JIL Edisi Indonesia

Masdar F. Mas’udi: Dibutuhkan Islam sebagai Spirit

Agama dalam hal ini jelas adalah spiritnya, moralitasnya, nilai-nilai etik dan moralnya. Jadi bukan lembaga agama yang harus mengontrol negara dan bukan pula elit-elitnya. Tapi semangat religiusitasnya itu yang harus mengontrol kehidupan bernegara. Di mana letak religiusitas dan moralitas itu? Itu ada di hati nurani setiap warganegara. Tugas agama adalah membangun kesadaran kritis di kalangan umatnya untuk menjadi kekuatan kontrol terhadap negara itu sendiri.

11/08/2002 | Wawancara | Komentar (0) #

Islam Warna-Warni

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Bahwa Islam cuma satu, jelas itu adalah fakta yang terang benderang bagi siapapun. Tetapi dari yang satu itu muncul pelbagai penafsiran; akibatnya Islam pun muncul dalam wajah yang banyak pula. Tetapi dengan seluruh keragamannya itu, Islam jelas memang adalah sesuatu yang hanya satu.

11/08/2002 | Editorial | Komentar (6) #

Negara Syariat atawa Negara Sekuler?

Oleh Zuhairi Misrawi

Akankah negara ini menjadi “negara syariat” atau “negara sekuler”. Kendatipun peta politik nasional mengisyaratkan keunggulan faksi “negara sekuler”, namun sulit rasanya menghilangkan gelombang faksi “negara syariat”. Karena itu, kita mesti merayakan perbedaan tersebut dalam ruang diskursus yang kondusif dan menjauhi segala bentuk kekerasan dan pemaksaan, sehingga kita mampu mewujudkan impian bersama: menjadi bangsa yang dapat menghargai keragaman dan meritualkan kebebasan berpendapat.

11/08/2002 | Kolom | Komentar (3) #

Munir SH: Islam Harus Berpihak Pada yang Tertindas

Kalau dilihat dalam konteks itu, bisa saja agama menjadi alat resisten bagi mereka yang ditindas. Tapi, semestinya muncul tidak dalam bentuk ekstrimisme agama yang melawan terhadap sesama, yang sebetulnya tidak dapat diidentifikasi sebagai penindas. Saya sepakat kalau Islam menjadi enerji bagi kaum tertindas untuk melawan penindasan.

04/08/2002 | Wawancara | Komentar (0) #

Shazia

Oleh Novriantoni

Namanya Shazia Mirza. Dia seorang komedian perempuan yang hidup di London. Dengan bersahaja, dia memberi kontribusi non-konvensional untuk Islam dan kemaslahatan umat Islam: dengan humor.

04/08/2002 | Editorial | Komentar (1) #

Syariat Islam dan UUD 1945

Oleh Nadirsyah Hosen

partai-partai Islam hanya berkonsentrasi pada masuknya syariat Islam secara formal. Seakan-akan, dengan masuknya tujuh kata dalam Pasal 29 maka dengan sendirinya pasal-pasal lain dalam UUD 1945 akan menjadi islami. Justru kalau pasal 29 berhasil diamandemen maka akan terlihat ketidakharmonisan dengan pasal-pasal lainnya. Satu pasal akan berbau Islam sedangkan pasal lainnya berbau sekuler. Dengan kata lain, bajunya adalah Islam, namun isi badannya sekuler.

04/08/2002 | Kolom | Komentar (0) #

Orientalis Terbalik

Oleh Luthfi Assyaukanie

Para orientalis beneran yang secara membabi buta menyerang Islam tak punya dasar yang cukup kuat dari sisi historis dan sosiologis. Demikian pula para orientalis terbalik. Mereka pasti menolak argumen sosiologis dan historis. Sebab, menurut mereka, hal ini bertentangan dengan autentisitas Islam. Tapi, tentu saja kelemahan dari penolakan itu adalah meletakkan Islam dalam ruang hampa. Mengandaikan Islam selalu orisinal, antik, dan autentik sama artinya dengan membuang sebagian besar sejarah Islam.

04/08/2002 | Kolom | Komentar (0) #

Politik Tujuh Kata

Oleh Saiful Mujani

Sejumlah tokoh masyarakat dari berbagai ormas keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah beberapa hari yang lalu membuat kesepakatan amat penting tentang masalah hubungan antara agama dan negara. Persisnya, permohonan agar MPR tidak memasukan Tujuh Kata dari Piagam Jakarta ke dalam pasal 29 UUD 45. Sebagaimana diketahui umum, tujuh kata itu adalah “Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya.”

31/07/2002 | Kolom | Komentar (0) #

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA: Pendidikan Agama Harus Rasional dan Toleran

Islam yang ingin kita kembangkan adalah Islam yang kompatibel dengan modernitas. Karena, kalau kita bericara masalah modernitas, maka syaratnya adalah memiliki rasionalitas, demokratis dan toleran terhadap perbedaan, berorientasi ke depan (future oriented) dan tidak backward looking (melihat ke belakang). Inilah yang menjadi ciri modernitas. Jadi model keislaman seperti inilah yang seharusnya kita kembangkan melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam.

28/07/2002 | Wawancara | Komentar (2) #

Qasim Amien Dari Pembebasan Perempuan Menuju Pemberdayaan Perempuan Modern

Oleh Anisia Kumala Masyhadi

Pendidikan perempuan harus ditekankan pada kemandirian supaya mereka paham dan menjadi dirnyai sendiri, bukan menjadi pelayan bagi kaum lelaki saja.

24/07/2002 | Tokoh | Komentar (3) #
Halaman: 96 dari 112 « First  <  94 95 96 97 98 >  Last »

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq