
Nama : WIRATMO SOEKITO
Lahir : Solo, Jawa Tengah, 8 Februari 1929
Agama : Islam
Pendidikan : -SD, SMP di Solo, 1947
-SMA di Solo, 1951
-Belajar Ilmu Filsafat di Universitas Katolik Nijmegen, Negeri Belanda, tidak tamat
Karir : -Karyawan BRI, 1957-1972
-anggota redaksi majalah Indonesia, 1958-1969
-pengajar Apresiasi Drama dan Sastra pada ATNI, 1960-1962
-Dosen Institut Kesenian Jakarta Departemen Teater, sejak 1981
-anggota Kelompok Sosial Budaya Lemhanas 1981-1983
Karya : Karya tulis penting:
Antara lain: Kesusasteraan dan Kekuasaan, Yayasan Arus, Jakarta, 1984
Alamat Rumah : Jalan Setiabudi Barat 19, Jakarta Selatan
Alamat Kantor : Institut Kesenian Jakarta, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat
|
|
WIRATMO SOEKITO
Si sulung di antara tujuh bersaudara ini datang ke Jakarta setelah lulus SMA Katolik di Solo -- diajak Maladi, menteri olah raga pada zaman Soekarno. Wiratmo lalu belajar filsafat pada Universitas Katolik di Nijmegen, Negeri Belanda, tidak sampai tamat. Memulai karier sebagai karyawan RRI Jakarta, putra bekas Kepala Perpustakaan Mangkunegara VII itu memang seorang kutu buku.
Di masa remaja, Wiratmo mengaku "lekat" dengan Marxisme. Sebagai anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), ia pernah mengikuti kursus politik. "Hampir semua guru saya berpaham Marxisme," ujarnya. Setelah dewasa, ia justru musuh paling tegar kaum Marxis (komunis) Indonesia. Wiratmo Soekito merupakan konseptor Manifes Kebudayaan, yang diganyang Lekra dan para sekutunya. Bersama dengan dilarangnya Manifes Kebudayaan, 1964, ia pun nyaris terbungkam.
Sebagai kolumnis, ia lebih banyak menulis masalah kebudayaan dan filsafat. Belakangan ia juga menulis soal politik, dengan titik berat Eropa Timur. Penulis terkemuka ini konon tidak mengutamakan honorarium.
Menyinggung perkembangan kebudayaan akhir-akhir ini, ia menilai sudah banyak dicampuri urusan misi pemerintah. Misalnya wayang kulit. "Biarkan kebudayaan berkembang menurut kebudayaan itu sendiri," imbaunya. Dalam pandangan Wiratmo, yang menganut Katolik sebelum menikahi Sri Widyowati, yang beragama Islam, filsafat yang diajarkan di Indonesia berbau Katolik. "Bukan berarti saya benci Katolik, lho," kata pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu. Almarhumah istrinya, terakhir hakim agung RI, meninggal pada 1982 di Medical Centre Houston, AS, karena menderita kanker kandungan. Wiratmo kini tinggal di kawasan Setiabudi, Jakarta, bersama anaknya, Hario. Ia tidak ingin menikah lagi.
Penggemar musik Barat ini menyenangi warna putih. Kursi tamu dan mobil Toyota Corolla 1976 milik Wiratmo berwarna putih- putih.
|