Ahmad Abdul Haq


SEJUTA BOLA, SEJUTA MIMPI

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 29 Maret 2013 21:30 WIBSEJUTA BOLA, SEJUTA MIMPI

SEJUTA BOLA, SEJUTA MIMPI

Sepakbola kini tak lagi hanya sebuah permainan semata. Tetapi dibalik olah raga ini banyak nilai-nilai positif yang bisa diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari. Adanya nilai keragaman masing-masing pemain, kerjasama dalam permainan, menjunjung nilai kejujuran, kedisiplinan berlatih, dan sportivitas. Sportivitas tak hanya untuk mengejar kemenangan, tetapi juga ketika menerima kekalahan sebagai usaha untuk memperbaiki diri. Hal itulah membawa Kick Andy Foundation membuat program untuk anak-anak di wilayah pra-sejahtera dalam bentuk pemberian bantuan sejumlah bola.

Bersamaan dengan peluncuran program yang dinamai dengan Gerakan Sejuta Bola Untuk Anak Indonesia (GSBAI), episode Kick Andy kali ini juga menampilkan kisah-kisah menarik di balik sepakbola. Umumnya, pemain sepakbola adalah laki-laki, tetapi tidak bagi Dhanielle Daphnee. Bagi gadis yang kini duduk di kelas 7 ini, sepakbola adalah keinginan terdalam yang telah ia miliki sejak kelas 1 SD. Kesungguhannya berlatih, meski diawali secara otodidak lewat internet, membuat orang tua, guru, bahkan teman-temannya mendukung Dhanielle bermain sepakbola. Sebagai perempuan, Dhanielle pun tak lepas dari perlakuan diremehkan. Meski demikian gadis cantik berusia 13 tahun ini tak bergeming, ia tunjukkan kemampuan terbaiknya pada orang-orang yang meremehkannya. Hasilnya, ia menjadi satu-satunya perempuan yang lolos mengikuti seleksi Timnas U-12 yang berlaga di Osaka, Jepang pada Juni 2012 lalu. Saat seleksi itu, pesertanya mencapai 3000 anak dengan sejumlah tes fisik dan psikis, dan hanya 22 anak untuk bisa lolos. Dhanielle pun kini telah tergabung kedalam 3 klub sepak bola.

Dari ujung barat Indonesia, tepatnya Banda Aceh, ada kisah mengharukan yang berkaitan dengan sepak bola. Gara-gara kaos bola, Martunis terkenal di Portugal. Tsunami besar yang melanda wilayah Aceh tahun 2004, membawa kehidupan seorang bocah laki-laki usia 8 tahun saat itu berubah. Ia selamat dari gelombang tsunami setelah ia terpisah dari ibu, adik, dan kakaknya yang akhirnya hilang untuk selama-lamanya. Ia terapung-apung diatas kasur dan memakan apa saja yang ia temui selama 21 hari. Kemudian ia ditemukan oleh masyarakat di atas pohon dan diserahkan ke wartawan Inggris yang saat itu meliput. Kaos timnas Portugal yang saat itu ia kenakan membuat fotonya terkenal hingga stasiun televisi Eropa dan menarik simpati bintang top sepak bola Portugal seperti Luis Figo, Nuno Gomes, Cristiano Ronaldo, pelatih Luiz Felipe Scolari, serta Gilberto Madail, ketua Federasi Sepak Bola Portugal. Martunis pun bersama sang ayah diundang ke Portugal. Disana, ia bertemu dengan bintang sepak bola kelas dunia. Ia pun berkesempatan menonton secara langsung pertandingan tim Portugal melawan Slovakia. Bahkan Martunis pun bertemu dengan penyanyi terkenal Madonna juga Celine Dion untuk diajak mengunjungi tempat-tempat wisata. Kini Martunis sudah 16 tahun. Sampai saat ini ia masih aktif bermain sepak bola. Martunis pun tercatat sebagai anggota sebuah klub bentukan sebuah sekolah tinggi di tempat tinggalnya, yaitu Klub Sepak Bola Ubudiyah, Banda Aceh.

Kisah lainnya datang dari sebuah desa sepakbola di Maluku Tengah. Desa Tulehu. Sepertinya setiap bocah laki-laki yang dilahirkan dari desa yang terletak sekitar 30 kilometer dari kota Ambon ini, diciptakan untuk bermain sepak bola. Sebut saja sederetan nama pemain pendukung timnas Indonesia, seperti Khairil Anwar, Imran Nahumarury, Ramdani Lestaluhu, atau Ricky Bardes yang kini di Uruguay mengikuti program Sociedad Anonima Deportiva, mereka adalah pemain pemain tangguh asal “Samba”-nya Maluku ini. Siapa sangka melalui sepak bola pula, sebuah konflik berdarah tahun 1999 yang dialami oleh wilayah ini menjadi sarana rekonsiliasi, yang mampu mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai. Karena keunikannya itulah, membawa Glenn fredly dan Angga Sasongko, mengangkat kisah 15 anak asal Tulehu yang mengikuti pertandingan Liga Remaja Nasional PSSI dan Medco (Medco Cup) dan berhasil memenangkannya - kedalam sebuah film berjudul “Cahaya Dari Timur”. Film dengan berlatar kisah nyata hidup mereka inilah rencananya akan dibuat sebagian besar di derah aslinya, Tulehu. Kini proses film itu memasuki masa pra produksi dan ditargetkan untuk rilis tahun 2014 nanti.

Diakhir episode ini pula diserahkan bantuan bola kepada sejumlah klub bola dan sekolah sepak bola. Bagi yang berminat untuk menjadi donatur, mendaftarkan klub untuk bantuan bola, dan informasi lainnya tentang gerakan ini kunjungi kickandy.com/sejutabola
 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy