
Nama : Faisal H. Basri
Lahir : Bandung, 6 November 1959
Agama : Islam
Pendidikan : - Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) (1985)
- Master of Arts (M.A.) dalam bidang ekonomi, Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika (1988)
Karir : Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1981€“sekarang)
- Pengajar pada Magister Manajemen (MM) Universitas Indonesia (1988€“sekarang)
- Editorial Board, Jurnal Bisnis dan Ekonomi Politik (Quarterly Journal of the Indonesian Economy) diterbitkan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef), (1997€“sekarang)
- Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas, Jakarta (1999€“sekarang)
Kegiatan Lain : - Anggota American Economist Association (AEA)
- Anggota Society for International Development;
- Pembantu Ketua Bidang III Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (1996-2000)
- Ketua Dewan Etik Komite Pemantau Korupsi Nasional (Konstan) €“ National Corruption Watch (NCW), (sejak 6 April 2000)
- Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN), (1998-2000)
- Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan PAN (2000-2001)
Penghargaan : Dosen Teladan III Universitas Indonesia (1996)
Keluarga : Ayah : Hasan Basri
Ibu : Saidah
Istri : Syafitrie
Anak : 1. Anwar Ibrahim Basri
2. Siti Nabila Azuraa Basri
3. Muhammad Attar Basri
Alamat Rumah : Jalan Bambu Indah 49 RT 009/RW 03, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta 13790
Telepon (021) 87707322
Faksimile (021) 8728949
HP 0811-902-466
Alamat Kantor : - STIE Perbanas, Jalan Perbanas, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta 12940
Telepon (021) 5252533, 5222501-04, 5228460
Faksimile 5228460
- Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Gedung Depperindag Lt.12, Jalan Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta
T
|
|
Faisal H. Basri
SEMASA anak - anak, Faisal pernah terserang €œsakit panas€, yang menyebabkan kakinya lemah dan tak mampu melangkah. Ayahnya lalu membikinkannya penyangga dari batang bambu, agar si anak belajar berjalan. Tak sia-sia usaha bapaknya. Anak berkaki lemah inilah kemudian menjadi tukang panjat tembok karena tak punya karcis untuk nonton masres (sirkus atau akrobat cirebon).
Sampai menjadi murid SMA, ia berteman dengan remaja-remaja perokok, pengisap bunga nusa indah kering (konon mirip ganja), pembolos dari sekolah dan lain-lain perilaku yang agak berandalan. Tapi €œberandal remaja€ ini tetap berprestasi di sekolah, bahkan di SMP ia selalu menjadi juara kelas. Di SMA, ia tertarik dan kemudian rajin membaca majalah Prisma, sebuah jurnal ilmiah ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Jurnal itulah yang membuat Faisal remaja bercita-cita menjadi ekonom €“dan ternyata kesampaian.
Kini, sarjana S2 ini sering disebut €œpengamat ekonomi€. Faisal sendiri lebih suka menamakan dirinya €œanalis ekonomi€, karena biasanya yang dilakukannya memang tak sekadar mengamati, juga memberikan analisis-analisis.
Ia memilih menjadi dosen karena terpaksa. Ayahnya meninggal pada tahun ketiga masa kuliahnya, karena itu ia harus mempunyai penghasilan sendiri untuk ongkos hidup dan biaya studi. Di awalnya, pilihan ini membuatnya sakit perut selalu setiap hendak berangkat mengajar. Tapi seiring berjalannya waktu bukan cuma sakit perut tak menyerangnya lagi setiap hendak mengajar, ia malah jatuh cinta pada pekerjaan seorang guru itu. €œSaya merasa pusing kalau tidak mengajar,€ tuturnya.
Dosen yang tak begitu acuh pada penampilan ini --hampir selalu menyandang ransel, bersepatu sandal, dan naik-turun bus kota€”begitu peduli pada nasib rakyat kelas bawah. Itu tersirat dari tulisan-tulisannya. Keprihatinannya pada lapisan bawah itu mungkin yang membuatnya ikut mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) ketika Indonesia menerapkan kebijakan multipartai. Dialah Sekretaris Jenderal PAN pertama.
Tak lama, hanya sekitar tiga tahun ia berada dalam partai. Di pertengahan Januari 2001, ia tinggalkan partai yang dipimpin oleh Amien Rais itu. Faisal merasa bahwa PAN tidak pas lagi dengan suara hati nuraninya. Sampai awal 2001 ia belum lagi berpartai, meski banyak partai bersedia menampungnya, misalnya Partai Kebangkitan Bangsa.
Obsesi muncul dalam diri Faisal setelah sekitar tiga tahun di dalam partai: mendirikan sekolah partai. Menurut anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha ini, banyak anggota maupun pengurus partai yang sok tahu cara berpartai dan berpolitik yang baik. Tak jelas, apakah obsesinya itu akan diwujudkannya. Yang terlihat, dari hari ke hari, ekonom ini sibuk menulis, berseminar, dan rapat yang berkaitan dengan masalah-masalah ekonomi. Di samping kegiatan studinya untuk meraih doktor di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
|