
Nama : YUSTEDJO TARIK
Lahir : Jakarta, 30 Agustus 1954
Agama : Islam
Pendidikan : -SD, Jakarta (1965)
-SMP, Jakarta (1968)
-SMA, Jakarta (1971)
-STO (tingkat III)
Karir : -Juara I di Kejurnas Yunior (1977)
-Juara II di Malaysia Open (1974)
-Juara II di Malaysia Open (1975)
-Juara I di Indonesian Open (1976)
-Juara I beregu di SEA Games XI (1977)
-Juara I di Asian Games VIII (1978)
-Juara I di Pattaya Open (1980)
-Juara I SEA Games X (1979)
-Juara I Indonesia Open (1981) Juara I Davis Cup (1982)
-Juara Turnamen Tenis Toyota, Singapura (1985)
-Juara Tunggal Putra PON XI, Jakarta (1985)
Kegiatan Lain : Guru tenis privat (1978 -- sekarang)
Alamat Rumah : Jalan Bhakti VII/27, Kemanggisan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
|
|
YUSTEDJO TARIK
Ia bermaksud bermain tenis di Bangkok mengikuti turnamen Singha Beer. Segalanya telah siap. Tiket sudah dikantungi, raket tenis sudah dimasukkan ke dalam tas. Tetapi, Yustejo Tarik tidak bisa naik pesawat di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Petugas imigrasi mencegat dan melarangnya berangkat ke luar negeri. Belakangan ketahuan, petugas imigrasi ini mendapat "perintah" dari PB Pelti.
Peristiwa di bulan Februari 1984 ini segera menjadi berita besar yang berkembang berhari-hari. Berbagai tanggapan dilontarkan. Bahkan anggota-anggota DPR-RI ikut angkat bicara. Kewenangan PB Pelti meminta imigrasi menahan seseorang ke luar negeri dipersoalkan.
Pasalnya, Yustejo menolak panggilan PB Pelti untuk mengikuti seleksi Piala Davis. Alasannya, tubuh kurang fit dan sibuk membangun rumah. Ketua Umum PB Pelti, Jonosewojo, sewot dibuatnya. Yustejo diskors, tidak boleh main tenis selama setahun. Bahkan juga tidak boleh melatih tenis, dan tindakan terakhir melarang ke luar negeri itu.Yustejo kemudian mengungkapkan alasan sebenarnya tidak mau ikut seleksi, yakni kurang f12 "Yustejo itu memang tak bisa disakiti. Dari dulu tuntutannya harus dipenuhi," komentar ibunya, Sarti Tarik. Ketika masih di SD Franciscus, Yustejo kecil sore harinya belajar mengaji. Suatu ketika ia mogok, karena tak suka kepada guru mengajinya. "Guru itu galak, pokoknya ia mogok sebelum dicarikan guru baru," kata Sarti Tarik lagi.
Dari kakeknya, ia mendapat nama Mohammad Besar Yustejo Tarik. Tetapi, ketika SMA, Yustejo membuang kata Besar itu. "Nama kok pakai besar, jelek amat," alasannya. Sikap urakan seperti itu tetap dibawanya ke lapangan. Ia tidak segan memaki penonton kalau dianggap mengganggu konsentrasinya bermain. Namun, Yustejo telah mengukir namanya sebagai pemain tenis terbaik di negeri ini. Prestasinya terakhir, di PON XI, September 1985. Di partai tunggal putra, ia membabat rekannya sekontingen, Tintus Arianto Wibowo, dengan 4-6, 6-4, 6-4.
Ia beristrikan petenis nasional, Elfira, dan punya dua putri. Penghasilan Yustejo melimpah dari perusahaan iklan, dan tentu saja dari berbagai hadiah yang dimenangkannya lewat ayunan raket tenis.
|