
Nama : FRIDOLIN UKUR
Lahir : Tamianglayang, Kalimantan Tengah, 5 April 1930
Agama : Protestan
Pendidikan : -SD, Banjarmasin (1942)
-SMP, Banjarmasin (1946)
-SMA, Banjarmasin (1948)
-Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta (1956)
-Fakultas Teologi Universitas Basel, Swiss (1965) ; STT Jakarta (Doktor, 1971)
Karir : -Tentara Nasional Indonesia (1946-1950)
-Pendeta Mahasiswa (1956-1958)
-Pendeta Jemaat (1958-1959)
-Dosen Akademi Teologi (1959-1970)
-Pendeta/Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) (1985 -- sekarang)
Kegiatan Lain : -Kolumnis beberapa surat kabar di Jakarta
Karya : -Tantang Jawab Suku Dayak, BPK Gunung Mulia, 1971
-Mari Berekreasi, BPK Gunung Mulia, 1961
-Malam Sunyi, BPK Gunung Mulia, 1961
-Darah dan Peluh, BPK Gunung Mulia, 1962
-Jerih dan Peluh, LPS DGI, 1978
Alamat Rumah : Jalan Cipinang Jaya II/55-57, Jakarta Timur Telp: 813488
Alamat Kantor : Jalan Salemba Raya 10, Jakarta Pusat Telp: 884321
|
|
FRIDOLIN UKUR
Fridolin Ukur termasuk satu di antara sedikit pendeta yang suka memakai kopiah. Ia memiliki 10 buah pici yang dibelinya sendiri ataupun pemberian orang. Suka humor dan dekat dengan anak muda, di mata Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) ini, Gereja tidak sekadar tempat upacara ritus, tetapi juga wadah umat dalam mengemban tugas kemanusiaan. Sejak 1967, menurut dia, gereja-gereja di Indonesia lebih memperhatikan masalah sosial.
Lulus dari SLA di Banjarmasin, pada 1950, anak ketiga dari lima bersaudara ini masuk Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STTJ). Dua tahun pertama ia membiayai kuliah dengan uang kiriman orangtuanya. "Perguruan meragukan motivasi saya untuk jadi pendeta," tuturnya. Baru setelah pihak STTJ menganggap Fridolin mantap, ia mendapat beasiswa. Rampung pada 1956, pada 1971 meraih gelar doktor pada STTJ -- setelah sebelumnya sempat belajar pada Fakultas Teologia Universitas Basel, Swiss. Disertasinya berjudul, Tanggung Jawab Suku Dayak, 1971, hasil penelitian antropologi budaya itu kemudian diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia.
Anak Desa Tamianglayang, Barito Timur, Kalimantan Tengah, itu sejak masa kanak-kanak sudah menerima pendidikan agama dari orangtuanya. Pertemuannya dengan pendeta sesuku (Dayak), Ethel Bert Saloh, memperdalam pengetahuan agama Fridolin.Anak seorang penilik sekolah ini berpendapat, Kristen Indonesia harus lebih dewasa dalam menjaring pengaruh polarisasi gereja di negara Barat. Citra Kristen harus merakyat, katanya. Pendeta Kristen di Bali, misalnya, tidak harus mengenakan jubah hitam dalam upacara gereja. "Di Bali, hitam lambang kejahatan. Lalu apa pendeta Kristen harus mempertahankan jubah hitam yang merupakan tradisi Barat itu?" kata pendeta yang pernah jadi anggota Divisi IV ALRI (kini TNI AL), yang kemudian masuk TNI-AD hingga berpangkat pembantu letnan ini.
Pernah memimpin majalah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Fiducia, Fridolin Ukur kini kolomnis beberapa surat kabar Jakarta. Pada 1980 ia menjadi editor tamu International Review of Mission, milik Dewan Gereja Sedunia, dalam Sidang Raya di Melbourne. Karena itu, ia sempat keliling Australia, dan hasil tulisannya mengagumkan banyak orang. "Di situ nama saya sebagai penulis mulai dikenal secara internasional," ujar bekas Direktur Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma) yang acap ikut tampil mengisi acara kebaktian di RRI dan TVRI.
Anak ketiga dari lima bersaudara ini, dianggap banyak orang bersikap "netral". Akibatnya, ia sering dimintai pendapat oleh kaumnya di Desa Temianglayang. Bahkan ayahnya sendiri pernah menyuruhnya mengatur pembagian warisan yang terdiri dari dua rumah dan beberapa bidang tanah.
|