Ahmad Abdul Haq


Pendar-pendar lampion Merah

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 15 Maret 2007 12:00 WIBPendar-pendar lampion Merah

Pendar-pendar lampion Merah Usianya 82 tahun. Sebagian giginya sudah ompong. Suaranya bergetar dimakan usia. Namun semangat Masnah tampak masih menyala-nyala. Padahal wanita bernama asli Pang Tjin Nio ini sudah mulai menyanyi dan menari cokek sejak berusia 14 tahun. ”Dia satu di antara dua Wayang Cokek yang menguasai Gambang Kromong klasik yang masih tersisa,” ungkap David Kwa, pengamat budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. ”Gambang Kromong klasik sebentar lagi tinggal sejarah,” ujar David. ”Sebab Gambang Kromong sekarang sudah mengarah ke dangdut.” David termasuk yang khawatir sejumlah budaya dan kesenian asal Tionghoa akan terancam punah jika tidak mendapat perhatian yang layak. ”Kami memang harus mengikuti selera penonton,” ujar Siauw Ong Gian, pemimpin Gambang Kromong Sinar Jaya. Pria asal Benteng, Tangerang, ini mengaku anak petani jebolan kelas tiga SD dan sudah bermain gambang kromong sejak usia belasan. Dulu dia harus berjalan berhari-hari atau naik truk tua untuk pertunjukkan keliling. Bahkan bersama anggota grupnya, orang-orang Tionghoa asal Benteng, mereka menderita karena larangan pentas pada jaman Orde Baru. Hampir empat puluh tahun kesenian Tionghoa mati suri karena adanya Inpres No.14 tahun 1967 yang melarang tampilnya kesenian Tionghoa di ruang-ruang publik. ”Kami terpaksa latihan dan bermain sembunyi-sembunyi,” ungkap Gak Tjay, pembina perkumpulan musik Twa Koo Tui asal Semarang yang konon tinggal satu-satunya di Indonesia. Delapan tahun merantau ke Jerman dan Eropa, Gak Tjay mengaku akhirnya kembali ke Semarang untuk menghidupkan kembali kesenian peninggalan kakeknya itu. ”Dulu kami takut sekali. Sekarang bahkan kalau ada yang sunatan, kami diundang.” Salah satu tamu unik yang tampil di Kick Andy kali ini adalah Sugiyo Waluyo. Pria setengah baya ini asli Jawa Timur. Walau bukan keturunan Tionghoa, dia terampil memainkan boneka Wayang Potehi di tangannya. Juga ketika dia harus menembang dalam bahasa Hokian. ”Saya belajar dari orang Tionghoa yang jadi dalang,” ujarnya. Namun Sugiyo mengaku anaknya, yang lulusan SMA, walau juga terampil memainkan Wayang Potehi, tidak terlalu antusias untuk meneruskan profesi bapaknya. ”Tidak setiap minggu ada yang nanggap,” ujarnya. Kesenian Tionghoa yang juga bangkit setelah era reformasi adalah Opera Tio Chiu di Pangkal Pinang, Propinsi Bangka Belitung. Sejumlah seniman tempo dulu yang tergabung dalam opera ini mulai berkumpul dan – dengan sisa-sisa usia mereka – mulai mengadakan pementasan. Entah sampai kapan. Sebab bagi sebagian generasi muda Tionghoa, berkesenian seperti itu sudah dianggap kuno dan tidak menarik. Akankah budaya dan kesenian Tionghoa di Indonesia akan punah? Pertanyaan itu yang hendak ditanyakan dalam episode yang diangkat Kick Andy kali ini.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy