Ahmad Abdul Haq


Belajar Iklas Dari Kelapa

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Rabu, 16 Juli 2014 03:02 WIBBelajar Iklas Dari Kelapa

Belajar Iklas Dari Kelapa

Musibah, duka cita dan kesedihan adalah tiga kata yang akrab dan tak akan pernah hilang dari kehidupan manusia. Selama manusia masih bernafas, lingkaran susah dan senang, sedih dan gembira, serta suka dan duka akan silih berganti bergelayut pada hati dan pikiran setiap manusia. Dalam siklus kehidupan seperti inilah seseorang akan ditempa oleh beragam cobaan sehingga perasaan sedih, duka cita bahkan berakhir musibah akan senantiasa ada. Begitulah misalnya kita menyaksikan beragam bencana dari beragam urusan, dari mulai banjir, meletusnya gunung sinabung dan kelud menunjukkan betapa rentannya manusia dan semua isi bumi ini.

Mungkin disinilah misteri sekaligus kebesaran Tuhan ditunjukkan, meskipun musibah datang bertubi dan silih berganti, manusia terus harus mencoba menerima semua cobaan itu secara pas dan bijak. Tidak sampai disitu, Tuhan bahkan memberikan mekanisme internal secara instinktif kepada setiap manusia untuk menemukan jawaban setiap persoalan hidup. Salah satu mekanisme internal yang dititpkan Tuhan dalam diri manusia adalah kesediaan untuk ikhlas menerima setiap ketentuan Tuhan sambil tak lupa terus berusaha mengubah musibah menjadi hikmah. Hanya saja, mungkin, tak semua manusia pandai memanfaatkan mekanisme internal yang sudah ada tersebut secara maksimal.

Memaknai kata ikhlas, dengan demikian, memang merupakan tugas yang tidak ringan bagi setiap manusia, apalagi menyangkut tafsir dan maksud serta cara menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, sikap ikhlas sudah ditunjukkan secara personal oleh ribuan atau bahkan jutaan para guru yang selalu setia membangun nurani para siswa. Tetapi secara institusional, tak sedikit lembaga pendidikan yang gagal untuk tumbuh dan berkembang karena ketiadaan keikhlasan dari para pengelolanya. Jika mengaca pada apa yang dilakukan oleh para ulama yang memiliki pesantren dan lembaga pendidikan ternama, jelas sekali kunci utama dalam membangun sebuah kesadaran baru bagi dunia pendidikan adalah rasa saling percaya dan ikhlas. Banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang masih bisa bertahan hingga saat ini adalah karena unsur keikhlasan para pendirinya. Imam Zarkasi dengan tradisi Gontor-nya adalah contoh sebuah determinasi keikhlasan dalam mengelola pendidikan.

Memaknai kata ikhlas

Secara personal mungkin saya termasuk di antara jutaam manusia yang tak henti dirundung duka. Musibah datang silih berganti, baik menyangkut kehidupan pribadi, keluarga, maupun lembaga tempat saya bekerja. Meskipun besar dan beratnya musibah bagi setiap orang sangatlah relatif, namun ujian dan musibah yang pernah saya rasakan tergolong berat untuk kelanjutan kehidupan saya. Bahkan beberapa orang teman secara berkelakar sering bilang, bahwa tidak mati berdiri saja saya sudah syukur mengingat seringnya musibah mampir pada kehidupan saya. Saya tetap yakin dan percaya kepada maksud Tuhan, karena itu bersikap baik sangka (husnu dhan) terhadap Tuhan adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang bisa memaknai kata ikhlas. Selain itu, Tuhan pasti tak akan memberikan beban kepada seseorang jika tak mampu menerima dan menjalaninya.

Selain itu, bagi saya kata ikhlas harus menjadi manifestasi yang paling relevan bagi kebertauhidan kita terhadap Tuhan. Mengakui Tuhan Yang Maha Esa jelas harus ada relevansinya secara nyata, yaitu mencintai kehidupan dan semua makhluk ciptaan Tuhan tanpa secuilpun pembeda yang diskriminatif. Dalam pandangan saya, kebertauhidan baru bermakna jika kita selalu menganggap kehadiran setiap makhluk sebagai bagian dari cara kita berhubungan dengan Tuhan. Dalam bahasa agama yang saya yakini, hablu minallah sama sekali tak bermakna jika tak ada hablu minannaas, demikian pula sebaliknya.

Dalam tradisi pesantren yang pernah saya jalani, ustadz saya selalu memberikan metafor kata ikhlas seperti, maaf, seseorang yang habis buang angin. Seberat apapun beban, akhirnya angin tetap keluar dan kita, terima atau tidak terima, harus rela dan mengikhlaskannya untuk keluar. Tentu saja metafor kata ikhlas seperti ini sarat beban dan contohnya pun sangat naïf. Dalam tradisi kultural kita di Indonesia, sebenarnya ada banyak contoh untuk belajar menjelaskan kata ikhlas dan relevansinya, bahkan sangat ekstrem pemaknaannya. Salah satunya ialah bagaimana kita bisa belajar ikhlas dari kelapa. Kenapa kelapa?

Ingat kelapa, ingat nyanian rayuan pulau kelapa karangan Ismail Marzuki yang penuh dengan nuansa kedamaian karena di seluruh peloksok negeri kelapa bertumbuh bersama rakyat dan menjadi bagian dari urat nadi masyarakat pesisir di Indonesia. Tetapi mari kita lihat beberapa fakta tentang kelapa, terutama dari cara kita “memperlakukan” kelapa. Tidak seperti buah lain semisal anggur, pisang, jeruk dan apel misalnya, yang ketika baru dipetik saja diperlakukan dengan sangat hati-hati dan istimewa. Sedangkan kelapa? Dia dipetik dengan cara dipelintir, diparang, dibacok dan digebuk layaknya memukul maling. Kelapa berjatuhan dari pohonnya sebagaimana hukum alam soal gravitasi bumi dengan suara gedebag-gedebuk.

Setelah dipetik, sementara buah lain dicuci dan dibersihkan kemudian dipajang di etalase toko buah yang cantik, atau kalau di rumah disediakan tempat yang cantik dan kalau perlu di lemari pendingin. Sementara kelapa, kebanyakan ditaruh di dapur, bahkan sudut dapur yang orang pun enggan untuk meliriknya. Ketika akan dimakan, buah lainnya ditimang dan disanjung dengan pujian, sementara kelapa harus dikampak dan dipecahkan agar bisa diambil buahnya. Barulah kemudian yang muda dijadikan es kelapa, sedangkan yang tua masih harus diparut dan diperas agar keluar santannya. Sungguh sial kelapa, ketika santan telah dicampur dengan daging, ikan, dan sayuran lainnya, yang muncul adalah nama-anama rendang, gulai, lodeh, tongseng dan sebagainya, dan tak ada yang menyebutnya sayur santan.

Meskipun diperlakukan sedemikian rupa, apakah kelapa protes dan ingin nama baiknya dipulihkan? Tentu tidak sama sekali. Kelapa tetaplah kelapa yang penuh dengan perlambang keikhlasan, tanpa pamrih, dan tetap memberi manfaat bagi semua orang. Kita bisa memastikan, bahwa hanya pohon kelapa sajalah yang dari akar, batang, daun, batok dan buahnya tak ada yang terbuang. Seandainya manusia bisa belajar keikhlasan laksana kelapa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy