah dan sukacita. Persis seperti dibilang John Holt, salah seorang pendidik dan penulis Amerika, bahwa “The biggest enemy to learning is the talking teacher.”

Dalam proses belajar-mengajar, menimbulkan tindakan nyata adalah indikator efektivitas komunikasi yang paling penting. Karena untuk menimbulkan tindakan, para guru harus berhasil terlebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikaksi, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku anak-anak kita. Agar komunikasi kita menjadi efektif, maka diperlukan perluasan makna komunikasi termasuk merancang strategi dan metode pengajaran yang pas serta meningkatkan kemampuan mendengar semua persoalan siswa.

Agar proses belajar-mengajar berlangsung lebih menarik, fungsi fasilitator seorang guru seharusnya lebih ditonjolkan tinimbang fungsi guru itu sendiri. Mengapa fungsi fasilitator perlu ditingkatkan? Karena fasilitator biasanya harus memiliki bekal berupa dua peran pokok sekaligus, yaitu peran fasilitatif dan peran diagnostik. Seorang guru yang menempatkan dirinya sebagai seorang fasilitator akan memiliki kemudahan dalam membangun kemunikasi secara lebih efektif dengan anak didik mereka. Karena peran seorang fasilitator adalah memudahkan proses komunikasi dalam belajar dan mengajar, dan pada saat yang sama, mendiagnosis keadaan, situasi, dan atmosfer kelas dan sekolah dengan cermat sehingga dapat mengambil inisiatif untuk melancarkan pelaksanaan KBM.

Sebagai seorang fasilitator, guru dapat mengelola, mengatur, dan merangsang interaksi dan komunikasi yang melibatkan peserta didik, sehingga suasana sharing informasi dan pengetahuan terbina, dan motivasi bersama dapat dibangkitkan dan dipertahankan selama proses belajar-mengajar berlangsung. Fungsi fasilitator juga dapat meningkatkan keterbukaan dan akurasi komunikasi dalam proses KBM, baik mengenai isu dan topik yang sedang dibahas maupun mengenai persepsi, perasaan, dan sikap-sikap para peserta peserta didik. Di bidang ini, peran fasilitator bersifat nonevaluative, noncoercive, dan nondirective.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy