Ahmad Abdul Haq


Tantangan Pendidikan Agama Dan Keagamaan Di Indonesia

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Sabtu, 21 Februari 2015 06:31 WIBTantangan Pendidikan Agama Dan Keagamaan Di Indonesia

Tantangan Pendidikan Agama Dan Keagamaan Di Indonesia

Lickona, dalamEducating for Character: How our school can teach respect & responsibility (1992) sepertimeramaltentangsituasi Negara kita. Dalambuku yang dirilisnya 21 tahunlaluitu, Lickonamencobamengidentifikasi 10 tanda-tandakehancuransebuahbangsa.Kesepuluhtandaituadalah: (1) Meningkatnyakekerasan di kalanganremaja; (2) Membudayanyaketidakjujuran; (3) Sikapfanatikterhadapkelompok/peer group; (4) Rendahnya rasa hormatkepada orang tua& guru; (5) Semakinkaburnya moral baik&buruk; (6) Penggunaanbahasa yang memburuk; (7) Meningkatnyaperilakumerusakdiri, sepertipenggunaan
narkoba, alkohol, &seksbebas; (8) Rendahnya rasa tanggungjawabsebagaiindividu&sebagaiwarganegara; (9) Menurunnyaetoskerja&adanya rasa salingcuriga; serta (10) Kurangnyakepedulian di antarasesama.

Jikadiperhatikandenganseksama, nyariskesepuluhtanda-tandakehancurantersebutadapadasituasidankondisikehidupanmasyarakat Indonesia saatini.Takakanada yang menyangkaltingginyakekerasan di kalanganremajadanpelajarsaatini, sertamembudayanyapraktekketidakjujuran, bahkandalam proses pendidikansekalipun. Tingginyapraktekkorupsijugamembuktikangagalnya proses pendidikankitadalammengusungtemakejujurandalampraktekbelajar-mengajar. Padagiliranselanjutnya, akibatdarisuburnyabudayaketidakjujurandapatmenciptakanintolerensi yang mendukungtingginyafanatismegolongan.

Lebihburuklagisaatinikitajugamerasakanmelemahnyasikaphormatanak-anakkitaterhadap guru danorangtua, sehinggaanak-anakmudahkehilanganpanutan yang dapatmenyebabkanmerekamudahterjebakpadakehidupan yang serbahedonisdanmengagungkanaspekkebendaan.Akibatnyaadalahtumbuh-suburnyapraktekseksbebas, penyalahgunaannarkoba, sertapenggunaanbahasa yang cenderungngawurdanburuk.Contohaktualdaripraktekberbahasa yang burukbahkandipertontontansecara vulgar oleh media infotainment melaluisalahsatupesohornya, Vicky Prasetyo.

Jikaditelisiksecaraseksama, di manasebenarnyaperan agama danpelajaran agama yang sejauhinimenjadiacuan moral masyarakat Indonesia yang mayoritasmerupakanpemeluk agama?Dalam konteks pendidikan agama di Indonesia, bisa jadi tanda-tanda kehancuran sebuah bangsa versi Lickona akan membawa apatisme di lingkungan anak-anak sekolah. Perlu dipertanyakan ulang bagaimana nilai-nilai agama diajarkan di ruang kelas, serta bagaimana peran birokrasi dalam "melembagakan" agama sehingga hanya menjadi semacam "mata ajar" yang sangat dekat dengan formalitas tetapi jauh untuk dengan mudah dialami dan dipraktekkan oleh anak didik dalam kehidupan keseharian mereka.

Di belahan dunia lain penolakan orang terhadap formalitas dan otoritarianisme agama bahkan jauh lebih hebat dari yang dilakukan anak-anak kita di sekolah. Orang seperti A.N Wilson dalam Againts Religion: Why We should Try to Live without It? (1992) secara kasar mencerca habis-habisan peran agama dengan mengatakan "cinta Tuhan adalah akar segala kejahatan." Bahkan secara sinis dia menyebut bahwa agamalah yang harus bertanggung jawab atas seluruh kejadian buruk, bahkan hingga terjadinya segala bentuk kekerasan dan peperangan di dunia ini. Dengan direct-word yang menghunjam, Wilson bahkan berkata "Jika agama tidak bisa mendidik orang untuk mencapai tujuan-tujuan kedamaian, cinta kasih, lantas apa arti dan tujuan kehadiran agama bagi manusia?"

Menduanya wajah agama sangat boleh jadi salah satunya diakibatkan oleh adanya sisi eksklusif dari pendidikan agama itu sendiri. Eksklusivitas tersebut di antaranya ditandai dengan adanya pandangan dan perlakuan pemerintah terhadap kebijakan kurikulum dan kelembagaan yang kaku dan bersifat formal, di mana pendidikan agama hanya berorientasi dan menekankan aspek proses transfer ilmu agama saja, tetapi kurang kuat mengagendakan skema hidden-curriculum yang dapat menumbuhkan proses transformasi nilai-nilai keagamaan yang universal secara natural. Salah satu contoh kecil yang sering terjadi di tingkat sekolah adalah kurangnya semangat pernghargaan terhadap agama lain karena salah satunya disebabkan oleh kurang dan rendahnya mutu guru agama ketika menyampaikan materi pelajaran agama. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya ditemukan kasus ketika mengajarkan agama, para guru acapkali terjebak pada pendekatan dan strategi belah bambu; mengangkat dan mengagungkan agama yang dianutnya sambil merendahkan dan menjelekkan agama lainnya.

Momentum perubahankurikulum 2013 harusmenjadititiktolakmenegakkankembalimuru'ahdanmoralitasbangsakearah yang benar.Orientasikurikulum 2013 yang lebihbanyakmenekankanpentingnyapengambangandanpenumbuhankarakterdansikapanak-anakharusdijadikanpusatpijakanpendidikan agama untukmendukungsecarasinergisdan integrative tujuanini.Kerjasamakemendikbuddankemenaguntukmerumuskanbukupegangan guru dansiswauntukmataajar agama yang lebihoperasionaldalam proses belajar-mengajarpentinguntukdilakukan.

Tugas dua kementerian inilah yang akan menjadikan para guru agama sebagai partner yang kuat bagi guru mata ajar lain yang diajarkan di sekolah dan madrasah. Dengan mengusung pembelajaran tamatik dan integratif, guru agama diharapkan memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih secara kreatif materi yang dirasa menunjang munculnya sikap-sikap yang lebih toleran, anti kekerasan, anti narkoba dan anti pornografi. Kita harus terus menguji, seberapa besar misalnya pemahaman para guru agama terhadap wawasan inklusivistik dan tujuan universal pembelajaran agama

Sangat penting membekali para guru agama dengan wawasan inklusivistik untuk mendukung pengembangan sikap inklusif, baik dalam konteks menghargai perbedaan juga dalam menanggapi isu-isu sensitif di sekitar persoalan maraknya penyebaran narkoba, kejahatan seksual, dan kekerasan di sekolah. Dengan paradigma yang benar tentang wawasan inklusivistik ini diharapkan para guru dapat dengan mudah mendesain pembelajaran agama secara kreatif dan sesuai dengan perkembangan isu kontemporer yang menghinggapi kehidupan anak didik kita.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy