Mengenang KH Ahmad Abdul Haq Watucongol (c. 1928-2010)

Judul Asli: “KH Ahmad Abdul Haq Dalhar: Hikmah Ziarah ke Makam Auliya”
Sumber: Rubrik Uswah Majalah Aula, Desember 2010
Link: http://mediaaula.blogspot.com/2010/12/kh-ahmad-abdul-haq-dalhar-magelang.html

Mbah Mad adalah salah seorang kiai yang cukup disegani banyak kalangan lintas golongan, para ulama dan pejabat. Sejak kecil, ia dikenal memiliki ilmu yang tidak dimiliki para kiai pada umumnya.

SALAH seorang putra (alm) KH Ahmad Abdul Haq Dalhar (Mbah Mad), KH Agus Aly Qayshar, menceritakan, bahwa salah satu kelebihan Mbah Mad yang dimiliki sejak kecil adalah mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Yang pada awalnya, makam seseorang itu dianggap biasa oleh masyarakat, justru Mbah Mad memberi tahu kalau itu makam seorang wali. Kelebihan ini merupakan warisan dari abahnya, Mbah Dalhar.

Mbah Mad adalah seorang ulama yang cukup berpengaruh, terutama di wilayah Magelang. Di mata para kiai dan umatnya, kharisma Mbah Mad sangat tinggi, di samping karena salah seorang kiai sepuh di kalangan warga NU saat itu.

Sebelum wafat, ia menjadi pengasuh keempat Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan oleh kakek buyutnya yakni Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa, pada tahun 1820. Pesantren ini juga pernah ditempati Muktamar NU ke-14, pada tahun 1939.

Silsilah Keturunan

Bulan kelahiran Mbah Mad belum diketahui secara pasti. Hanya yang pasti ia lahir pada hari Ahad Kliwon, sekitar tahun 1928. Ayahnya adalah Kiai Dalhar (Mbah Dalhar) yang merupakan kiai kharismatik sekaligus waliyullah.

Kiai Abdurrauf adalah salah seorang senapati perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqa sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Karena itu, sebagai keturunan raja Kiai Hasan Tuqa juga memiliki nama sebutan lain, yaitu Raden Bagus Kemuning.

Tempat Doa Restu Pejabat

Mbah Mad dikenal sebagai tokoh spiritual yang cukup disegani hampir semua kalangan, dari masyarakat bawah hingga ulama dan tokoh nasional lainnya karena kharisma dan kewalian yang dipercayai masyarakat.

Bahkan, ia sering disowani seseorang yang akan maju menjadi pejabat. Mereka biasanya sowan dulu ke Mbah Mad untuk minta doa restu. Bukan hanya itu, tokoh-tokoh nasional dan pejabat negara juga sering berkunjung untuk meminta nasihat kepadanya. Tercatat misalnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Jusuf Kalla, Wiranto, Akbar Tanjung dan tokoh-tokoh lainnya tercatat pernah bersilaturrahim ke Mbah Mad. Susilo Bambang Yudhoyono semasa masih aktif dinas di kemiliteran dengan pangkat kapten juga pernah datang kepada Mbah Mad.

Mbah Mad merupakan sosok kiai yang memiliki sikap yang luwes. Pergaulannya cukup luas, tanpa memandang perbedaan agama, aliran dan perbedaan lainnya. Wajar jika ia pernah dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Magelang yang anggotanya adalah dari kalangan pemuka lintas agama.

Abah Dalhar, abahnya Mbah Mad, dikenal sebagai mursyid Thariqah Assyadziliyyah. Sebelum wafat, Mbah Dalhar menurunkan ijazah kemursyidannya kepada Mbah Mad, di samping kepada Kiai Iskandar Salatiga dan KH Dimyati Banten.

Mbah Mad memiliki sedikitnya tiga ribu jamaah yang tersebar di berbagai daerah khususnya di wilayah eks-Karesidenan Kedu (Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen).

Berjuang Tak Mengenal Waktu

Mbah Mad tidak sekadar menyampaikan ajaran agama dan ibadah, tetapi juga olah jiwa terutama kepada putra-putri serta para santrinya. Meninggalkan tidur malam adalah juga bagian dari riyadah Mbah Mad. Dituturkan Gus Ali – Panggilan KH Agus Aly Qayshar – salah satu riyadah yang dijalankan Mbah Mad adalah melek malam. Di samping itu, ia sangat tekun melakukan ziarah ke beberapa makan auliya dan ulama. Riyadah melekan ini ia jalani sejak kecil hingga menjelang wafat.

Ia juga dikenal memiliki kelebihan dari sisi ilmu dibanding kiai pada umumnya. Misalnya, ia bisa mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui orang sekitar. Bahkan kelebihan ini terlihat sejak dia kecil.

Mbah Mad juga diyakini memiliki ilmu laduni. Pasalnya, ia tidak pernah mondok. Meski pernah mondok di Pesantren Al-Wahdah Lasem yang saat itu diasuh KH Baidlawi, namun, ia hanya bertahan tidak lebih dari seminggu. “Abah lebih banyak berguru langsung ke pada abahnya sendiri,” terang Gus Ali.

Sepanjang perjalanan hidupnya dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat. Dalam mengemban tugas mulia mengajarkan ajaran-ajaran syar’i. Mbal1 Mad seolah tidak mengenal tempat, waktu, situasi, dan kondisi. Bahkan di tempat yang sukar dilalui kendaraan, ia tetap bersedia dengan berjalan kaki.

Menurut Gus Ali. Mbah Mad sering berpesan kepada putra-putrinya agar selalu menghormati tamu, tidak meremehkan pejabat, serta menyapa kepada semua siapa pun tanpa melihat status sosial maupun agamanya.

Mbah Mad memiliki tiga istri yakni Hajah Jamilah (almarhum), Hajah Istianah (almarhum). dan Hajah Khafshah. Dari pernikahannya, dia dikaruniai 9 anak. yang dua di antaranya sudah meninggal dunia. Cucunya ada 32 orang dan 10 cicit.

Mbah Mad menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang, pagi sekitar pukul 05.50 WIB, Kamis, 8 Juli 2010 lalu.

Hadir dalam acara pemberangkatan jenazah di antaranya KH Maimun Zubair dari Sarang, KH Hamid Baidlawi (Rembang), Drs H Lukman Saifuddin Zuhri (Wakil Ketua MPR RI), Bupati Magelang Ir H Singgih Sanyoto, Bupati Wonosobo, Walikota Magelang, Ketua DPRD Kabupaten dan Kota Magelang, serta para kiai lainnya.

26 Responses to Mengenang KH Ahmad Abdul Haq Watucongol (c. 1928-2010)

  1. sugeng ihsan says:

    saya alumni watu congol yg dari ngawi salam buat gus urul sy teringat pernah ditendang muka saya , ternyata tendangan itu membawa barokah trimakasih gus urul

  2. sugeng ihsan says:

    juga trimakasih untuk semua kluarga mbah mad yg dulu pernah sy dhereki selama 5 th.sy sekarang bekerja di bawah kementrian agama kab.ngawi tepatnya di min bendo

  3. sugeng ihsan says:

    Tolong pada pengurus pondok/yg lain yg sekiranya bisa beri informasi sy ttg watucongol mungkin kpn khaul toriqoh sadziliyah dll sy dikbri,masak sy dulu pernah dherek mbah mad eee ketika beliau pulang ke rahmatullah sy gk tau,denger2 dah 100 harinya,

  4. aa_haq says:

    @sugeng ihsan,
    Semoga ada pengurus pondok yang membaca posting ini ya, Mas.

  5. kawulo alit says:

    1000 hari wafatnya simbah yai mad akan dilaksanakan tgl 13 maret. mohon disebarkan!

  6. Anonymous says:

    o ya trimakasih

  7. sugeng ihsan says:

    o ya trimakasiiiih

  8. hamba allah disemarang says:

    teringat betul ketika saya sowan ke almagfurlah mbah mad abdul haq,ketika habis ubuh,kucium tangannya lalu muka saya ditatap dengan penuh ketulusan,dan beliau mendoakan saya, tanpa bermaksud apa2,alhmdulillah doa mbah mad di ijabahi oleh allah,dan menjadi kenyataan,..allahummagfirlahu warkhamhu waafiihi wa’fuanhu guruku(mbah mad)..

  9. yudy says:

    aslmkum sy mau tnya nih ap di daerah gunung pring muntilan ada orang yg bsa menyembhkan penyakit krna gangguan JIN ,ktny ad yg namanya Gus wawan it bsa mengobti? Tlng yh..infonya mksh

    • 082324926789 says:

      ada mas rumah beliau di seberang jalan ponpes Darussalam Watu Congol …dusun ngasem…
      kebetulan saya penderek dari Gus Wawan

  10. Salam rindu buat bunda guru..ibu nyai Fariqhoh……

  11. Anonymous says:

    saya pernah memapah mbah mad sekaligus memeluk beliau tp sy gk tau kl beliau mbah mad

  12. koespithy@yahoo.com says:

    salam kagem mas triwidodo saking adik,e

  13. Mungsri says:

    ila hadhrati syaikhil mukarom simbah kh Ahmad Abdul Haq Dalhar alfatihah …

  14. H Wiharto Bin H Muh Khandori, mbandung gowaan Desa Sumberrejo Mertoyudan Magelang says:

    Illaa Rukhii mbah Mad Watucongol, Al Fathehah……. waktu masih kecil saya sering diajak simbok ngaji( dengarkan ceramah agama ) mbah Mad hari selasa di watucongol
    masih terbayang kalau cium tangan mbah Mad, nyuwun berkah…..
    Subkhanallah

    • aa_haq says:

      Nuwun sewu, kulakoreksi, Pak Haji.
      Sebaiknya ditulis “ila rukhi”, yang artinya “kepada ruh”. Maksudnya, hadiah fatihah kepada ruh Mbah Kyai.
      Kalau “illa rukhii”, artinya “kecuali ruh saya”.

      Matur sembah nuwun atas komentarnya, Pak H. Wiharto.

  15. darmawan says:

    Saya masih ingat tahun 1997 sewaktu mau pembagian lokasi kkn upn veteran, pengumuman pembagian lokasi jam 11 siang, jam 10 ngadap mbah Mad, minta doa agar dapat lokasi yg dekat dgn kota yogya, Alhamdulillah dapat di desa sawit gantiwarno

  16. M.MUNIB says:

    ILAA CHADROTISYECH AHMAD A HAQ…ALFATIHAH
    Q TERINGAT PD WAKTU MAU SOWAN SAMA AYAHKU EEE SAMPAI DI CANGUK MAGELANG Q DI CEKEL POLISI YG DI LUAR GALAK BGT STLH SAMMPE DI DALAM POS Q DI TANYA BAIK2 Q BILANG KALO MAU SOWAN MBAH MAD ALHAMDU LILLAH P POLISINYA KENAL SAMA KIAI DAN BEBASLAH Q SYUKRON MBAH MAD (ALM)DAN PAK POLISI .ALLOHUMMARFAK DAROJATAHU FIL JANNAH AMIN

  17. akim azzoem says:

    dua hari sebelum wafat beliau ….tepatnya hari selasa kliwon adalah hari terakhir aku sowan sungkem mbah mad ….allohummajngal kobrohu roudhotan min riyadhil jinan …

    • aa_haq says:

      Mari belajar memperbaiki transliterasi huruf Arab menjadi lebih baik.
      “Allahummaj’al qabrahu raudlatan min riyadlil jinan.”

      Itu sudah disesuaikan dengan ejaan khas NU lho :)

  18. Sugeng Ihsan Ngawi jawa timur says:

    Salam buat semua kluarga dalem and smua santri WTC

  19. Fuad says:

    Belum pernah ketemu tp sering dengar namanya

Beri Komentar

  • Isi saja. Komentar tidak dimoderasi.
  • Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan dan tidak akan disampahi.
  • Hindari memberi alamat halaman web dengan domain .multiply.com. Bila ada, alamat web akan diedit atau dihapus untuk menghindari link putus.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>