Ahmad Abdul Haq


Setitik Cahaya di Lorong Gelap

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 29 Maret 2007 12:00 WIBSetitik Cahaya di Lorong Gelap

Setitik Cahaya di Lorong Gelap Meiliana satu dari anak Indonesia yang memiliki bakat sangat istimewa. Tidak heran jika anak ketiga dari empat bersaudara asal Surabaya ini menyabet penghargaan sebagai anak dengan kemampuan menghitung angka tercepat di Indonesia versi Museum Rekor Indonesia. Tidak Cuma itu, beberapa penghargaan internasional juga direbutnya. Padahal para pesaingnya adalah dari berbagai Negara, termasuk dari Amerika, Inggris, Cina, dan negara eropa lainnya. Gara-gara kemampuannya itu, guru-guru di sekolahnya sering meminta bantuannya untuk menghitung jika sang guru sudah merasa pusing atau lupa bawa kalkulator. “Saya ingin memecahkan rekor dunia,” ujar Meiliana. Lain lagi cerita Labiq, yang datang ke Kick Andy dari Batu, Malang. Gadis cilik berusia 5,5 tahun ini memang masih duduk di bangku TK. Tetapi, yang luar biasa, dia baru saja menyelesaikan pameran lukisan tunggal. Hampir semua dari 40 lukisannya langsung laku terjual dengan harga mulai Rp 500 ribu sampai Rp 950 ribu. ”Dia melukis sejak umur dua tahun,” ujar Diah, sang ibu. Maka penonton dibuat tergelak manakala sambil berbisik, Labiq mengatakan kepada ibunya ingin melukis Om Andy. Hasilnya? Penonton dibuat semakin tergelak. Selain berkacamata, rambut orang yang dilukis juga kribo! Belum selesai terkesima, penonton di studio kembali dibuat terhenyak saat secara spontan Labiq membacakan sebuah puisi. Puisi dengan syair yang panjang itu dibawakan dengan penjiwaan yang sungguh tidak disangka dapat dilakukan seorang anak seumur itu. Penampilan dua anak dengan bakat luar biasa di atas tadi semakin lengkap ketika Nilam Zubir, seorang gadis cilik berusia 11 tahun, memperlihatkan prestasinya mewawancarai 160 lebih tokoh Indonesia. Hampir semua menteri dan wakil presiden sudah diwawancarainya. Juga tokoh-tokoh pers Indonesia. ”Om jadi iri karena sudah 22 tahun jadi wartawan tokoh yang diwawancarai tidak sebanyak Nilam,” ujar Andy Noya. Penampilan anak-anak berbakat ini kian lengkap dengan kehadiran Prily, Syifa, dan Irien yang baru saja memenangkan lomba membuat film dokumenter anak-anak se-Asia Pasifik.Begitu juga Rafi, bocah laki-laki berusia 11 tahun, yang piawai memainkan drum. Dalam usianya yang masih belia, Rafi sudah bermain drum di berbagai pentas besar bersama musisi-musisi internasional. Antara lain Bob James. Musik yang digelutinya juga tidak jamak bagi anak-anak, yakni jazz. Bahkan Harvey Mason, musisi jazz kaliber intrnasional, tertarik menjadi produser bagi album Rafi terbaru: Can’t Stop the Beat. Di tengah kabar tentang anak-anak putus sekolah, anak-anak yang terjebak narkoba, kriminalitas, dan anak-anak yang mengalami kekerasan, tampilnya anak-anak berbakat ini agaknya memberi setitik harapan di lorong gelap.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy