Ahmad Abdul Haq


JUGUN IANFU

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 12 April 2007 12:00 WIBJUGUN IANFU

JUGUN IANFU Bayangkan. Dalam usianya yang masih 13 tahun, Mardiyem dipaksa melayani nafsu bejat tentara Jepang yang yang bermarkas di Telawang, Kalimantan Selatan. Gadis cilik asal Yogyakarta ini dibujuk ke Telawang untuk dijadikan penari. “Tapi sesampai di sana saya disuruh melayani tentara Jepang. Dalam sehari bisa belasan tentara antri,” ungkapnya. Tak heran jika Mardiyem cilik menderita. Baik bathin maupun fisik. Apalagi pada usianya yang ke-15, dia hamil. Oleh tentara Jepang dia dibawa ke rumah sakit lalu secara paksa, dengan menekan-nekan perutnya tanpa dibius, jabang bayi yang masih muda di rahimnya dipaksa keluar. Nasib yang sama dialami Emah Kartimah, perempuan asal Cimahi yang juga dijadikan budak nafsu para balatentara Dai Nipon pada 1942. Waktu itu Emah, yang masih berusia 13 tahun, diculik enam tentara Jepang saat sedang berbelanja di pasar. Dia kemuian dilarikan dengan mobil dan disekap dalam barak tentara di Cimahi. Tiga tahun Emah yang masih bau kencur itu harus melayani pria-pria dewasa. Jika dia melawan, maka pukulan dan tendangan akan diterimanya. Beberapa perempuan di tempat itu juga mengalami hal yang sama. Cerita di atas dituturkan Mardiyem dan Emah yang usianya kini sudah mencapai 80 tahun saat tampil di Kick Andy. Bersama sejumlah korban lainnya mereka berjuang agar pemerintah Jepang mengakui ”dosa” tentara mereka dulu dan kemudian meminta maaf. Bahkan Mardiyen dan Emah pernah hadir sebagai saksi pada pengadilan tribunal di Jepang dan Belanda. Sementara Suhanah, juga asal Cimahi, diculik dengan todongan pistol pada usianya yang baru 14 tahun. Tapi karena mengalami pendarahan, setahun setelah disekap dia dibebaskan. Tapi, apa lacur, kondisinya sudah parah. Rahimnya rusak dan harus diangkat. Sejak itu Suhanah tidak bisa mempunyai keturunan. Kesaksian Mardiyem, Emah, dan Suhanah -- yang baru saja meninggal karena stress -- merupakan catatan hitam dalam sejarah perempuan Indonesia. Terutama dalam periode 1942 sampai 1945 saat tentara Jepang menduduki Indonesia. Pada saat itu sejumlah perempuan Indonesia, banyak di antara mereka masih anak-anak, dipaksa menjadi ”wanita penghibur” atau jugun ianfu. Jika pemerintah Korea Selatan dinilai proaktif membantu para mantan jugun ianfu di negara mereka, para pejuang nasib mantan jugun ianfu di Indonesia justru menilai pemerintah Indonesia terkesan tidak peduli pada nasib mantan jugun ianfu di Indonesia. ”Padahal akibat dari peristiwa itu, mantan jugun ianfu tidak diterima oleh lingkungannya. Mereka dianggap pelacur yang menjijikan,” ujar Eka Hindra, aktivis Jaringan Advokasi Jugun Ianfu Indonesia.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy