JIL Edisi Indonesia

Paradoks “Islam Hadhari”

Oleh Luthfi Assyaukanie

Dua peristiwa itu merefleksikan sebuah paradoks tentang konsep “Islam Hadhari” yang dicetuskan Pak Lah, panggilan Abdullah Badawi. Paradoks karena gagasan yang beranjak dari ide pencerahan dan kebebasan itu, kini justru dikuasai oleh kaum konservatif dan ortodoks di Malaysia.

31/07/2006 | Kolom | Komentar (3) #

Ahmad Sahal: Kita Perlu Lobi Tandingan Israel

Kota-kota Palestina sudah luluh-lantak oleh tank-tank dan senjata Isreal. Lebanon juga dibuat neraka oleh serangan darat, laut, dan udara Israel yang bertubi-tubi. Tapi PBB tak berkutik. Alih-alih menitahkan Israel untuk berhenti, Amerika sebagai superpower dunia, justru tampak membenarkan tindakan biadab Israel itu. Ada apa? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) Kamis (20/7) lalu, dengan Ahmad Sahal.

31/07/2006 | Wawancara | Komentar (8) #

Nasib Demokrasi di Timur Tengah

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Dalam kasus serangan Israel yang terakhir ke Lebanon, Presiden Bush menyatakan di sela-sela pertemuan negara-negara G-8 di Rusia, Israel mempunyai hak untuk mempertahankan diri atas serangan Hezbollah. Pernyataan itu dilihat dari rentang waktu yang panjang jelas amat aneh.

28/07/2006 | Kliping | Komentar (0) #

Diskusi JIL Bulan Juni Sakralisasi Menjadi Belenggu

Oleh Umdah El-Baroroh

Turunnya Alquran tentu saja berada pada masa sejarah penulisan telah mapan. Tetapi medium tulisan, seperti kertas belum banyak dikenal. Biasanya digunakan papyrus, lontar, atau parkemen. Ketika Nabi memerintahkan penulisan wahyu kepada beberapa sahabatnya, medium-medium itu pula yang digunakan.

26/07/2006 | Diskusi | Komentar (12) #

Ajakan Putri Lebanon

Oleh M. Guntur Romli

Saat ini, saya kira, tak hanya kita yang bingung menanggapi ajakan Putri Lebanon itu; ia sendiri merasa pilu akan nasib buruk yang menimpa negerinya dalam beberapa pekan terakhir. Nanti, sepulang dari kontes ratu sejagad, ia mungkin akan meratapi kehilangan. Ia mungkin tik akan menjumpai keindahan negerinya lagi. Saat ini, Lebanon bukan lagi wajah jelita putri dunia, namun dipenuhi bopeng di mana-mana, porak-poranda, dan luluh lantak akibat senjata.

24/07/2006 | Editorial | Komentar (10) #

Muhammadiyah, Pancasila, dan Kepemimpinan Inklusif

Oleh Fajar Riza Ul Haq

Pada sisi lain, kedekatan ideologi Muhammadiyah dengan ideologi wahabisme telah memudahkan proses infiltrasi ideologi Islam politik ke dalam tubuh Muhammadiyah. Beberapa lini penting di amal usaha Muhammadiyah, utamanya institusi pendidikan, mulai dipengaruhi bahkan ditempati oleh kelompok-kelompok yang justru mencoba menggeser orientasi ideologi moderat Muhammadiyah.

24/07/2006 | Kolom | Komentar (6) #

Dr. Wahyono Raharjo: Kami Dipaksa Munafik

Setiap negara demokratis berupaya untuk menuntaskan pengakuannya atas hak-hak sipil setiap warga negara, tanpa diskriminasi apa pun. Kebebasan tiap-tiap warga negara untuk beragama dan berkeyakinan menurut apa yang mereka inginkan, dijamin oleh konstitusi sebuah negara demokratis. Bagaimana nasib hak-hak sipil kaum penghayat kepercayaan di Indonesia? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Ketua Umum Badan Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (BPKBB), Dr. Wahyono Raharjo

24/07/2006 | Wawancara | Komentar (11) #

Berharap Pada NU

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Ketika sebagian umat Islam mempertanyakan eksistensi Pancasila, lewat Muktamar NU ke 27, 8-12 Desember 1984, di Situbondo, NU mengukuhkan keputusan Munas Alim Ulama NU 1983 yang menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas bernegara. Keputusan ini mendahului kehadiran UU Nomor 8 tahun 1985 yang mengatur organisasi kemasyarakatan di negeri ini.

17/07/2006 | Editorial | Komentar (13) #

Tantangan Pluralisme dan Kebebasan Beragama

Oleh Muhamad Ali

Juli ini, Universitas Paramadina mengadakan Ceramah Memperingati Wafatnya Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan tema Islam dan Kemajemukan Indonesia. Salah satu subtemanya adalah Masa Depan Kebebasan Beragama di Indonesia.

17/07/2006 | Kolom | Komentar (6) #

Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi: Pada Akhirnya, Akal Yang Menghukumi Agama

Salah seorang sastrawan dan intelektual Mesir, Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi, pekan lalu berkunjung ke Indonesia untuk membacakan sajak-sajak berbahasa Arab-nya dalam perhelatan Indonesian International Poetry Festival di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Mohammad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL), sempat mewawancarai lulusan Sorbonne yang sempat menjadi dosen sastra Arab di Universitas Paris dan Sorbonne (1974-1990) itu. Berikut petikannya.

17/07/2006 | Wawancara | Komentar (5) #
Halaman: 22 dari 109 « First  <  20 21 22 23 24 >  Last »

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq