Ahmad Abdul Haq


Blak-blakan dengan Sultan (versi Lengkap)

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 01 Nopember 2007 12:00 WIBBlak-blakan dengan Sultan (versi Lengkap)

kick andy Penampilan Sri Sultan Hamengkubuwono X di Kick Andy beberapa waktu lalu menimbulkan berbagai reaksi. Jika menyimak komentar di Website Kick Andy, rata-rata penonton memuji sifat rendah hati Sultan dalam melihat berbagai persoalan hidup yang dialaminya sebagai raja. Namun banyak juga di antara penonton yang merasa kurang puas. Ada yang meminta agar topik itu ditayangkan ulang dan ada yang mengaku tidak puas karena wawancara tersebut dinilai terlalu singkat. Memang, durasi satu jam yang tersedia menyebabkan tidak semua hasil wawancara dapat ditayangkan. Ada bagian yang terpaksa diedit atau dipotong. Akibatnya banyak pernyataan atau adegan yang menarik terpaksa dikorbankan. Dalam hal wawancara Sultan waktu itu, misalnya, ada bagian menarik dari penjelasan Sultan soal mengapa dia mau menjadi penerjemah Mbah Marijan ketika di Jogja diselenggarakan pertemuan Partai Golkar. Di acara itu Mbah Marijan diminta berbicara tentang kepemimpinan dan kearifan hidup di depan hampir semua pimpinan partai tersebut. Nah, pada saat itu ada pemandangan menarik yang oleh banyak kalangan, terutama masyarakat Yogyakarta, dinilai tidak lazim. Ketika Mbah Marijan menyampaikan pikiran-pikirannya, dalam bahasa Jawa, Sultan yang menerjemahkannya. Ini pemandangan unik karena pembicara adalah abdi dalem sementara sang raja justru menjadi penerjemah. Apakah Sultan tidak merasa direndahkan karena melayani hambanya, rakyat biasa, jurukunci Gunung Merapi, yang justru seharusnya melayani sang raja? Apa yang salah? Bahasa Jawa yang digunakan Mbah Marijan penuh dengan nilai-nilai, ajaran-ajaran, kiasan, yang tidak mudah diterjemahkan kalau tidak memahaminya, ujar Sultan. Orang-orang juga sering keliru menempatkan saya sebagai raja seperti dongeng-dongeng -Cinderela. Padahal saya ini manusia biasa. Bagian lain yang terpotong dalam tayangan yang lalu adalah jawaban Sultan atas pertanyaan Andy Noya soal siapa sebenarnya penggagas Serangan Oemoem di Jogjakarta. Setelah Pak Harto lengser, banyak buku dan tulisan yang mengatakan serangan selama enam jam oleh tentara Indonesia terhadap pasukan Belanda itu bukan gagasan Pak Harto melainkan inisiatif Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ayahanda Sultan sekarang. Padahal serangan itu sampai kini dianggap sangat penting dan menentukan karena membuka mata dunia bahwa pasukan Indonesia masih eksis. Dengan demikian Indonesia masih memiliki kedaulatan atas tanah air ini. Selama masa pemerintahan Soeharto, melalui film dan berbagai buku serta dokumen, disebutkan gagasan serangan tersebut datang dari Pak Harto. Bagaimana reaksi dan jawaban Sultan HB X atas pertanyaan siapa sebenarnya penggagas Serangan Oemoem tersebut? Hal lain yang turut terpotong pada penayangan sebelumnya adalah penilaian Sultan soal pemerintahan sekarang. Termasuk bagaimana nilai-nilai yang sudah bergeser. Manusia sekarang lebih dinilai secara materi. Dinilai dengan ukuran duit”. Juga tentang kegalauan Sultan terhadap pemahaman ke-bhineka-an dan ke-ika-an dalam falsafah Pancasila. Bagaimana orang Jawa merasa lebih dominan dan suku-suku lain merasa tidak diayomi, ujarnya. Termasuk agama Islam yang mayoritas seharusnya melindungi dan mengayomi agama-agama yang minoritas. Dalam episode wawancara dengan Sultan HB X yang ditayangkan ulang ini hampir semua materi yang terpotong itu dimasukkan kembali. Walau untuk versi lengkap ini Kick Andy terpaksa tampil dengan durasi satu setengah jam. Artinya, selain potongan-potongan tadi, hasil wawancara yang pernah ditayangkan tetap dipertahankan. Termasuk alasan Sultan mengundurkan diri dari jabatan sebagai gubernur Yogyakarta dan penjelasnnya soal mengapa tidak mau berpoligami, padahal sebagai raja dia mendapat hak untuk menikahi lebih dari satu perempuan.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy