JIL Edisi Indonesia

Ihsan Ali-Fauzi: Suicide Terrorism Lebih Dipicu Oleh Nasionalisme

Faktor pendorong utama terorisme bunuh diri (suicide terrorism) dalam kurun waktu 1980-2003, bukanlah fundamentalisme agama. Ia lebih didorong oleh spirit nasionalisme suatu kelompok masyarakat untuk mengusir orang yang mereka anggap menjajah ibu pertiwi mereka. Demikian hasil diskusi buku Dying To Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism karangan Robert Pape (2006) antara Jaringan Islam LIberal (JIL) dengan Ihsan Ali Fauzi, mahasiswa Ilmu Politik di Ohio State University Amerika Serikat, Kamis (5/10) lalu.

16/10/2006 | Wawancara | Komentar (3) #

Jalaludin Rakhmat: Rahmat Tuhan Tidak Terbatas

Saya sering bicara tentang Islam di banyak gereja. Lalu banyak orang yang bertanya, sejak kapan Islam mengajarkan pluralisme? Kalau dalam Katolik baru dimulai sejak John Paul II atau Paus Johanes Palus II. Saya lalu katakan, pluralisme ada sejak zaman Rasulullah.

09/10/2006 | Wawancara | Komentar (26) #

Tadarus Ramadan JIL 1427 - I - Mutiara Terpendam dalam Fushusul Hikam

Oleh Umdah El-Baroroh

Keberhasilan Ibn Arabi dari doktrin tasawufnya adalah kemampuannya untuk keluar dari pemahaman agama yang dogmatis dan literalis. Bagi Ibn Arabi, semua ajaran agama dalam Alquran maupun Hadis adalah bentuk dari simbol-simbol kebijaksanaan Tuhan yang harus terus-menerus digali.

09/10/2006 | Diskusi | Komentar (3) #

Fenomenologi Ramadan

Oleh Novriantoni

Ramadan juga menjadi momentum penertiban pedagang kaki lima yang berupaya mengais rezeki di bulan yang konon penuh berkah ini. Gejala ini sangat berbeda dengan di beberapa negara Arab yang mampu menghadirkan Ramadan sebagai bulan penuh berkah dan makna bagi masyarakat tak berpunya.

09/10/2006 | Editorial | Komentar (11) #

Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif

Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu.

04/10/2006 | Wawancara | Komentar (14) #

Semangat (Islam) Cordova

Oleh M. Najibur Rohman

Semangat Cordova yang selalu “haus” ilmu pengetahuan perlu menjadi jawaban atas kelemahan-kelemahan yang terjadi di dunia muslim saat ini. Harus dihilangkan asumsi muslim sebagai yang terbelakang, gagap teknologi, dan malas berpikir (rasional dan ilmiah), terlebih di Dunia Ketiga.

01/10/2006 | Kolom | Komentar (3) #

Kultur Takfir

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomena keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran.

01/10/2006 | Editorial | Komentar (3) #

Fundamentalisme dan Neoliberalisme

Oleh Luthfi Assyaukanie

Saya tidak tahu kapan mulanya dua istilah itu disandingkan dan didiskusikan secara bersamaan. Tapi, akhir-akhir ini banyak sekali pembicaraan tentang dua konsep itu. Umumnya, pembicaraan mengarah kepada satu penilaian, yakni bahwa fundamentalisme dan neoliberlisme merupakan ancaman bagi kehidupan manusia. Secara simplistik, ancaman itu diteriakkan dengan menciptakan slogan seperti “fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar.”

26/09/2006 | Editorial | Komentar (8) #

Penoda, Ujian, dan Berkah Ramadhan

Oleh André Möller

Kembali ke Ramadhan yang penuh berkah dan maghfirah ini. ”Penoda” seperti acara televisi, perselisihan atas jumlah raka’at tarawih, penanggalan Idul Fitri dan seterusnya, harap dianggap sebagai ujian Ilahi saja. Kalau begitu, penoda-penoda ini bisa dijadikan sumur pahala tak terhingga. Dan perlu kita ingat pula, bahwa penoda Ramadhan tidak sama bagi setiap orang.

26/09/2006 | Kolom | Komentar (20) #

Endy Bayuni: Paham Keagamaan Ditentukan Pengalaman

Pemahaman keagamaan seseorang selalu ditentukan oleh banyak faktor. Namun pengalaman pribadi-pribadi tiap orang dalam menghayati soal-soal keagamaan adalah faktor terpenting dalam corak keberagamaanya. Demikian pendapat Endy Bayuni, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Kamis (15/9) lalu, kepada Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

26/09/2006 | Wawancara | Komentar (2) #
Halaman: 18 dari 109 « First  <  16 17 18 19 20 >  Last »

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq