Ahmad Abdul Haq


Nyanyian Perih di Laut Luas

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 22 Maret 2007 12:00 WIBNyanyian Perih di Laut Luas

Nyanyian Perih di Laut Luas Ketika memasuki perairan Somalia, Afrika Selatan, mereka disergap milisi bersenjata. Di tengah berondongan peluru, kapten kapal mencoba melarikan diri. Tapi ketika para penyergap yang mengendarai speedboat mengeluarkan granat pelontar, mereka terpaksa menyerah. Setelah itu, empat bulan lamanya nasib mereka tidak menentu. Kelompok milisi itu mengaku negara mereka sedang dalam krisis ekonomi. Karena itu mereka butuh uang. Nyawa para anak buah kapal menjadi tebusan. Mereka minta 1 juta dolar Amerika. Jika tidak ditebus, semua akan dibunuh. Tiga di antara ABK yang disandera itu hadir di Kick Andy, Kamis, 22 Maret 2007 pukul 22.30WIB dan bercerita tentang pengalaman buruk mereka itu. Namun apa yang dialami Wardono, Tarisno, dan Mulyadi itu hanya satu dari sejuta cerita duka tentang nelayan kita. Simak saja nasib Ramli dan Masjaya. Dua pria asal Sinjai, Sulawesi Selatan, ini pernah ditangkap patroli Australia ketika perahu mereka dituduh melintasi batas wilayah negeri kangguru itu. "Kami ditangkap dan perahu dibakar," ungkap Ramli, yang mengaku dalam peristiwa itu kehilangan dua kapal nelayan. Satu perahu harganya 40 juta rupiah. “Padahal modalnya dari hutang. Sampai sekarang belum tahu bagaimana cara melunasinya." Sementara Masjaya mengaku nasibnya sama. Karena tiga kapalnya juga dibakar. Hingga kini dia tidak tahu bagaimana harus membayar kembali hutangnya. Sedangkan Indo, nelayan Indonesia lainnya, tertangkap ketika memasuki wilayah Irak saat mencari ikan. "Saya cepat-cepat ambil bendera merah putih dan naik ke ujung tiang sambil melambai-lambai," ujarnya dengan gayanya yang kocak. Namun, cerita yang disampaikannya dengan jenaka itu tidak mengurangi keperihan akan nasib nelayan kita yang harus bertarung di laut ganas demi menyambung hidup. "Tidak benar jika kita selalu menganggap laut Indonesia merupakan surga bagi nelayan. Ikan kita sudah habis. Kalaupun ada wilayah yang masih banyak ikannya, sudah dikuasai nelayan asing," ungkap Sumiaryo Sumiskun, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Akibatnya, nelayan kita harus mencari ikan sampai ke negeri orang. Sementara Aries Widodo , Ketua Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani), menilai kebijakan pemerintah kurang mendukung. "Nelayan kita selama ini termarginalkan." Kalaupun ada nelayan yang bernasib baik, ada kesan itu karena kebetulan. Misalnya, kisah Zamurni, seorang nelayan asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang pernah ditangkap patroli Australia. Bersama nelayan lainnya, dia ditangkap selama lebih dari sebulan. Pada saat sakit, ada seorang warga negara Australia, Bruce Duncan, yang bersimpati padanya. Pria yang fasih berbahasa Indonesia ini berkunjung ke penjara dan bertemu Zamurni. Zamurni kaget ketika suatu hari, sepulang melaut, Bruce sudah di depan rumahnya, di desa Wanabungi Pulau Kadatua "Dia memberi saya modal 13 juta rupiah," ujar Zamurni. Dengan modal itu dia mulai mengembangkan usahanya. Kini pria pendiam ini sudah memiliki enam kapal ikan tradisional. "Waktu mister Bruce datang lagi, saya kembalikan uangnya walau dia menolak." Mengikuti kisah para nelayan ini membuat mata kita terbuka bahwa ada saudara-saudara kita di laut nan luas sana yang harus berjuang untuk hidup dengan nyawa sebagai taruhannya.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy