Ahmad Abdul Haq


Bertaruh Nyawa di Medan Perang

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 25 Oktober 2007 12:00 WIBBertaruh Nyawa di Medan Perang

Bertaruh Nyawa di Medan Perang Satu peluru menghantam dadanya. Peluru lain menyerempet pipinya. Risiko itu harus diterima Hendro Subroto ketika meliput konflik yang terjadi di Timor Timur. Baju yang berlubang bekas peluru dan kamera tua yang dia pakai sewaktu meliput kini menjadi saksi di museum pers Solo. Sebagai wartawan peliput perang Hendro dianggap yang paling senior. Hasil liputannya juga sungguh beragam. Dari peristiwa terbunuhnya Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, penggalian para pahlawan revolusi di Lubang Buaya, perang Vietnam, perang Kamboja, perang Afghanistan sampai perang Irak. Setelah melihat sendiri rekaman kematian Kahar Muzakar, barulah Bung Karno percaya Kahar sudah benar-benar tewas, ungkap Hendro. Bisa dipahami jika Bung Karno perlu meyakini bahwa tokoh pemberontak itu sudah tewas karena selama ini rumor soal kematian Kahar sudah terlalu sering dihembus-hembuskan. Pada kenyataannya Kahar selalu masih hidup. Lain lagi pengalaman Rien Kuntari, wartawati Kompas, di Rwanda. Saat meliput konflik antar-etnis di Afrika itu, dia harus menerima kenyataan orang-orang yang semalam tidur di dekatnya, pagi-pagi sudah jadi mayat. Saya melihat mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Ada ibu yang sudah menjadi mayat sementara bayi dalam pelukannya masih hidup dan tetap menyusu. Kengerian luar biasa yang dilihatnya dalam perang saudara itu, membuat Tien trauma untuk jangka panjang. Bahkan ketika film Hotel Rwanda yang menceritakan tragedi umat manusia itu diputar di Indonesia, Tien mengaku tak sanggup menontonnya. Saya tidak berani. Mengerikan. Perempuan lain yang juga kerap meliput perang adalah Yuli Ismartono, wartawan Tempo. Yuli pernah ikut dalam pasukan pemberontak Macan Tamil di Sri Lanka. Saya ikut mereka berpindah-pindah di dalam hutan, tutur Yuli. Kondisi yang sangat berbahaya karena pasukan pemerintah Sri Langka kerap menggempur tempat persembunyian Macan Tamil. Yuli juga pernah meliput Perang Kamboja dan perang Irak. bahkan dia pernah masuk ke sarang Kun Sha, raja Opium di perbatasan Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Untuk tugas-tugas jurnalistik seperti itu, istri warganegara Amerika ini harus siap menghadapi kondisi apa pun. Termasuk makan daging ular dan cicak. Cicaknya dibakar. Sementara Merdy Sofyansyah, wartawan SCTV yang meliput kejatuhan Sadam di Irak, merupakan saksi mata yang melihat pertama kali adanya tawanan bawah tanah. Tadinya penjara bawah tanah itu dianggap hanya rumor. Tapi saat saya di sana, tiba-tiba ada orang berteriak-teriak sambil menunjuk sebuah lubang. Belakangan ternyata itu penjara bawah tanah. Di penjara itu ditemukan orang-orang yang disekap pada masa kekuasaan Sadam Husein, ujar Merdy. Sedangkan Romy Fibri yang waktu itu mendapat tugas dari Tempo dan Satrio Arismunandar yang ditugasi Kompas, punya pengalaman yang tidak kalah unik. Mereka menceritakannya dengan jenaka di Kick Andy. Di ujung acara, Meutya Hafid dan Budiyanto dari Metro TV mengungkapkan pengalaman mereka disekap oleh pasukan Mujahidin ketika meliput konflik pasca kejatuhan Sadam. Selama 168 jam atau satu minggu mereka harus hidup di sebuah goa di tengah padang pasir. Mereka diculik karena dituduh mata-mata musuh. Kelompok penyandera baru percaya reporter dan camera person Metro TV itu benar-benar wartawan setelah Presiden SBY melalui siaran TV yang disiarkan secara luas meminta agar mereka dibebaskan. Pengalaman itu yang kemudian dituangkan Meutya dalam sebuah buku berjudul 168 Jam dalam Penyanderaan. Sampai sekarang peristiwa itu masih membuat saya trauma. Tapi, di lain sisi, hari-hari dalam penyekapan membuat saya dapat merenungi apa arti kehidupan, ujar Meutya ketika tampil di Kick Andy. Masing-masing wartawan yang meliput perang punya kiat dan pantangan dalam meliput perang. Hendro Subroto, misalnya, mengaku waktu di Timor Timur dia tertembak karena melanggar pantangan yang selama ini diyakininya. Waktu di Dili saya lihat ada satu lukisan kuno di museum. Saya berniat mencurinya setelah usai meliput perang. Ternyata saya tertembak. Sejak itu saya tidak berani lagi berpikir macam-macam kalau meliput perang, ujarnya sambil tertawa.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy