Perjuangan Tak Pernah Lelah

Sumber: Grup Facebook “BERDENDANG BERSAMA SONETA (BBS)”, 21-07-2017

Di usianya mendekati 71 tahun semangat Rhoma Irama dalam mengabdi kepada masyarakat bangsa dan negara lewat jalur seni, politik dan dakwah masih saja tak pernah padam bahkan semakin membara. Kegelisahan hati diawali oleh hingar-bingar musik yang tak pernah dekat dengan nilai agama yang mengelilinginya kala itu mengharuskan Rhoma meninggalkan hura-hura masa muda. Di usianya yang masih relatif muda 27 tahun beliau memantapkan hati untuk hijrah ke jalan Tuhan dengan membentuk karakter musik Soneta yang bukan saja sekadar menjual hiburan namun lebih kepada notasi dan syair suara Islam dalam balutan Nada dan Dakwah.

Kalau kita melihat dari volume ke volume yang dirilis sejak tahun 70 an selain peralatan musik yang semakin lengkap dengan suara ngerocknya selalu ada satu atau dua lagu yang diciptakan berisi seruan dan ajakan untuk mengingat Tuhan, menuntun ke jalan kebenaran sebagaimana tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadist. Lagu ini bisa kita dengarkan sejak album ke 4 Darah Muda (1975) dalam lagu Kematian, Api dan Lautan, berturut turut volume 5 Musik (1976) dalam lagu Lapar dan Nyanyian Setan, juga bisa kita dengar lagu Lidah dan Pemarah pada Volume 6 (1977) 135.000.000 begitu seterusnya sampai volume 16 bahkan pada volume 12 Rhoma khusus menciptakan satu album yang berisi 4 lagu diberi judul Renungan Dalam Nada.

Menariknya, setiap lagu yang diciptakan bila mengandung unsur nasehat maka personil Soneta wajib mengamalkan terlebih dahulu sebelum di rilis. Sebab, bila tidak, Allah akan murka kepada kita, kalau pandai menyanyi, menyampaikan kepada orang lain sementara kita sendiri melanggar ucapannya, demikian Rhoma mengatakan kepada personil Soneta. Beliau juga istiqomah dalam menjaga 5 waktunya sehingga dalam setiap konser di mana pun dan kapan pun selalu salat berjama’ah dengan kru dan personil Soneta, bahkan anggota Forsa yang ketempatan daerahnya untuk acara konser juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk ikut berjama’ah sebagaimana yang pernah saya alami. Sebelum salat dimulai beliau melihat personil Soneta bila ada yang tidak hadir disuruh manggil ke kamar hotel ditunggu sampai lengkap kecuali Femina.

Jihad akbar paling fenomenal dakwah Rhoma melalui lagu ketika menciptakan lagu “Laa Ilaaha Illallah” di tengah kemajemukan suku, ras, dan agama di Indonesia. Seperti ketika konser pada FFI di Medan, selesai membawakan lagu Laa Ilaaha Illallah ada 10 anggota DPRD Sumatera Utara datang ke hotel tempat Rhoma dan Soneta menginap mengintimidasi. “Saya ingatkan anda untuk tidak membawakan lagu ini karena anda memecah belah bangsa, SARA, dan menghina kami.” Rhoma pun menjawab dengan tegas, “Kalau saya tidak mau abang mau apa? Kalau mau melarang lagu ini berarti anda melarang Alquran, karena ini lagu merupakan terjemahan dari Alquran.” Akhirnya mereka pulang dengan perasaan marah.

Betapa Rhoma seorang musisi yang piawai memadukan unsur seni dan dakwah untuk menggugah hati kita karena pada umumnya manusia sulit untuk diajak membaca firman Tuhan membaca ayat ayat Alquran dan Hadist, maka diterjemahkanlah ayat-ayat Allah tersebut dalam bentuk lagu yang indah baik dari segi lirik maupun aransemen musiknya lebih lebih ditunjang dengan peralatan musik dan sound system yang canggih dan modern, performance, tata panggung yang megah dan spektakuler.

Namun, perjalanan Rhoma dan Soneta dalam menyampaikan pesan moral melalui lagu tadi tidak semulus layaknya artis masa kini yang umumnya hanya menyajikan nilai pasar, ini karena lirik yang diciptakan bukan saja berisi cinta namun kritik sosial yang mengoreksi Pemerintah sering membuat merah telinga Penguasa pada waktu itu, sehingga harus puasa 11 tahun untuk tidak tayang di TVRI satu satunya televisi di Indonesia. Bukankah televisi merupakan sarana paling mudah untuk promosi lagu dalam menembus pasar sampai ke pelosok desa selain konser? Dalam kevakuman tayang inilah Rhoma juga menciptakan lagu pop dan lagu berirama gambus.

Bukan hanya kritikan saja membuat Rhoma dicekal tayang di televisi menguatnya suara PPP yang menjadi rumah politik Rhoma pertama justru menjadi ancaman eksistensi suara Golkar saat itu. Sebagaimana saya katakan pada tulisan terdahulu bahwa setiap konser Soneta Rhoma seakan maju di medan perang karena konsernya selalu dihantui oleh senjata dan bom, ini dibuktikan setidaknya empat kali Rhoma nyaris terbunuh dalam acara konsernya, rupanya bernyanyi dan berpolitik saat itu konsekuensinya di antara hidup dan mati.

Bukan Rhoma Irama kalau harus menyerah dalam menghadapi rintangan semacam ini, seorang Raja ibaratnya harus mampu membelah samudera dan memecah gunung untuk menggapai sukses dakwahnya sebagaimana dituangkan dalam lagu Perjuangan dan Do’a, konsernya dicekal, lirik lagu yang harus dikoreksi, menjadi santapan sehari hari di era Orde Baru.

Perjuangan Rhoma bukan hanya sampai disini, cerai berainya umat Islam karena berbeda aliran berbeda politik menuntut Rhoma melahirkan Partai Idaman (Partai Islam Damai Aman). Berpolitik harus santun tidak saling sikut harus sesuai dengan tuntunan agama tidak mencederai rakyat adalah tujuan utama beliau, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang membawa perdamaian agama yang Rahmatan Lil’alamin sebagai agama yang menurunkan Rahmat bagi semesta alam. Berpolitik tidak bisa lepas dari agama karena agama menuntun kita bagaimana cara berperilaku dalam berpolitik dengan benar dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara. (Bersambung)

Penulis, Agus Santoso Soneta anggota Forsa Banyuwangi Juli 2017. Salam Forsa

Bagikan artikel ini:
Share